Putri kecil dari Gunungsitoli ini baru sembilan tahun. Usianya masih sangat muda, tapi hidup sudah lebih dulu memberi beban yang berat di pundaknya.
Mamanya sudah meninggal ketika Putri masih kecil. Sejak itu, ia hanya tinggal bersama bapak, dua kakak dan satu adiknya. Kakak pertama sudah tamat SMA dan tidak melanjutkan sekolah, kakak kedua duduk di kelas 3 SMA, sementara Putri sendiri masih kelas 3 SD.
Ayah mereka, Pak Alfenus, bekerja sebagai tukang becak. Setiap hari ia mengayuh becaknya di jalanan Gunungsitoli demi menghidupi keempat anaknya. Kalau sedang “untung belada” (lumayan ramai penumpang), kebutuhan harian masih bisa tertutup. Tapi untuk memikirkan biaya sekolah anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi? Di mata manusia, rasanya Pak Alfenus tidak akan mampu dengan penghasilan hanya sebagai tukang becak.
Baca Juga: Pertemuan Maris dengan Kisah Salib yang Mengubah Sikapnya
Namun di tengah keterbatasan itulah, Tuhan sedang menumbuhkan satu mimpi besar di hati anak berusia 9 tahun ini yaitu ia punya mimpi ingin menjadi seorang dokter. Sejak dulu, waktu mamanya masih hidup, Putri sering berkata, “Aku mau jadi dokter nanti." Mimpi ini bukan sesuatu yang mustahil bagi Putri karena di sekolah dia mendapat nilai yang terbilang bagus. Karena dia memang suka belajar, apalagi dia juga dibantu dengan kehadiran Sanggar Belajar School of Life yang berlokasi dekat dengan rumahnya - membuat Putri begitu terbantu di dalam belajar khususnya Matematika dan pelajaran bahasa.
Namun bagi seorang ayah yang hanya bekerja sebagai tukang becak, mendengar anaknya bercita-cita menjadi dokter adalah sesuatu yang terdengar seperti mimpi yang terlalu tinggi. Untuk biaya sekolah hingga ke tingkat SMA saja sulit, apalagi menyambut sekolah hingga kuliah kedokteran bagi pak Alfenus sangat tidak mungkin. Namun, setiap kali mendengar putri kecilnya menyampaikan mimpinya ia tidak pernah mematahkan semangat Putri. Dengan lembut ia hanya berkata jujur soal ekonomi yang belum ada, tapi tetap mendukung mimpinya.
“Biar ekonomi belum cukup, jangan dipatahkan hatinya sekarang. Masih kecil,” ungkap pak Alfenus.
Namun di tengah semua keterbatasan keluarganya, Tuhan sedang menyiapkan satu momen berharga yang mengubah cara Putri memandang mimpinya.
Hari Saat Putri Menonton Superbook: “Sang Mujizat”
Suatu hari, di bulan Oktober, seperti biasa anak-anak di School of Life di GIC Gunungsitoli berkumpul untuk menonton Superbook. Program ini memang rutin mereka tonton sekali seminggu. Hari itu, mereka menonton salah satu episode yang berjudul “Sang Mukjizat” — kisah tentang Yesus yang melakukan mukjizat.
Setelah tayangan selesai, para tutor menjelaskan isi cerita dan memberi kesempatan anak-anak untuk bertanya dan berbagi. Di momen itulah, sesuatu terjadi di hati Putri. Saat ditanya, apakah ia percaya Yesus bisa membuatnya jadi dokter, Putri menjawab tegas: “Percaya. Karena Yesus mampu membuat mukjizat.”
Baca Juga: Dulu Insecure Karena Rambut Keriting, Kini Jadi Alasan Syaloom Jadi Anak yang Bersyukur
Di usianya yang masih sangat belia, ia memegang satu kebenaran ini erat-erat: Yesus sanggup membuat mukjizat, termasuk dalam hidup dan masa depannya.
Hari ini, Putri terus giat belajar dan berharap dengan iman yang ia pegang kepada Tuhan ia bisa menggapai mimpinya.
Ini adalah satu dari sekian anak yang dijangkau hatinya melalui kurikulum Superbook Indonesia di gereja-gereja lokal. Kami rindu akan ada banyak anak yang imannya semakin bertumbuh karena injil mengjangkau hati mereka.
Jika Anda ingin mendukung Putri dan jutaan anak lainnya, yuk bagikan donasi Anda dengan klik link di bawah ini.