6 Racun yang Sebabkan Rusaknya Kredibilitas Gereja

Kata Alkitab / 1 April 2022

6 Racun yang Sebabkan Rusaknya Kredibilitas Gereja

Lori Official Writer
580

Di negara Barat, banyak orang yang tak lagi percaya kepada gereja. Penyebabnya adalah karena para pelayan gereja menyalahgunakan fungsi gereja demi kepentingan sendiri. Salah satunya banyak gereja yang dianggap menyalahgunakan uang jemaat. Benar atau tidak? Hanya Tuhan yang mampu menyelidiki hati.

Ini tentu jadi salah satu peringatan bagi gereja untuk kembali fokus kepada tujuan utamanya yaitu sebagai penatalayanan umat. Jika gereja-gereja di Indonesia tidak ingin kehilangan kredibilitasnya sebagai rumah persekutuan orang-orang kudus, bersihkan gereja dari 6 racun ini.

1. Gereja berorientasi uang

“Tanpa uang, gereja ini akan terkendala.” Sekilas, kalimat ini mungkin terdengar benar. Tapi mari kembali fokus kepada isi Alkitab, pelayanan gereja mula-mula berjalan bukan karena mereka orang-orang kaya atau memiliki dana kas yang berlimpah. Apakah di masa Perjanjian Baru para rasul-rasul harus punya uang yang banyak lebih dulu supaya bisa pergi memberitakan injil?

Gereja yang fokus dengan uang hanya menganggap gereja sebagai pabrik uang, bukan tempat untuk mencari Tuhan. Tentu saja ini agak sedikit menggelitik bagi gereja-gereja di masa ini bukan? Tapi mari benar-benar merenungkan hal ini.

 

Baca Juga: Berjiwa Muda, 10 Budaya Gereja Ini Justru Bikin Millenial Tinggalkan Gereja Loh!

 

2. Ingin selalu dilayani dan tidak mau melayani

Apakah Anda mengenal seorang pemimpin gereja yang setiap kali melayani di mimbar, dia selalu dilayani oleh staf gereja. Bahkan untuk membukakan pintu mobil maupun mengambilkan keperluan pribadi dia harus dilayani. Yang pasti, pemimpin semacam ini harus mendapatkan pelayanan yang terbaik.

Gereja dengan jenis pemimpin seperti ini tanpa sadar telah menciptakan definisi hamba Tuhan yang lain. Jika di Alkitab kita belajar teladan Yesus yang melayani, maka sebaliknya di gereja kita melihat pemimpin gereja justru dilayani dengan sangat baik.

Hal serupa juga bisa terjadi kepada para jemaat. Mereka menuntut untuk selalu dilayani dan enggan untuk melayani orang lain.

 

Baca Juga: Anak Muda Rentan Tinggalkan Gereja? Lembaga Riset Barna & Bilangan Riset Temukan Alasannya

 

3. Tidak memberikan generasi muda kesempatan memimpin

Sebagian gereja dipimpin oleh generasi tua. Mereka selalu mendominasi semua pelayanan gereja. Sementara generasi mudanya tidak pernah dilibatkan sama sekali.

Tentu saja puncak kepemimpinan harus diregenerasi. Bahkan gereja harusnya menjadi tempat dimana generasi muda didorong untuk ambil bagian sekaligus dididik kepemimpinannya.

 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

4. Pemimpin gereja mengikuti keinginan jemaat

Pelayanan setiap pemimpin gereja harusnya digerakkan oleh panggilan yang ia dapatkan dari Tuhan. Jika Tuhan berkehendak untuk dia melayani satu gereja hanya dalam jangka waktu 3 tahun, sudah sepatutnya untuk dia mengikuti arahan tersebut. Kecuali jika di tengah jalan, Tuhan mengubah arah pelayanannya secara tiba-tiba.

Tetapi menjadi keliru ketika pemimpin gereja memilih bertahan hanya karena ingin memenuhi keinginan jemaat. Pemimpin gereja yang digerakkan karena keinginan jemaat kemungkinan akan merasa bahwa pelayanannya jadi beban, hingga lama kelamaan pelayanan tersebut tidak menghasilkan buah yang baik.

 

Baca Juga: 6 Kehidupan Rohani yang Harus Tercermin Dari Sosok Pemimpin Komsel

 

5. Tidak transparan terhadap jemaat

Sebuah komunitas akan berkembang ketika anggota di dalamnya saling terbuka. Bagaimana jika ternyata pemimpin dan jemaat tidak pernah memiliki percakapan yang terbuka? 

Keterbukaan ini memang tidak serta merta disampaikan kepada semua jemaat tanpa mengenal level kerohaniannya. Pendeta bisa saja terbuka dengan lingkaran pemimpin di gereja. Hal ini penting karena gereja dibangun dengan rasa percaya. Sama seperti Yesus yang menyampaikan apa yang segera Ia hadapi dan apa yang perlu mereka persiapkan untuk menyambut hari penyaliban-Nya.

 

6. Memanfaatkan firman Tuhan

Pernahkah Anda mendengar seorang pendeta menyampaikan khotbah tentang persepuluhan? Ada saja pendeta yang berkata, ‘Dengan memberi persepuluhan, maka Tuhan akan mengembalikannya berlipat kali ganda.’ Lagi-lagi, kalimat ini terdengar benar. Tetapi bagi sebagian jemaat yang tidak memahami konteks akan berpikir ‘Wah, kalau yang akan dikembalikan lebih besar ya sudah aku akan memberi persepuluhan bulan ini.’

Sementara Alkitab mengajarkan bahwa memberi persepuluhan bukan tentang apa yang akan kita terima kemudian. Tetapi memberi persepuluhan bicara tentang seberapa taat kita kepada firman Tuhan dan seberapa paham kita tentang konsep hak milik Tuhan.

 

Baca Juga: 7 Cara Supaya Pemimpin Gereja Persiapkan Khotbah Minggu Dengan Maksimal

 

Tujuan gereja tidak seharusnya menyimpang karena kebutuhan-kebutuhan eksternalnya. Sebaliknya, Tuhan memanggil gereja untuk tetap menjalankan panggilannya secara murni yaitu sebagai tempat persekutuan orang-orang kudus dan alat penjangkauan yang efektif di masa ini.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Matius 28: 19-20

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami