Ibu yang Dulu “Pilih Kasih”, Sekarang Belajar Mengasihi Tanpa Syarat
Sumber: dok. Istimewa

Family / 26 October 2025

Kalangan Sendiri

Ibu yang Dulu “Pilih Kasih”, Sekarang Belajar Mengasihi Tanpa Syarat

Claudia Jessica Official Writer
2090

Rionensih Nababan (50), seorang ibu dua anak yang tinggal di Pekanbaru, dulu merasa hubungannya dengan anak-anak, terutama anak sulungnya, tidak sehangat hubungan antara orangtua-anak yang seharusnya.

Anak pertamanya kini berusia 23 tahun, sementara anak bungsunya 21 tahun. Ia aktif berjemaat di GPdI Immanuel Adi Sucipto, Pekanbaru.

Sebagai seorang ibu yang juga sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Rionensih terbiasa memandang kasih berdasarkan tindakan. Ia mengaku lebih mengasihi anak bungsunya yang penurut, sementara hubungan dengan anak sulungnya terasa jauh dan dingin.

“Terus terang saya dulu hanya mengasihi karena alasan,” ujarnya. “Kalau anak saya baik, saya sayang. Tapi kalau dia tidak sejalan dengan saya, saya jadi cuek. Bahkan kadang kalau dia pulang malam, saya biarkan saja, tanpa peduli.”

Awalnya, Ibu Rionensih mengira The Parenting Project (TPP) hanya cocok untuk para orangtua muda yang masih memiliki anak kecil. Namun setelah ikut pertemuan kedua di gereja, ia tersentuh dan sadar bahwa program ini justru relevan untuk semua orangtua, tak peduli berapa usia anak-anak mereka.

“Baik yang muda maupun yang sudah berusia seperti saya, ternyata semuanya bisa belajar. Saya sangat diberkati,” katanya.

Salah satu modul yang paling mengubahkan hidupnya adalah ketika mempelajari modul tentang Tangki Emosi Anak. Akronim KASIH yang ada di dalam modul tersebut, khususnya huruf I yang berarti Investasi Waktu sangat menyentuh Rionensih secara pribadi.

“Sebelum ikut TPP, saya sibuk sekali. Saya pikir, anak saya sudah dewasa, jadi tidak perlu lagi diperhatikan. Saya hanya fokus kerja, masak, dan merasa itu sudah cukup. Tapi ternyata saya salah besar,” ungkapnya jujur.

Ia juga mengaku selalu menyiapkan makanan untuk keluarganya, tetapi tidak pernah bertanya apakah anak-anaknya sudah makan atau belum. Baginya, yang terpenting adalah memenuhi salah satu tugasnya sebagai orang ibu untuk menyediakan makanan bagi keluarganya.

Namun, setelah belajar di The Parenting Project, Rionensih mulai mengubah kebiasaan kecil dalam kesehariannya. Ia belajar meluangkan waktu, memberikan perhatian dengan menanyakan kabar anaknya, bahkan menyambutnya saat pulang larut malam.

“Sekarang kalau dengar suara motornya malam-malam, saya bangun dan bukakan pintu. Kalau dulu, saya biarkan saja. Karena saya pikir, dia kan punya kunci sendiri. Tapi sekarang saya ingin dia tahu, Mamanya menunggu,” tuturnya haru.

Perubahan itu membuahkan hasil yang luar biasa. Hubungan yang dulu renggang, kini menjadi lebih hangat layaknya hubungna orangtua-anak.

“Puji Tuhan, anak saya yang dulu tertutup, sekarang sudah mau cerita. Kalau saya WA, dia balas. Kalau saya telepon, langsung diangkat. Bahkan dia minta saya doakan pekerjaannya,” ucapnya bersyukur.

Bagi Rionensih, The Parenting Project bukan sekadar pelatihan pengasuhan, tapi kesempatan Tuhan untuk memperbarui hatinya sebagai ibu.

“Setelah itu saya disadarkan, serepot apapun kita, sebanyak apapun pekerjaan kita, memang di atas segalanya itu harus didoakan. Karena doa bisa mengubah segalanya,” ucapnya.

“Kalau selama ini saya mengajari anak saya hanya lewat emosi, lewat perkataan, lewat marah-marah, tidak ada dampaknya, tidak berguna. Tetapi lewat investasi waktu yang saya berikan dan lewat berdoa untuk anak, itu bisa membawa perubahan besar bagi keluarga kami,” lanjutnya lagi.

Melalui The Parenting Project, banyak orangtua seperti Ibu Rionensih dipulihkan dan belajar mengasihi anak-anak dengan cara Tuhan.
Kalau Anda juga rindu mengalami perubahan serupa dalam keluarga, pelajari lebih lanjut di https://theparentingproject.id/

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami