Di balik wajahnya yang tenang dan senyumnya yang hangat, tersembunyi kekuatan seorang pejuang. Bayangkan seorang pendeta yang tidak hanya aktif melayani di mimbar, tetapi juga berjuang di bandara, menerima ratusan peti mati pekerja migran yang menjadi korban ketidakadilan. Bayangkan keberaniannya membela mereka yang tak bersuara, mengangkat derita perempuan-perempuan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terperangkap dalam jerat perdagangan orang. Inilah sosok Pendeta Emmy Sahertian, seorang pendeta yang pelayanannya melampaui tembok gereja dan menyentuh ranah kemanusiaan yang paling mendasar.
Pendeta Emmy Sahertian adalah salah satu tokoh perempuan paling inspiratif dari Nusa Tenggara Timur. Lahir dan tumbuh di Bakunase, Timor, dalam kondisi sederhana, ia memahami betul realitas kehidupan masyarakat di sekitarnya. Kini, di usianya yang sekitar 60 tahun, sebagai Pendeta Emeritus dari Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), dedikasinya justru semakin membara. Sejak 2013, ia secara aktif terlibat dalam pelayanan, dengan fokus utama pada isu perdagangan manusia dan perlindungan pekerja migran ilegal.
Kiprah pelayanan Pendeta Emmy dalam advokasi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) sungguh nyata. Ia tidak hanya berbicara teori, tetapi terjun langsung menangani kasus-kasus besar yang menyita perhatian nasional. Nama-nama seperti Yufrinda Selan yang meninggal di Malaysia pada 2015, Mariance Kabu yang disiksa pada 2014, serta Milka Boymau dan Adelina Sau yang juga meninggal di Malaysia pada 2018, adalah sebagian dari banyak kasus yang didampinginya dengan penuh keteguhan. Pengalaman paling mengharukan dan sekaligus menguatkan tekadnya adalah ketika ia berulang kali menyambut lebih dari 600 jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Bandara El Tari, Kupang. Setiap peti mati yang turun dari pesawat adalah pengingat pahit akan urgensi dari perjuangannya.
Sebagai Ketua Badan Pembantu Pelayanan (BPP) Advokasi Hukum dan Perdamaian Sinode GMIT pada periode 2016–2019, Pendeta Emmy memanfaatkan posisinya untuk membangun jaringan yang lebih kuat. Ia bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat sipil untuk mengadvokasi para korban. Namun, perjuangannya tidak berhenti pada pendampingan hukum. Ia pun mendirikan komunitas Hanaf Perempuan Flobamorata. Komunitas ini menjadi wadah pemberdayaan bagi mantan pekerja migran, membantu mereka membangun kehidupan yang mandiri dan bermartabat di tanah air sendiri sehingga tidak perlu kembali merantau dengan risiko yang sama.
Dedikasi, ketulusan, dan keberanian Pendeta Emmy Sahertian dalam menyuarakan keadilan sosial bagi korban TPPO akhirnya mendapatkan pengakuan yang layak. Pada tahun 2025, ia menerima Anugerah Puspa Bangsa 2025 dari Kementerian PAN-RB. Penghargaan ini diberikan dalam rangka memperingati Hari Kartini sebagai apresiasi terhadap kontribusi nyata para perempuan hebat Indonesia. Anugerah ini bukan hanya sekadar penghargaan individu, melainkan pengakuan publik atas perjuangan tanpa lelahnya melawan perdagangan orang di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional.
Pendeta Emmy Sahertian adalah teladan hidup bahwa pelayanan Kristen adalah pelayanan yang membela yang lemah, mengangkat yang jatuh, dan menegakkan keadilan. Melalui setiap langkah kakinya, ia menghidupkan kasih Kristus dalam bentuk aksi nyata, memberikan harapan dan memperjuangkan martabat bagi saudara-saudari kita yang paling rentan. Sosoknya menginspirasi kita semua untuk tidak tinggal diam ketika melihat ketidakadilan terjadi di sekitar kita.
BACA JUGA:
Perjalanan pelayanan Ps. Niko Njotorahardjo Sejak tahun 1985
Perjalanan Pelayanan Ps. Henny Kristianus Membangun Mimpi untuk Anak Pedalaman
Sumber : Jawaban.com