Mengatasnamakan Tuhan Untuk Eksploitasi Orang Lemah, Bagaimana Alkitab Memandangnya?
Sumber: CBC

Kata Alkitab / 8 July 2022

Kalangan Sendiri

Mengatasnamakan Tuhan Untuk Eksploitasi Orang Lemah, Bagaimana Alkitab Memandangnya?

Lori Official Writer
1944

Di zaman online yang serba bebas ini, dalam hitungan detik kita bisa menyaksikan beragam kejadian yang terjadi di berbagai belahan daerah hingga dunia. Hal inipun mempermudah masyarakat gereja mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam gereja secara global. 

Jika Anda mengikuti berita gereja dalam beberapa tahun belakangan, maka Anda akan mulai merasa resah. Pasalnya, hampir semua kejahatan amoral dan perilaku menyimpang yang ditulis dalam Alkitab terjadi di zaman ini. Salah satunya kasus yang masih hangat dibicarakan gereja-gereja barat yaitu terkait pelegalan pernikahan LGBT yang sama buruknya dengan tindakan pelecehan seksual, yang cukup mengejutkan bahkan terbukti dilakukan oleh para pelayan gereja sendiri. 

Terkait kasus pelecehan seksual yang sudah terjadi selama puluhan tahun di lingkungan gereja pun tak lagi bisa ditutupi. Banyak yang sudah terbongkar dan para pelaku yang selama ini berlindung dibalik jubah agama pun tak lagi bisa mengelak. 

Belum selesai sampai di situ, kebejatan ini juga turut dilakukan secara sadar oleh pembicara hingga motivator Kristen yang dikenal kerap mengatasnamakan Tuhan dalam setiap penampilannya. Yang tak masuk diakal, pelaku bahkan merupakan sosok yang disanjung dan dihormati oleh anak-anak muda. 

Baru-baru ini, di Indonesia kita juga mendengar kejadian luar biasa dimana seorang yang menyediakan pendidikan gratis bagi anak yatim piatu diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap puluhan anak didik perempuan yang lemah dan tidak punya kuasa untuk menolak dan melawan. Membangun sebuah lembaga besar yang bertujuan mulia memang terdengar sangat mengesankan, apalagi jika itu diakui sebagai panggilan dari Tuhan. Namun dalam perjalanannya, kenapa mereka berubah menjadi penjahat yang bertindak secara sembunyi-sembunyi? 

 

Benarkah ini yang disebut dengan mengatasnamakan Tuhan untuk mengeksploitasi orang-orang lemah? Apa pandangan Alkitab dengan para pemuka agama yang bertindak sebagai pelaku kejahatan ini?

Mari belajar dari dua sosok Alkitab ini yaitu Nabi Amos dan Yesus. 

Nabi Amos dan Yesus memiliki belas kasihan yang besar terhadap orang miskin dan terasing. Sehingga mereka benar-benar tegas terhadap tindakan eksploitasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi apapun.

Alkitab mencatat bahwa nabi Amos bahkan menentang praktik amoral yang dilakukan untuk memeras atau memanfaatkan orang miskin dan tak berdaya demi memuaskan keinginan maupun memperoleh keuntungan secara finansial. Dia menyadari bahwa tindakan mengeksploitasi orang lain baik secara fisik maupun finansial adalah tindakan yang melanggar hukum Tuhan. 

“Beginilah firman TUHAN: "Karena tiga perbuatan jahat Israel, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut; mereka menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan membelokkan jalan orang sengsara; anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan muda, sehingga melanggar kekudusan nama-Ku; mereka merebahkan diri di samping setiap mezbah di atas pakaian gadaian orang, dan minum anggur orang-orang yang kena denda di rumah Allah mereka.” (Amos 2: 6-7)

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Yesus sendiri menyatakan sikap tegas terhadap perlindungan anak melalui Markus 10: 14. Anak, sebagai makhluk yang paling lemah, mereka belum mampu membela dirinya sendiri dari berbagai tindakan eksploitasi. Namun pada kenyataannya, anak justru menjadi korban eksploitasi yang paling besar, termasuk tindakan pelecehan seksual. 

Lewat ayat ini, Yesus menegaskan bahwa tindakan kejahatan apapun yang diperlakukan kepada anak sangat tidak dibenarkan oleh Tuhan. Bahkan pelecehan seksual terhadap anak merupakan tindakan yang sangat melukai dan dikecema di dalam firman Tuhan. Karena itulah sepanjang Alkitab selalu memperingatkan tentang dosa seksual. Alkitab memandang bahwa pelecehan seksual pada anak merupakan tindakan yang menyerang kealiman manusia di titik yang paling rapuh. Pelaku, dalam hal ini, dianggap telah melakukan pelanggaran terkait keteladanan hidup orang-orang percaya. 

Penganiayaan secara emosional atau psikologis juga dianggap sebagai pelanggaran. Seperti ditulis dalam Efesus 6: 4, “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

Baik Amos dan Yesus menaruh standar moral dan etika yang tinggi bagi orang-orang Kristen. Saat lembaga, organisasi, individu dan bahkan pemimpin gereja maupun pemuka agama melakukan eksploitasi dalam berbagai bentuk terhadap orang-orang miskin dan anak-anak renta untuk mendapatkan keuntungan pribadi, hal ini harus ditindak. Orang Kristen diminta untuk berbicara karena kika praktik yang tidak bermoral tersebut dibiarkan, maka kejahatan tersebut akan terus berlanjut dan semakin banyak orang yang menjadi korban.

Tuhan tidak memandang bulu terhadap kejahatan, sekalipun pada awalnya kita memulai pelayanan dengan niat yang baik. Namun jika kekuasaan dan keinginan daging justru membuat kita menyimpang dari jalan kebenaran Tuhan, maka perbuatan baik itupun tidak ada gunanya.

Tuhan benci dengan orang-orang yang memuji namanya dengan bibirnya namun perbuatannya jauh dari kebenaran. Itu sama dengan mengenakan nama Tuhan sebagai topeng untuk menutupi perbuatannya yang jahat.

Tuhan rindu setiap orang percaya menghidupi firman melalui perbuatannya sehari-hari. 

“Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yesaya 1: 16-17)

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami