Risya adalah seorang anak kelas 3 SD yang memiliki hobi melukis. Ia begitu menikmati waktu-waktu menggambar bersama mamanya, sosok yang memperkenalkannya pada dunia warna dan bentuk.
Dari menggambar rumah hingga hewan-hewan lucu, sekarang Risya paling suka melukis pemandangan. Hidupnya terasa begitu hangat berkat kehadiran sang mama.
Namun, kebahagiaan itu berubah ketika mama jatuh sakit dan tak kunjung sembuh sampai harus dirawat di rumah sakit. Risya tidak diizinkan masuk ke ruang perawatan karena usianya.
Tapi, Risya tidak diam saja. Setiap hari Risya berdoa dari rumah, berharap agar mamanya bisa pulih kembali.
“Tuhan Yesus, sembuhin mama aku ya… biar bisa pulang,” doa Risya.
Hari demi hari berlalu, tapi mama belum juga membaik. Hingga akhirnya, mama dibawa ke Flores, kampung halamannya, untuk dirawat di sana.
Adik Risya yang masih berusia dua tahun juga ikut pergi ke Flores, sementara Risya harus tetap tinggal di Jakarta bersama papanya.
Perpisahan itu menimbulkan luka yang lebih dalam ketika kabar duka datang mengatakan bahwa mama Risya telah dipanggil pulang ke surga.
Ketika Risya dan papanya hendak pergi ke Flores untuk melihat mamanya terakhir kali, mereka justru ketinggalan kapal dan kehilangan kesempatan itu. Bahkan sampai saat ini, Risya masih belum bertemu dengan adik kecilnya.
Risya yang semula ceria, berubah menjadi lebih banyak diam, menarik diri, enggan berinteraksi hingga tidak mau lagi pergi ke sekolah minggu. Luka akibat kehilangan sang mama begitu besar, terasa seperti batu yang tertanam di hatinya.
Namun, Tuhan tidak meninggalkan Risya seorang diri.
Guru sekolah minggunya berulang kali mengundang Risya untuk kembali ke sekolah minggu hingga akhirnya Risya datang.
Di sekolah minggu, Risya menyaksikan kisah tokoh-tokoh Alkitab melalui animasi Superbook. Salah satu kisah yang paling berkesan di hati Risya adalah kisah Daud melawan Goliat.
Baginya, Daud bukan hanya anak kecil yang berani melawan raksasa, tapi cerminan dirinya sendiri yang sedang bergumul dengan “Goliat” yang tak terlihat, yaitu perasaan sedih, takut, dan kehilangan yang Risya alami ketika mamanya meninggal.
“Aku juga bisa lawan Goliat-ku sendiri,” ucap Risya dengan yakin.
Perlahan tapi pasti, tawa Risya mulai kembali. Di sekolah minggu, ia tak lagi menyendiri di pojok ruangan. Ia mulai berani mengobrol dan bermain dengan teman-temannya.
Meski terkadang Risya merasa sedih karena merindukan sang mama, tapi ia tahu bahwa Tuhan Yesus selalu menjaganya dan itu cukup untuk menguatkannya.
“Aku percaya Tuhan Yesus jagain aku dan adikku juga. Sekarang aku nggak sendiri lagi.”
Tuhan memakai sekolah minggu dan tayangan Superbook untuk memulihkan hati anak-anak seperti Risya. Tapi masih banyak anak lain di luar sana yang juga sedang berjuang melawan “Goliat” mereka sendiri.
Melalui dukungan Anda, program pemuridan anak lewat Superbook dapat terus menjangkau dan menguatkan mereka.
Kunjungi www.superbookindonesia.com untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja leat pelayanan ini, dan mari ambil bagian dalam membawa pengharapan bagi generasi penerus.
Sumber : Superbook Indonesia