Dari Tuntutan Menjadi Dukungan, Perjalanan Ibu Erni Membangun Kedekatan Dengan Anak
Sumber: Jawaban.com

Family / 20 November 2025

Kalangan Sendiri

Dari Tuntutan Menjadi Dukungan, Perjalanan Ibu Erni Membangun Kedekatan Dengan Anak

Lori Official Writer
2917

Tidak ada orangtua yang benar-benar bisa menerima jika anaknya memilih menarik diri dari dunia yang harusnya dia bisa eksplorasi. Namun perubahan drastis inilah yang dialami putri sulung pasangan Ibu Erni dan Pak Andi. Mereka memang mengakui jika sejak kecil putri mereka - yang kini sudah beranjak remaja adalah sosok yang tertutup dan pemalu. Namun ibu Erni semakin diserang rasa kuatir sejak putrinya semakin menarik diri dari dunia luar sejak masa pandemi yang lalu.

Yang paling membuat hati ibu Erni sedih, bahkan untuk ke sekolah minggu pun dia mulai memilih tidak mau ikut. Padahal, mereka berdua bukan orangtua yang cuek. Mereka aktif melayani di gereja, tetapi ketika menyentuh dunia batin anaknya sendiri, mereka seperti berjalan dalam gelap—tak tahu arah, tak tahu harus mulai dari mana.

 

Baca Juga: Perubahan Kecil, Berdampak Besar. Kisah Srianita Membawa Keluarga Lebih Dekat dengan Tuhan

 

Ibu Erni menyadari karakter putri sulung rupanya terbentuk dari pola asuh di usia balita. Ia diasuh dengan cara yang sangat protektif dan penuh dengan batasan. Sehingga tanpa sadar, batasan-batasan itu menjadi tembok yang membentuk kepribadiannya hingga remaja—membuatnya tertutup, sulit dekat dengan orang lain, dan butuh waktu lama untuk percaya. “Dari pola asuh itu aku sadar anakku seperti ini,” ujar Ibu Erni.

Ia mengaku karakter putrinya itu sangat berbeda dengan anak keduanya, yang lebih berani dan percaya diri. Sebagai seorang ibu, dia mulai dihantui dilema. Ia ingin kedua anaknya sama-sama mandiri, berani, dan aktif. Sehingga tanpa sadar keinginan itu justru berubah menjadi sebuah tuntutan. “Kadang aku nuntut juga. ‘Kamu kok pendiam banget? Kamu kok pemalu banget?’” kenangnya.

Dari sanalah konflik muncul - keinginan seorang ibu dan keterbatasan anak saling beradu dan membuat hubungan mereka menjadi terasa lebih jauh.  

Sampai akhirnya mereka bertemu program The Parenting Project dan membuka mata mereka akan banyak pelajaran berharga tentang pengasuhan anak. Bagi mereka, ini bukan sekadar kelas. Ini adalah cermin—yang memperlihatkan pola lama, luka lama, dan warisan pengasuhan yang ternyata menurun tanpa sengaja.

Lewat modul-modul yang ada, terutama “Membangun Kedekatan”, Ibu Erni menyadari satu hal penting: selama ini, ia sedang mengikuti jejak pola asuh ayahnya sendiri—seorang pria pekerja keras yang jarang ada di rumah, tapi penuh tuntutan. Ia merasa harus menjadi anak yang “sesuai keinginan”, namun tak pernah melihat teladan yang dekat dan membangun hubungan. Dari sinilah ia mengerti bahwa perubahan tidak dimulai dari anak. Perubahan dimulai dari orangtua!

“Kalau kita mau ngubah anak, kita harus mengubah diri kita sendiri. Jadi orangtua harus jadi contoh,” ungkapnya.

 

Baca Juga: Proses Ibu Grace dan Suami Dipulihkan untuk Menjadi Orang Tua Sepanjang Masa

 

Pelan-Pelan, Rumah Itu Berubah

Sejak mengikuti The Parenting Project, Ibu Erni dan Pak Andi dengan kompak mulai membangun sebuah kebiasaan baru untuk "Membangun Kedekatan" dengan kedua anak-anak mereka. Seperti ketika pulang kerja, ia memilih menaruh ponsel di kamar dan fokus memeriksa anak-anak—bagaimana hari mereka, pelajaran sekolah, apa yang mereka rasakan. Dan untuk mendorong keterbukaan dan keakraban dengan putri sulungnya, ia bahkan membeli permainan tradisional agar mereka bisa berkumpul dan bermain bersama.

“Walau sesibuk apapun, pulang kerja seperti sekarang, ya HP tinggal di kamar. Aku langsung ngecek dia. Dia ngapain aja di sekolah seharian, terus memeriksa pelajaran dia, terus kalau ada waktu ya kita main karena aku beli permainan tradisional - kayak remi terus yang permainan-permainan gitu. Supaya anakku tuh bisa main sama aku, sama suamiku, sama utiknya di rumah, bisa kumpul ketawa bareng."

Sementara di sisi lain, Pak Andi juga terus hadir mendorong Putri Sulungnya untuk lebih terbuka dengan menjadi ayah yang selalu hadir. “Kita belajar meluangkan waktu meskipun sibuk jualan. Ketika anak bertanya sesuatu, kita belajar mendengar dan mengarahkan.”

Perubahan itu tidak instan. Putri sulung mereka masih pemalu, masih tertutup. Tapi suasana rumah kini berbeda. Mereka punya momen kumpul rutin di malam hari, weekend sebagai waktu keluarga, dan mezbah doa harian yang mengikat mereka semakin erat. “Kalau Sabtu atau Minggu, habis ibadah, kami selalu luangkan untuk keluarga. Itu selalu jadi prioritas,” kata Ibu Erni.

 

Baca Juga: Dulu Sering Adu Argumen Karena Selalu Turuti Mau Anak, Kini Pak Luki Berubah Karena Ini...

 

Pemulihan yang Perlahan Tapi Pasti

Bagi Ibu Erni dan Pak Andi, The Parenting Project bukan hanya membantu mereka memahami anak. Program ini menata ulang keluarga mereka—mengangkat luka lama, menyembuhkan hubungan, dan mengajarkan mereka bagaimana menjadi orangtua yang hadir, bukan sekadar menuntut.

“The Parenting Project itu luar biasa. Bagus sebagai bekal membangun keluarga harmonis. Semoga bisa menjangkau lebih banyak orang, supaya banyak keluarga-keluarga diselamatkan,” pungkas Ibu Erni.

Perjalanan mereka mungkin belum selesai. Namun kini, mereka tidak lagi berjalan dalam gelap. Ada arah, ada harapan, dan ada keluarga yang sedang dipulihkan — perlahan tapi pasti.

 

Ingin mengalami perubahan seperti keluarga ibu Erni dan bapak Andi? Ikuti The Parenting Project dan mulai perjalanan baru dalam membangun keluarga.

Daftarkan gereja Anda di website The Parenting Project.

https://theparentingproject.id/

 

Halaman :
1

Ikuti Kami