JAWABAN.COM – Matthew Grech, seorang mantan aktivis LGBT di Malta, tengah menghadapi proses hukum karena membagikan kisah pertobatannya dari gaya hidup homoseksual untuk mengikuti ajaran Kristus.
Ia didakwa mempromosikan praktik terapi konversi, yang telah dilarang di Malta sejak 2016.
Matthew kembali menjalani sidang pada Selasa (16/7/2025), dan terancam hukuman lima bulan penjara serta denda. Putusan akhir dijadwalkan pada Oktober mendatang.
Kasus ini bermula dari wawancaranya di media lokal, saat ia membagikan kisah hidup dan menyebut organisasi yang mendukung orang-orang yang ingin meninggalkan ketertarikan sesama jenis.
Hal itu membuatnya dilaporkan ke polisi oleh tiga warga dan didakwa “mengiklankan praktik konversi”.
“Saya hanya membagikan pengalaman pribadi dan menjawab pertanyaan soal terapi konversi,” ujar Matthew kepada CBN News.
“Tapi saya justru diproses secara hukum.”
Sejauh ini, ia telah menjalani 12 sidang pidana. Meski melelahkan, Matthew tetap teguh memperjuangkan kebebasan berbicara dan hak setiap orang untuk mencari bantuan yang sesuai dengan nilai hidup mereka.
Menurutnya, kasus ini bisa menjadi preseden hukum yang penting secara global. “Saya belum mendengar ada kasus serupa di negara lain. Ini mungkin jadi uji coba hukum di Malta,” jelasnya.
Di tengah tekanan hukum dan sosial, Matthew tetap aktif membagikan imannya lewat media sosial dan mengaku tetap mendapat dukungan dari masyarakat. Namun, ia menyayangkan media lokal yang kini memilih bungkam.
“Dulu kedua sisi cerita bisa diangkat. Sekarang hanya satu sisi. Ini menyedihkan bagi bangsa saya,” kata Matthew.
Matthew juga mengenang masa lalunya saat tinggal di London dan menjalani gaya hidup homoseksual serta terlibat dalam praktik New Age hingga akhirnya bertemu seorang wanita Kristen yang mengundangnya ke gereja.
Meski awalnya ia merasa ragu, tapi karena kebaikan wanita itu, Matthew hadir dalam pertemuan doa pertamanya dan sangat tersentuh dengan orang-orang yang ada di sana.
Lalu ia diajak ke pertemuan yang lebih besar, dan saat itu pendeta yang berkhotbah tiba-tiba menunjuk Matthew dan berkata, “Saya merasa Tuhan ingin mengatakan bahwa Dia sangat mengasihimu.”
Momen itu seperti panah yang menembus hatinya. Ia pun mulai membaca Alkitab, dan kata-kata Paulus tentang homoseksualitas membuatnya sadar, “Saya perlu bertobat dan menyerahkan hidup saya kepada Yesus.”
Keputusan itu, katanya, adalah keputusan terbaik dan paling mengejutkan dalam hidupnya. “Saya sangat bersyukur,” pungkasnya.
Kasus yang dialami Matthew Grech menjadi pengingat bagi umat Kristen di mana pun bahwa menyuarakan iman dan kebenaran firman Tuhan mungkin tidak selalu diterima dunia.
Namun, di tengah tekanan inilah, kita dipanggil untuk tetap berdiri teguh dalam kasih dan kebenaran, tidak dengan kebencian, melainkan dengan keberanian untuk bersaksi dan kerendahan hati untuk terus mengasihi.
Mari kita doakan agar Tuhan terus menguatkan mereka yang menghadapi tantangan karena iman, dan agar setiap dari kita pun siap menjadi terang di tengah dunia yang gelap.
Sumber : CBN News