Tahukah Anda, meski Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani dan Yunani, banyak momen penting dalam pelayanan Yesus justru menggunakan bahasa Aram dan menjadi bahasa ibu yang Yesus gunakan sehari-hari.
Menariknya, beberapa kata Aram itu tidak hanya menyimpan makna teologis yang dalam dan tidak tergantikan. Sampai saat ini, masih ada beberapa kata-kata Yesus dalam bahasa Aram yang masih digunakan hingga saat ini.
Berikut 5 kata Bahasa Aram yang masih dipakai hingga saat ini:
1. Abba — Panggilan Intim kepada Bapa
Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." (Markus 14:36)
Di Taman Getsemani, Yesus memanggil Allah dengan sebutan Abba, sebuah panggilan Aram yang sangat hangat dan personal, mirip dengan “ayah” atau “ayahku tersayang.”
Melalui panggilan ini, Yesus menunjukkan relasi yang begitu dekat dengan Bapa di surga. Kabar baiknya, kita pun menerima Roh yang sama, sehingga boleh datang kepada Allah dengan kedekatan yang serupa dan memanggil-Nya dengan cara yang sama (Roma 8:15).
Abba mengingatkan kita bahwa iman Kristen bukan sekedar agama yang formal, melainkan hubungan kasih antara anak dan Bapa.
2. Maranata — Seruan Rindu akan Kedatangan Kristus
“Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranata!” (1 Korintus 16:22)
Kata Maranata tersusun dari dua kata Aram, marana (Tuhan kami) dan ta (datanglah). Secara keseluruhan, Maranata berarti “Tuhan kami, datanglah!”
Bagi jemaat mula-mula yang mengalami tekanan dan penganiayaan, kata ini menjadi ucapan doa dan pengharapan ketika hidup di tengah panganiayaan dan penantian akan kedatangan Krisuts kembali.
Setiap kali mereka mengucapkan “Maranata!”, mereka menyatakan iman bahwa Yesus akan datang kembali untuk memulihkan dunia.
Hingga kini, Maranata mengingatkan kita untuk tidak terjebak pada hal-hal yang sementara, tetapi tetap menantikan kedatangan Sang Raja yang membawa keadilan dan damai sejahtera.
3. Rabbuni — Guru yang Dihormati dan Dikasihi
Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. (Yohanes 20:16)
Rabbuni adalah sebutan Aram yang lebih mendalam dari sekadar rabi. Kata ini memuat penghormatan pribadi sekaligus kasih.
Ketika Maria Magdalena menyebut Yesus sebagai Rabbuni setelah kebangkitan-Nya, itu adalah ungkapan cinta, hormat, dan pengakuan bahwa Gurunya telah hidup kembali.
Yesus bukan hanya pengajar; Ia adalah Guru kehidupan yang membentuk hati murid-murid-Nya melalui hubungan yang intim dan penuh kasih.
4. Eli, Eli, lama sabaktani — Doa Penderitaan yang Penuh Iman
“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46)
Seruan Yesus di kayu salib ini bukan sekadar jeritan putus asa. Dalam bahasa Aram, Eli, Eli, lama sabakhtani adalah doa penderitaan yang dalam, sekaligus kutipan dari Mazmur 22.
Di momen itu, Yesus memikul dosa seluruh manusia dan mengalami keterpisahan dari Bapa, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ungkapan ini menunjukkan betapa Yesus sungguh merasakan penderitaan manusiawi, dan pada saat yang sama, Ia menggenapi nubuatan Mesias yang menanggung dosa dunia.
5. Talita kum — Suara Lembut yang Membangkitkan Kehidupan
“Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"” (Markus 5:41)
Talita berarti anak perempuan kecil, dan kum berarti bangunlah. Ketika Yesus memegang tangan anak Yairus dan mengucapkan kata-kata ini, itu menjadi suara kehidupan yang menembus batas kematian.
Menariknya, Markus menuliskan perkataan ini persis dalam bahasa Aram—kemungkinan karena para saksi mata masih mengingat jelas bagaimana Yesus mengucapkannya.
Peristiwa ini memperlihatkan keindahan kombinasi antara kuasa dan kelembutan Yesus. Ia memulihkan, bukan hanya dengan otoritas, tetapi dengan hati seorang Bapa yang penuh kasih.
Kata-kata Aram dalam Alkitab bukan sekadar ornamen linguistik. Mereka adalah jendela yang memperlihatkan bagaimana Yesus berbicara dengan kasih, kelembutan, kedekatan, dan otoritas ilahi.
Dari Abba hingga Talita kum, kita melihat gambaran Yesus yang penuh belas kasih, pengharapan, pengorbanan, dan kuasa yang membawa kehidupan.
Berikut video: Alasan Kenapa 5 Bahasa Aram yang Ungkapkan Hati Yesus Masih Digunakan Hingga Kini
Sumber : YouTube Jawaban Channel