Sudah Sukses Tapi Belum Merasa Puas, Apa yang Salah?

Kata Alkitab / 23 August 2022

Kalangan Sendiri

Sudah Sukses Tapi Belum Merasa Puas, Apa yang Salah?

Lori Official Writer
1063

Tuhan Yesus berkata bahwa Dia datang untuk memberi kita hidup yang berkelimpahan. 

Bukankah itu yang didambakan oleh semua orang? Punya kehidupan yang bermakna dan damai, tentunya menurut kita pasti akan membuat kita puas dalam hidup. 

Ya tentu saja Tuhan menawarkan hal ini, tetapi kenapa ada sebagian orang sukses malah belum merasa puas dalam hidupnya? Apa yang salah?

Rasul Paulus, saat berbicara kepada orang percaya di Roma, mengajukan sebuah argument tentang mengapa orang yang tidak percaya, yang tidak mengikuti perintah Tuhan, seolah tidak mengalami kepuasan dalam hidupnya.

“Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.” (Roma 1: 18-22)

Paulus menyebutkan bahwa pikiran orang-orang di dalam ayat ini sia-sia. Hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka tidak menghormati tubuh mereka. Sehingga Tuhan menyerahkan mereka kepada pikiran yang picik untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Hidup mereka juga penuh kejahatan, ketamakan dan dengki. 

 

Baca Juga: Apakah Anda Sedang Mencari Kepuasan? Temukan Lewat Hal Ini…

 

Apa hubungan dari hal ini dengan orang sukses yang tidak merasa puas?

Kebohongan

Orang-orang yang tidak merasa puas cenderung menukar kebenaran dengan kebohongan. Kebohongan itu adalah keyakinan bahwa pencapaian manusia akan memuaskan hidupnya.

Prestasi manusia bisa menyelamatkan seseorang dari perasaan tidak mampu dan tidak berarti. Kebohongan berkata, “Ketahuilah bahwa pencapaian Anda akan memampukan Anda untuk memenuhi kebutuhan Anda, bisa diterima oleh orang lain dan dihargai. Pencapaian adalah tujuan terbesar dalam hidup. Jadi kejarlah itu maka Anda akan mendapatkan kepuasan hidup di dalam segala sesuatu.”

 

Baca Juga: Kepuasan Itu Datangnya Dari Rasa Haus dan Lapar Akan Firman Tuhan

 

Benarkah demikian?

Pemikiran semacam ini justru adalah akar dari segala kejahatan, seperti yang disebutkan oleh Paulus. Mereka yang menaruh hidupnya di dalam pemikiran ini akan percaya bahwa harga dirinya ditentukan oleh keberhasilannya. Sementara jika gagal, maka dia bukanlah pribadi yang berguna. Dengan mempercayai hal ini, saat kita gagal maka kita akan mudah putus asa dan juga iri hati. Keputusasaan dan iri hati ini akan menghasilkan kejahatan seperti bertindak curang, menghalalkan segala cara, merusak hidup orang lain dan bahkan menimbulkan kegaduhan.

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Sumber : CBN
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami