#FaktaAlkitab: Nyaris Punah! Kaum Yahudi Selamat dari Pembunuhan Massal Karena Tokoh Ini

Fakta Alkitab / 19 August 2022

Kalangan Sendiri

#FaktaAlkitab: Nyaris Punah! Kaum Yahudi Selamat dari Pembunuhan Massal Karena Tokoh Ini

Claudia Jessica Official Writer
2976

Pada pemerintahan raja Ahasyweros, kaum Yahudi hampir saja punah di seluruh Kerajaan Persia. Namun berkat upaya Ester, bangsa Yahudi luput dari pemusnahan.

Fakta Alkitab kali ini akan membahas tentang Ester, Sang Penyelamat kaum Yahudi dari pembunuhan massal.

 

Arti Nama 

Dalam Alkitab nama Ester pertama kali muncul dalam Ester 2:7. Nama ini disebutkan sebanyak lima puluh tujuh kali dalam seluruh Alkitab. Ester dikenal sebagai permaisuri atau ratu kerajaan Persia. Ayahnya bernama Abihail (Ester 2:15). 

Nama Ester berarti cantik seperti bintang fajar. Meskipun secara asal usul, bahasa nama Ester ini berasal dari kata Hadasa yang artinya tanaman murad. Namun secara umum dari segi pembahasan dan asalnya menurut Alkitab, maka paling tepat jika diartikan cantik seperti bintang fajar. 

Tidak hanya cantik secara fisik, Ester juga cantik karena hati yang ia miliki serta imannya kepada Tuhan. Ester menjadi tokoh Alkitab yang rendah hati dan menawan, dan memiliki kepribadian yang cantik luar dalam sesuai namanya. 

 

Keadaan Persia di masa Ester 

Ester adalah orang Yahudi, ia dan kaumnya “Yahudi” berasal dari Yerusalem yang di angkut ke wilayah Babel oleh raja Nebudaknesar saat kerajaan Babel menaklukan Yerusalem. Babel kemudian ditaklukan oleh Persia sehingga kaum Yahudi berada dalam kekuasaan pemerintah Persia. 

Peristiwa Ester terjadi di masa Raja Ahasyweros yang memerintah kerajaan Persia pada tahun 522-486 Sebelum Masehi. Kerajaan Persia cukup besar dan kuat. Kerajaan itu meliputi semua tanah dari India di bagian timur sampai daerah Etiopia yang terbagi dalam 127 provinsi atau wilayah.

Istana kerajaan Persia sangat luas, jadi raja mempunyai istana di semua tiga kota terbesar. Dalam kisah Ester, raja tinggal di kota Susan. Istana raja yang di Susan itu sangat luas. Kompleks istana dibangun di atas tanah yang tinggi atau berbukit dan dikelilingi benteng. Sekitar 120 hektar luasnya. Ribuan pelayan, pejabat, tentara, dan orang lain tinggal di dalam komplek istana itu.

 

Dipilih menjadi Ratu Istana 

Suatu kali Raja Ahasyweros merencanakan untuk mengadakan pemilihan seorang ratu untuk menggantikan Ratu Wasti. Sebelumnya Ratu Wasti telah mempermalukan raja di depan banyak orang, termasuk semua pegawainya dengan menolak untuk menampilkan kecantikannya di depan semua orang yang menghadiri pesta raja (Ester 1:10-22). Oleh karena itu raja mencari seorang ratu baru dari kalangan gadis-gadis cantik di kerajaannya. 

BACA JUGA: 4 Tokoh Perempuan Penting Dalam Alkitab yang Punya Pengaruh dan Iman Besar

Ester adalah seorang gadis yatim piatu muda, yang tumbuh besar dan dirawat oleh Mordekhai, sepupunya. Mordekhai adalah salah satu saksi hidup orang Yerusalem yang diangkut oleh Nebukadnnezar ke Babel saat pembuangan (Ester 2:5-6). 

Seperti yang sudah kita bahas di awal bahwa Ester memiliki perawakan yang cantik luar dalam. Oleh karenanya ia juga turut serta dalam proses pemilihan calon ratu istana. Raja lalu memerintahkan Ester dan gadis-gadis lainnya agar masuk ke istana untuk dimanjakan dan dipersiapkan secara khusus untuk pemilihan calon pengganti ratu kerajaan. Dalam pemilihan tersebut, Mordekhai berpesan agar Ester menutupi asal usulnya sebagai orang Yahudi kepada pihak istana (Ester 2:10).

Ketika tampil, Ester mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari raja melebihi para anak dara lainnya. Bahkan ia mendapatkan kasih sayang dari semua orang yang melihatnya. Raja Ahasyweros kemudian mengaruniakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu menggantikan Wasti (Ester 2:16-17).

 

Upaya pemusnahan seluruh Yahudi 

 

Baca halaman selanjutnya -->

Upaya pemusnahan seluruh Yahudi 

Beberapa waktu kemudian Ahasyweros menunjuk Haman, seorang yang terkemuka di kerajaan, untuk memegang jabatan khusus sebagai pembesarnya. Ahasyweros memerintahkan bahwa setiap hamba harus tunduk dan menyembah kepada Haman.

Namun Mordekhai tidak mau sujud di hadapan Haman. Mordekhai hanya akan sujud di hadapan Tuhan. Hal ini membuat Haman marah dan bermaksud untuk membunuh Mordekhai. Namun Haman menganggap bahwa dirinya terlalu hina jika hanya membunuh Mordekhai saja. Jadi Haman mencari ikhtiar untuk memusnahkan semua orang Yahudi, yakni bangsanya Mordekhai di seluruh kerajaan Persia. 

Dalam Ester 3:1 dituliskan bahwa Haman berasal dari Agag. Agag adalah nama raja Amalek (1 Sam. 15:8) yang dibunuh oleh raja Saul atas perintah Tuhan melalui nabi Samuel. Asal Haman dari Agag dituliskan dengan maksud untuk mempertemukan Haman dengan Mordekhai, dimana Mordekhai berasal dari suku Benyamin, sama seperti raja Saul yang juga dari Benyamin, yang telah membunuh Agag.

Haman kemudian memberi tahu raja Ahasyweros bahwa orang-orang Yahudi tidak mematuhi hukum raja, dan memberi usul agar orang Yahudi dibinasakan di seluruh kerajaan Persia. Raja Ahasyweros lalu memberikan kuasa kepada Haman dengan memberikan cincin meterainya (Ester 3:10). 

Oleh kuasa yang diberikan raja dengan lambang cincin meterai yang ada pada Haman, maka Haman kemudian menyusun aturan baru yakni ditetapkannya suatu hari khusus untuk membunuh dan memusnahkan semua orang Yahudi serta merampas seluruh harta mereka (Ester 3:9, 13). 

Perintah tersebut ditulis dalam kertas yang kemudian digulung dan ujungnya ditutup dengan lelehan lilin yang ditekan dengan cincin meterai. Pola cincin itu tertinggal di lilin dan menjadi tanda bahwa raja yang mengesahkan surat itu.

Segel raja itu adalah seperti tanda tangan yang dipakai di dokumen dan surat sekarang. Jika raja memberi cincin itu kepada orang lain, seperti kepada Haman (Ester 3:10-11), berarti orang itu juga bisa mengeluarkan titah apa saja dengan kuasa raja. 

Surat titah yang sudah ditulis dan dicap cincin meterai raja lalu disebarkan ke seluruh daerah wilayah kerajaan Persia, dari India hingga Etopia. Jika raja sudah mengeluarkan titah, maka titah itu sama sekali tidak bisa ditarik kembali (Ester 8:8).

 

Tindakan Ester 

Ketika Mordekhai mendengar orang Yahudi di seluruh kerajaan akan dibunuh, ia lalu mengenakan kain kabung dan abu. Di jaman itu kain kabung merupakan simbol dukacita atau pertobatan. Mordekhai lalu pergi memberitahukan berita ini kepada Ester. Mordekhai mengingatkan Ester bahwa bukan tidak mungkin Allah menjadikan Ester sebagai ratu di negeri Persia untuk tujuan ini. Ia lalu meminta Ester untuk berbicara kepada raja agar raja mengubah hukum Haman dan menyelamatkan orang-orang Yahudi.

Namun Ester takut, sebab terkadang raja membunuh orang yang datang untuk berbicara kepadanya tanpa undangan, kecuali raja mengulurkan tongkat emasnya dan itu tandanya orang yang berbicara padanya tidak dihukum mati.

Ester lalu meminta semua orang Yahudi dan hamba-hambanya untuk berpuasa bersamanya selama tiga hari. Setelah masa puasa selesai, Ester pergi menghadap raja, dan saat ia mendekati raja, tiba-tiba raja mengulurkan tongkatnya. Ini artinya raja senang bertemu dengan Ester dan Ester pun luput dari hukuman mati.

Lalu raja menanyakan apa yang dia inginkan, dan Ester memberi tahu bahwa bangsanya dalam bahaya karena hukum Haman yang isinya ia dan seluruh orang Yahudi dalam kerajaan akan dibunuh. 

Mendengar hal itu raja marah dan memberikan hukuman mati kepada Haman. Raja lalu membuat hukum baru yang melindungi orang-orang Yahudi. Yakni hukum dimana orang-orang Yahudi diizinkan untuk membela diri mereka jika ada yang mencoba untuk menyakiti mereka. Hal ini terkait dengan perintah sebelumnya yang tidak bisa dibatalkan (Ester 8:8).

BACA JUGA: 3 Pelajaran yang Bisa Kita Petik Soal Menjadi Istri yang Bijak dari Ester

Walaupun Haman berniat untuk membinasakan bangsa Yahudi, kisah ini berakhir dengan bangsa Yahudi mengalahkan semua musuh yang akan menyerang mereka. Sehingga orang-orang Yahudi yang berada di Persia luput dari Pembantaian.

Iman Ester kepada Tuhan dan keberaniannya untuk berbicara kepada raja berhasil menyelamatkan ia dan bangsanya. Alih-alih mendapatkan kesengsaraan dan pembantaian, bangsa Yahudi justru luput dari kemusnahan dan berpesta besar yang diperingati sebagai hari perayaan Purim, yakni hari pembebasan bagi orang Yahudi dari kekaisaran Persia yang hendak membunuh mereka. Perayaan Purim terus dirayakan setiap tahunnya hingga saat ini.

Kontroversi Kitab Ester 

 

Baca halaman selanjutnya -->

Kontroversi Kitab Ester 

Kitab Ester merupakan satu dari Kitab Perjanjian Lama yang termasuk dari kitab-kitab sejarah, yakni kitab-kitab yang memberikan gambaran perjalanan bangsa Israel. Kitab ini merupakan kitab yang unik dalam seluruh Perjanjian Lama.

Pertama kitab ini menggunakan nama perempuan, dan yang kedua kitab ini tidak menyebutkan kata “Tuhan” satu pun di dalamnya. Ketiadaan kata “Tuhan” di dalam kitab Ester memang cukup menjadi kontroversi tersendiri apakah kitab ini layak masuk dalam daftar Alkitab Perjanjian Lama. 

Meskipun nama “Tuhan” tidak muncul dalam kitab ini namun kitab ini mau menunjukkan kepada bangsa Yahudi bahwa dalam situasi yang kelam, “Tuhan” berkarya di belakang layar. Dalam kitab ini, Tuhan berkarya melalui iman dan keberanian Ester saat bertahan dalam pergumulan dengan mengucap syukur dan mengutamakan manfaat berdoa dan berpuasa.

Ester merupakan gambaran perempuan beriman dan bagaimana Tuhan bekerja di dalam dirinya. Keseluruhan karya Tuhan yang tersembunyi dalam kisah Ester ini menunjukkan bahawa Tuhan tidak diam dalam situasi apa pun.

 

Lokasi pemakaman Ester 

Alkitab tidak menjelaskan bagaimana kematian Ester dan lokasi pemakamannya. Namun pemerintah Iran mengklaim bahwa kubur Ester terletak di wilayahnya. Tempat makam Ester dan juga Mordekhai terletak di wilayah Hamedan, Iran. Hal ini juga diakui oleh Israel dan kaum Yahudi dunia mengingat Persia modern kini terletak di wilayah Iran. Bahkan lokasi makam keduanya diakui sebagai situs sejarah di Iran.

 

 

Kisah Ester dan konteks sejarah 

Ketika raja Persia bernama Koresh memperluas kerajaannya dengan menaklukan Babel, ia memerintahkan orang-orang Yahudi yang dibuang oleh raja Nebukadnezar di masa Kerajaan Babel untuk kembali ke Yerusalem. Namun tidak semua orang Yahudi meninggalkan Babel, sehingga ada komunitas orang Yahudi yang masih tinggal di kerajaan tersebut sampai pada saat pemerintahan raja Ahasyweros. 

Raja ini kemungkinan adalah Xerxes yang memerintah di Persia dari tahun 485 sampai 465 Sebelum Masehi dan dikalahkan pada saat berusaha untuk menjajah Yunani. 

BACA JUGA: Ini Alasan Kenapa Bangsa Israel Itu Istimewa di Mata Tuhan

Ester adalah teladan tentang bagaimana kekuasaan yang diperolehnya digunakan untuk kepentingan yang mulia, yakni mencegah pembantaian massal bangsa Yahudi.

Ester adalah perempuan Yahudi yang setia kepada Allahnya dan tradisi bangsanya meskipun berada di tengah-tengah pergaulan lingkungan istana Persia yang kerlip-gemerlap, megah dan mewah, namun penuh persaingan dan intimidasi.

Kekuasaan dan peluang yang dimilikinya tidak membuatnya “lupa daratan” dan “mabuk”, atau dimanfaatkan untuk memperkaya diri dan memuaskan kesenangannya pribadi.

Sebaliknya, ia memperjuangkan hak untuk hidup bermartabat, termasuk dalam menjalankan imannya bersama orang-orang Yahudi yang memilih menetap di Persia, bangsa yang tidak mengenal Allah.

 

Part I

Part II

Sumber : jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami