Isakhar, seorang anak remaja berusia 13 tahun yang duduk di bangku kelas 8, adalah salah satu peserta yang aktif mengikuti program School of Life di komunitas Gereja Kristen Sumba, Kabupaten Sumba Tengah, NTT. Sebagai anak keempat ari lima bersuadara, Isakhar cukup dekat dengan sang mama. Namun karena sakit diabetes yang diderita, ia harus kehilangan sang mama pada bulan Mei yang lalu.
Kehilangan ini menjadi pukulan besar dalam hidupnya. Ia tinggal bersama ayah dan lima saudara kandungnya. Namun demi sekolah, ia memilih tinggal bersama kakek dan nenek yang rumahnya lebih dekat dengan sekolah.
Baca Juga: Aan, Anak Pemalu yang Menemukan Kepercayaan Diri Lewat Sanggar Belajar
Kadang saat mengingat sang mama, Ishakar masih suka menangis. Namun ketika ditanya, "Apakah Ishakar marah sama Tuhan karena panggil mama?" Ia dengan tegar menjawab "Tidak pernah." Di masa-masa duka yang ia alami, Ishakar merasa dikuatkan karena tutor School of Life sekaligus gembala gereja GKS Pahomba selalu memberikan kekuatan dan dukungan.
Di School of Life, Ishakar mendapatkan dukungan yang ia butuhkan, bukan saja secara emosinal tetapi juga karakter dan pengetahuan yang baru. Seperti ketika mereka belajar tentang Kesehatan, Ishakar teringat akan ibunya yang jatuh sakit karena pola makan yang kurang sehat. Untuk itu dia mau belajar menjaga kebersihan diri, makan yang sehat dan merawat tubuhnya dengan baik.
Sekalipun hidup keluarganya cukup sederhana, namun Ishakar bisa menunjukan bahwa dia bisa menjadi anak yang berprestasi di sekolah. Ia membuat bangga keluarga dengan meraih juara satu. Ayahnya, Bapak Tunggal Lundawa, sangat mendukung proses pendidikan dan pembentukan karakter putranya. Ia melihat perubahan positif dalam diri Isakhar sejak mengikuti program School of Life, dan berharap anaknya terus dibentuk menjadi pribadi yang takut akan Tuhan dan berkarakter kuat.
Baca Juga: Pelajaran "Cinta Damai" yang Mengubah Arjun Dari Anak Kasar Menjadi Murah Hati
Isakhar kini menjalani hidup dengan penuh harapan. Meskipun mamanya sudah tiada, ia percaya bahwa sang ibu telah bersama Tuhan. Ia tetap setia dalam iman, belajar dengan semangat, dan menikmati proses pemulihan di tengah komunitas yang mengasihi dan mendukungnya.
“Saya senang ikut School of Life karena saya belajar hal-hal yang sebelumnya tidak saya mengerti,” ucap Isakhar.
Saat ini CBN sudah melayani ribuan anak di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal lewat Sanggar Belajar Anak School of Life (SoL). Ayo, ambil bagian untuk menjadi berkat bagi mereka dan berikan akses pendidikan tambahan yang terbaik bagi pertumbuhan generasi.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!