Belajar Ubah Pola Asuh, Bapak Bagus dan Istri Kini Makin Dekat dengan Anak-Anaknya
Sumber: dok. Istimewa

Family / 28 October 2025

Kalangan Sendiri

Belajar Ubah Pola Asuh, Bapak Bagus dan Istri Kini Makin Dekat dengan Anak-Anaknya

Claudia Jessica Official Writer
2515

Bagi Bapak Bagus Dwi Cahyono (44 tahun), perjalanan menjadi orang tua ternyata tak berhenti hanya di saat anak-anak masih kecil. Bersama istrinya, Ibu Ira, mereka baru benar-benar memahami makna mengasuh yang sesuai dengan kehendak Tuhan setelah mengikuti The Parenting Project (TPP) di Gereja IFGF Magelang, tempat mereka kini melayani bersama tiga anaknya.

Sebelum mengikuti TPP, pola asuh mereka masih banyak dipengaruhi oleh cara orang tua dulu. Mereka terbiasa menuntut anak-anak untuk patuh tanpa banyak penjelasan, karena merasa “begitulah seharusnya.”

 

BACA JUGA: CBN Luncurkan The Parenting Project di Pekanbaru, Gereja Sambut dengan Antusias!

 

Namun, setelah mengikuti TPP, keduanya menyadari bahwa tidak semua pola lama sesuai dengan nilai-nilai Alkitab. Menurut Bapak Bagus, dulu mereka sering menasihati anak-anak tanpa memberi ruang bagi mereka untuk mengungkapkan pendapat. Tapi kini mereka belajar bahwa anak juga perlu didengar dan dihargai.

“Kebanyakan mungkin kami mengikuti pola asuh orang tua kami kepada anak-anak. Tapi semua itu belum tentu benar dan baik di mata Tuhan” kata Bagus.

Bagus bersama istrinya, sama-sama menyadari bahwa setiap modul The Parenting Project membantu mereka lebih mengerti bagaimana cara mendidik anak seperti yang Tuhan mau.

“Dengan adanya The Parenting Project, kami lebih mengerti bagaimana mendidik anak-anak seperti yang Tuhan mau,” ungkap Bagus.

Perubahan besar juga dirasakan oleh Ibu Ira. Ia tumbuh dari keluarga single parent dan dibesarkan dengan pola yang perfeksionis. Tanpa disadari, hal itu terbawa dalam cara ia mendidik anak-anaknya.

 

BACA JUGA: Buah Pelayanan CBN 26 Tahun, Segarkan Kembali Panggilan Mitra CBN di Mitra Gathering

 

“Dulu saya menuntut anak-anak selalu sempurna, seperti saya dulu dididik,” ceritanya. Tapi lewat pembelajaran di TPP, ia mulai belajar bahwa kegagalan itu juga perlu dipelajari oleh anak-anaknya.

Contohnya ketika ia menemani anak bungsunya bermain puzzle. Dulu, Ira lebih menekankan bahwa anaknya harus bisa menyelesaikan semua dengan sempurna.

“Sekarang kami bisa memberi pengertian bahwa kalah itu tidak apa-apa, kalau kalah diulang saja. Yang penting mau berusaha lagi. Dari situ anak kami belajar tentang sportivitas dan cara mengelola emosi saat gagal,” ungkapnya

Pasangan suami istri secara kompak sangat tersentuh dengan modul “Orangtua Sepanjang Masa” yang mengubahkan cara pandang mereka.

Melalui materi ini, mereka belajar bahwa setiap fase kehidupan anak adalah kesempatan untuk menemani, menuntun, lalu perlahan melepaskan dengan percaya penuh kepada Tuhan.

 

BACA JUGA: Ibu yang Dulu “Pilih Kasih”, Sekarang Belajar Mengasihi Tanpa Syarat

 

Dulu, kekhawatiran soal masa depan anak-anak sering menghantui mereka. Tapi sekarang, mereka belajar berserah. Bagi Bagus, inilah momen penting ketika ia menyadari bahwa Tuhanlah yang menuntun langkah anak-anak mereka.

“Selama ini, kami sering khawatir soal masa depan anak, pekerjaannya nanti apa, kariernya bagaimana. Tapi di modul itu dijelaskan bahwa ada masa menemani, menuntun, dan melepas. Dengan memahami hal itu, saya jadi bisa lebih berserah. Kami sekarang lebih yakin bahwa Tuhanlah yang menuntun masa depan dan karier anak-anak kami,” ungkapnya dengan rasa syukur.

Selain itu, modul tentang “Mengisi Tangki Emosi Anak” juga membuka pandangan baru bagi mereka. Dulu, saat anak marah atau tantrum, mereka cenderung ikut emosi. Kini, mereka belajar memahami kebutuhan hati anak lebih dulu sebelum bereaksi.

 

BACA JUGA: Ratusan Orang Tua Telah Diwisuda dan Siap Jadi Agen Pemulihan Keluarga!

 

Perubahan kecil ini ternyata berdampak besar pada suasana rumah tangga. Hubungan keluarga mereka kini jauh lebih hangat dan terbuka. Saat makan malam, suasana rumah dipenuhi obrolan ringan dan tawa. Anak-anak lebih berani mengungkapkan perasaan mereka, sementara orang tua belajar mendengar dengan hati.

“Sekarang kami bisa tahu apa yang mereka alami di sekolah atau di pergaulan,” kata Bapak Bagus. “Hubungan kami jadi lebih akrab.”

Pasangan ini menyadari bahwa perubahan sejati dimulai dari diri sendiri. “Saya tahu Tuhan mau ubah saya dulu, baru keluarga saya,” ungkap Ira.

Benar saja, sejak hati mereka diubahkan, suasana keluarga pun ikut dipulihkan.

Pasangan ini memiliki kerinduan untuk memperkenalkan TPP kepada lebih banyak keluarga. “Kami sudah merasakan sendiri manfaatnya,” kata Ibu Ira dengan senyum. “Rasanya sayang kalau tidak dibagikan ke orang lain.”

Jika Anda ingin mengetahui The Parenting Project lebih lanjut atau ikut pelatihan parenting ini, kunjungi https://theparentingproject.id/ untuk informasi lebih lanjut.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami