Tidak semua orang bertemu Yesus melalui mimbar gereja atau ajakan seseorang. Ada yang dijumpai Tuhan di tengah doa, ada yang dijamah lewat firman, dan ada pula yang dipanggil melalui peristiwa hidup yang mengguncang batin. Namun bagi Alvia, pertemuan itu dimulai dengan sesuatu yang jauh lebih misterius: sebuah suara yang datang di tengah malam, tepat ketika hidupnya terasa hampa.
Alvia dibesarkan dalam keluarga muslim yang taat. Ia menganggap keyakinannya sudah final dan tidak pernah membuka ruang untuk pertanyaan lain. Namun setelah menikah di usia 19 tahun dan menghadapi perpisahan di usia 21, hidupnya mulai memasuki fase yang sulit. Ia harus membesarkan anak seorang diri, memikul beban keluarga sebagai anak bungsu, dan menghadapi kesunyian yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Secara luar, ia tampak kuat. Namun di dalam, ia mulai merasakan kehampaan yang tidak bisa dijelaskan.
BACA JUGA: Menolak Kemoterapi, Saya Yakin Tuhan Menolong Saya
Hingga suatu malam di tahun 2020, saat pikirannya penuh kegelisahan, sesuatu terjadi. Alvia tidak sedang tidur. Tidak sedang bermimpi. Ia hanya terdiam di tempat tidur, ketika tiba-tiba terdengar suara yang begitu nyata, begitu jelas:
“Bersama-Ku kamu akan menemukan kedamaian dalam hidup.”
Ia terkejut. Suara itu bukan dari manusia. Bukan hasil pikiran. Bahkan bukan sesuatu yang ia harapkan. Namun kalimat itu membawa rasa damai yang tidak pernah ia temukan sebelumnya. Suara itu datang lagi pada malam berikutnya, dengan kata-kata yang sama. Dan sejak saat itu, hidupnya tidak lagi tenang—bukan karena takut, tetapi karena ia merasa seolah-olah sedang dicari.
Yang membuatnya semakin bingung, suatu kali tangannya terangkat dengan sendirinya, dan bibirnya mengucap tanpa bisa dikendalikan: “Aku percaya… Yesus Kristus.” Padahal sebelumnya ia bukan hanya tidak percaya, ia menolak dan menentang nama itu. Tetapi ucapan itu keluar seolah-olah dari dalam jiwanya yang paling dalam.
BACA JUGA: Pentingnya Kesatuan Orang Tua Bagi Seorang Anak
Selama satu tahun, ia menyimpan semuanya sendirian. Ia tidak berani bercerita kepada pasangannya, keluarganya, atau siapa pun. Ia takut dianggap berpindah iman. Ia takut dicemooh. Ia bahkan takut pada dirinya sendiri karena ia tidak mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan.
Namun di sisi lain, ia mulai mengalami mimpi demi mimpi, penglihatan, bahkan suara batin yang terus memanggilnya. Sampai akhirnya, pada masa Paskah 2021, ia memberanikan diri masuk ke gereja untuk pertama kalinya. Tidak ada yang tahu perasaannya saat itu. Ia duduk, mendengarkan pujian, dan seketika air matanya mengalir tanpa henti. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa damai yang muncul begitu kuat. Ia merasa rasa kangennya terobati. Tapi ia masih menyangkal, belum sepenuhnya percaya. Semakin hari, suara-suara yang muncul adalah suara dengan bahasa Roh. Ia sampai merasa terdesak dan seperti orang gila karena bicara sendiri menaggapi suara-suara yang didengarnya di kamar kos.
Sumber : Jawaban.com