Di usianya yang baru tujuh tahun, Chris Glorya Telaumbanua, yang akrab dipanggil Glory sudah harus menghadapi pergumulan yang tidak mudah bagi seorang anak.
Di ASM GKO Batam, para kakak pembina mengenalnya sebagai anak yang pendiam. Glorya jarang bicara, jarang tersenyum, dan lebih sering duduk menyendiri di sudut ruangan. Ternyata, balik sikapnya itu ada duka yang selalu ia pendam.
Mama Glory sedang dirawat karena kanker di bagian hidung. Sejak dirawat, Mama harus tinggal di rumah sakit dalam waktu yang lama, dan Papa Glorya menjaganya sehingga Glory tidak bisa tinggal bersama mereka.
Akhirnya Glory diasuh oleh om, tante, dan neneknya. Setiap kali melihat teman-temannya pulang sambil menggandeng tangan mama mereka, Glory hanya bisa berkata pelan, hampir tak terdengar, “Aku rindu mama…”
Terkadang, Glory menangis diam-diam. Ia berharap bisa memeluk mamanya lagi sambil memperhatikan kamar orangtuanya yang kosong.
Kisah Ayub yang Menguatkan Hati Glory
Suatu hari, ASM mengadakan nonton bareng Superbook. Episode yang ditayangkan adalah kisah Ayub, seorang hamba Tuhan yang tetap setia meski hidupnya dipenuhi kehilangan dan penderitaan.
Glory memperhatikan kisah Ayub dengan sungguh-sungguh. Ia melihat Ayub yang kehilangan harta, keluarga, kesehatan, tetapi tetap tidak meninggalkan Tuhan.
Cerita itu menyentuh hati Glory dan membuatnya teringat Mama. Hatinya terasa sesak seperti menahan sesuatu yang besar.
Saat kakak sekolah minggu bertanya, “Siapa yang mau sharing?” Tiba-tiba tangan kecil Glory terangkat.
Dengan suara pelan namun penuh keyakinan, ia berkata, “Aku mau seperti Ayub. Walau Mama sakit… aku mau tetap percaya Tuhan pasti sembuhkan Mama.”
Semua yang mendengar terdiam sejenak. Kalimat itu sederhana, tetapi keluar dari hati seorang anak yang sedang belajar percaya di tengah rindu yang tidak terucapkan.
Glory Belajar Berdoa dengan Berani
Dulu Glory hanya diam ketika berdoa, ia menunduk tanpa suara. Tapi sejak menonton Superbook, ia mulai membuka mulutnya sendiri. Meski singkat, Glory sekarang berdoa dengan yakin.
“Tuhan, tolong sembuhkan Mama. Amin,” doa Glory yang ia ulang terus setiap hari.
Perlahan, Glory berubah. Bukan karena situasinya menjadi mudah, tetapi karena imannya semakin kuat.
Glory sekarang berani bernyanyi, mengangkat tangan saat berdoa, dan mulai bermain dengan teman-temannya. Mereka bahkan berkata bahwa Glory kini lebih sering tersenyum.
Kerinduan Glory belum hilang. Ia tetap merindukan hangatnya pelukan Mama setiap hari. Tetapi kini ia tidak lagi membawa rindunya dalam diam. Ia membawanya kepada Tuhan.
Glory mungkin masih kecil, tetapi imannya besar. Superbook membantu membuka hatinya untuk melihat bahwa Tuhan selalu mendengar yang dirindukannya.
Melalui Superbook, semakin banyak anak seperti Glory mengalami penguatan iman dan pengharapan baru di tengah pergumulan mereka. Ayo dukung pelayanan ini agar lebih banyak hati kecil disentuh dan dikuatkan oleh Firman Tuhan.
Sumber : Jawaban.com