Alvaro, anak berusia 9 tahun, dikenal sebagai anak yang ceria dan aktif di Sekolah Minggu. Ia senang bernyanyi, berdoa, dan belajar firman Tuhan bersama teman-temannya. Tapi di balik keceriaannya, ada satu pengalaman yang membuatnya belajar arti pengampunan dengan cara yang tidak mudah.
Suatu hari di School of Life, Alvaro sedang bersiap untuk menonton tayangan Superbook bersama teman-temannya. Namun tiba-tiba, salah satu teman memanggilnya dengan sebutan kasar dalam bahasa Nias — “Sogai Gito,” yang berarti penyadap karet. Kata-kata itu ditujukan karena Alvaro berbadan gendut dan berkulit hitam.
Ia merasa malu, marah, tersinggung, dan sakit hati. Tanpa berpikir panjang, Alvaro mendorong dan memukul temannya itu. Teman-teman serta guru segera melerai, tapi amarah dan rasa sakit hati itu tidak langsung hilang.
Alvaro berpikir kenapa temannya melakukan hal jahat itu, padahal sebelumnya baik-baik saja.
Beberapa waktu kemudian, di Sekolah Minggu, Alvaro kembali menonton tayangan Superbook. Kali ini kisahnya tentang Daud dan Saul. Di situ Alvaro melihat bagaimana Saul membenci Daud dan ingin membunuhnya, padahal Daud tidak bersalah.
Namun yang paling menyentuh hati Alvaro adalah saat Daud punya kesempatan untuk membalas dendam, tetapi ia tidak melakukannya dan justru memilih untuk memaafkannya.
Saat itu Alvaro terdiam. Ia merasa Tuhan berbicara langsung ke hatinya.
“Kalau Daud saja bisa memaafkan Saul yang mau membunuhnya, kenapa aku nggak bisa memaafkan Adrel?” gumamnya dalam hati.
Keesokan harinya, dengan hati berdebar, Alvaro memberanikan diri mendatangi teman yang mengejeknya. Ia memantapkan hati dan dengan jujur menyampaikan perasaannya kepada temannya.
Ia meminta maaf karena sudah mukul temannya dan menyampaikan bahwa dirinya tidak suka dibully serta memberitahu temannya bahwa Tuhan tidak suka jika anak-anakNya saling menyakiti.
Temannya pun menunduk dan ikut meminta maaf. Ia juga berjanji untuk tidak mengejeknya lagi. Sejak saat itu, keduanya berdamai dan kembali bermain bersama.
Alvaro belajar satu hal penting, bahwasannya memaafkan memang tidak mudah, tapi ketika ia memilih taat pada firman Tuhan, hatinya menjadi lebih tenang. Ia sadar, Tuhan ingin setiap anak hidup dalam kasih, bukan dalam dendam.
Kini, Alvaro tumbuh menjadi anak yang lebih sabar dan berani mengasihi. Ia belajar dari Daud, bahwa keberanian sejati bukanlah saat kita membalas, tetapi ketika kita memilih untuk mengampun.
Melalui tayangan Superbook, banyak anak seperti Alvaro belajar mengenal kasih Tuhan dan mengalami perubahan hidup. Ayo ambil bagian mendukung pelayanan Superbook supaya semakin banyak anak Indonesia bertumbuh dalam iman dan kebenaran Tuhan!
Sumber : Superbook Indonesia