Pernahkah kita membayangkan hidup dalam suatu masa di mana rasa takut adalah santapan sehari-hari, di mana bayangan konflik dan kehilangan menghantui setiap sudut kehidupan? Sejarah bangsa kita pernah mencatat babak kelam seperti itu, sebuah periode yang diwarnai gejolak dan luka.
Bagi kita sebagai orang percaya, ketika membuka lembaran sejarah yang suram, pertanyaannya bukan hanya tentang "apa yang terjadi," tetapi lebih dalam, "Di manakah Tuhan dalam semua kekacauan ini?" Jawabannya mengejutkan, bahkan di tengah kegelapan yang paling pekat sekalipun, terang-Nya tidak pernah padam. Ia bekerja dalam kesetiaan orang-orang yang berpegang pada-Nya, mengingatkan kita untuk tidak hanya melihat kengerian dari masa lalu, tetapi juga menemukan pesan penjagaan dan pengharapan ilahi di dalamnya.
Salah satu peristiwa yang menjadi memori kolektif bangsa Indonesia adalah peristiwa G30S/PKI, sebuah momen kelam yang ditandai dengan hilangnya nyawa dan tercabiknya rasa percaya antar sesama. Dalam narasi sejarah ini, kita diingatkan akan betapa rapuhnya kehidupan manusia dan bagaimana ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dapat membawa pada kehancuran. Rasa duka dan trauma dari peristiwa ini masih terasa hingga hari ini, menjadi pengingat akan betapa berharganya perdamaian dan kesatuan yang kita nikmati sekarang.
Lalu, di manakah peran kita sebagai gereja dan orang percaya dalam menyikapi memori kelam ini? Firman Tuhan dalam Amsal 28:14 berkata, "Berbahagialah orang yang senantiasa waspada." Pesan dari sejarah ini selaras dengan prinsip alkitabiah untuk selalu berjaga-jaga. Berjaga-jaga bukan berarti hidup dalam kecurigaan dan ketakutan, tetapi hidup dengan kesadaran penuh dan kebijaksanaan rohani. Itu berarti kita aktif membangun iman yang kokoh dalam Kristus, sehingga kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran atau paham yang dapat memecah belah.
Lebih dari sekadar kewaspadaan, kita diajak untuk mengandalkan Tuhan dalam segala situasi. Ketika ketidakpastian dan kekuatan jahat seolah berkuasa, kita percaya bahwa Allah adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita (Mazmur 46:2). Mengandalkan Tuhan memberikan kita ketenangan dan perspektif yang benar, bahwa kedaulatan Allah tetap berlaku atas sejarah bangsa ini. Kebergantungan penuh ini menjadi fondasi agar kita tidak terjebak dalam kebencian atau dendam atas masa lalu, melainkan dimampukan untuk mengampuni dan berjalan ke depan dengan hati yang dibarui.
Akhirnya, panggilan yang paling nyata adalah untuk membangun kesatuan. Peristiwa masa lalu mengajarkan bahwa perpecahan hanya membawa kehancuran. Sebagai warga negara dan sebagai tubuh Kristus, kita dipanggil untuk menjadi agen pemersatu. Kita adalah satu bangsa, dan sebagai saudara seiman, kita adalah satu di dalam Kristus. Kesatuan ini harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan menghargai perbedaan, menjunjung tinggi toleransi, dan aktif mempromosikan kasih yang menyatukan.
Masa lalu yang kelam tidak boleh kita ulang. Namun, kita juga tidak boleh melupakannya. Marilah kita menjadikannya sebagai batu pijakan untuk membangun masa depan yang lebih cerah, di mana terang Kristus bersinar melalui kehidupan kita menjadi garam dan terang bagi bangsa, selalu berjaga-jaga dalam iman, mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah, dan dengan tekun menjaga kesatuan yang telah Tuhan anugerahkan bagi Indonesia.
Sumber : Jawaban.com