Kesia-siaan Bagi Dunia Jadi Kekekalan Bagi Tuhan
Kalangan Sendiri

Kesia-siaan Bagi Dunia Jadi Kekekalan Bagi Tuhan

Lori Official Writer
      1105

Yakobus 4:14b

“Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap."

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 54; Kisah Para Rasul 26; Imamat 18-19

Baru-baru ini saya mendengar khotbah JD Greear dari kitab Pengkhotbah.

Ini bukan perikop yang mudah untuk dikhotbahkan. 

Dia banyak berbicara tentang ‘kesia-siaan’. Ini adalah salah satu kata yang paling banyak digunakan dalam buku ini. Beberapa terjemahan menggunakan kata ‘kesombongan’ dan yang lain ‘tak berguna’. 

Greear pun menggunakan ilustrasi pesawat terbang yang melewati awan. Itu terlihat perkasa dan penuh substansi, tetapi itu hanyalah uap. Salomo membandingkannya dengan kehidupan manusia.

Seperti uap.

Saya melihat cucu saya di akhir pekan ini. Dia sekarang berusia tiga tahun. Saya ingat hari dimana dia lahir. Saya dan suami saya, Tom, menunggu kelahirannya di lobi rumah sakit bersama keluarga yang lain. Kami sudah tahu jenis kelaminnya…kami tahu namanya, tetapi kami belum melihat rupanya.

Tiga tahun kemudian, saat dia mulai bertumbuh menjadi seorang anak yang lucu, rupanya dia memiliki kepribadian yang cukup baik. Ketika saya tidak bertemu dengan dia selama tiga bulan, pertumbuhannya begitu drastis. Kosakatanya meningkat. 

Jika biasanya saya akan menyapa dia dengan kalimat-kalimat seperti, “Selamat pagi Silas sayang. Selamat pagi cucuku sayang.” 

Tapi kali ini, dia mulai protes. “Aku tidak suka.” 

Tetapi, setelah dia lulus dari taman kanak-kanak dan akan masuk Sekolah Dasar, dia mulai berkata, “Aku tidak mau pergi ke gereja. Aku gugup.”

Bahkan ketika kami harus pulang ke Atlanta, dia mengaku sedih. “Aku sedih,” katanya.

 

Baca Juga:

Hidup Kita Ini Hanya Seperti Uap, Sudahkah Melakukan Yang Terbaik?

Biar Dunia Mengenal Tuhan Lewat Tindakan Kasihmu

 

Saya juga menangis. Hidup ini penuh dengan suka dan duka. Anda tidak bisa benar-benar menaruh tangan Anda di atasnya. Semua itu seperti uap. Saya menemukan sukacita besar di dalamnya, tetapi saya tahu persis jika itu bersifat sementara. Waktu terus berlalu, saya bahkan akan menghadiri wisuda SMA-nya.

Begitulah hidup.

Namun karena kelahiran, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, saya tahu bahwa ada lebih dari ‘kesia-siaan’ di bawah matahari. Ada keabadian yang dibawa oleh Yesus. 

Dia rela menjadi miskin supaya kita merasa kaya. Supaya kita mewarisi keabadian selamanya.

Kehidupan sia-sia yang sekejap menguap ini memiliki substansi ketika kita memandangnya melalui mata kekekalan. 

Lalu kita berinvestasi di dalamnya.

Itu bukan berarti saya mengabaikan cucu saya yang manis. Tetapi saya sedang berinvestasi dalam doa untuk dia. Saat saya bersama dengan dia, saya mengajaknya berdoa dan menceritakan tentang Yesus.

Saya membagikan uang saya untuk sesuatu yang bersifat kekal dan tidak sia-sia. Saat saya tahu ada banyak saudara dan saudari saya di negara lain melakukan penginjilan dan jauh dari keluarga mereka, saya berdoa untuk mereka. Saya menganggap mereka sebagai keluarga saya dan mengirimkan uang kepada mereka dengan tulus.

Jika Anda mengenal Yesus sebagai Juruslamat Anda, Anda akan merasa kaya. Itulah yang saya rasakan dari setiap tindakan yang saya lakukan selama hidup. 

"Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya." (2 Korintus 8: 9)

Apakah Anda mau berinvestasi bagi kekekalan? 

Hari ini berdoalah bagi orang-orang terdekat Anda (keluarga, rekan kerja, tetangga ataupun orang yang tidak Anda kenal). Atau luangkan waktu Anda sejenak untuk orang-orang yang Tuhan utus untuk pelayanan misi ke berbagai daerah dan negara, termasuk pelayanan media ini supaya lebih banyak orang diberkati melalui misi-misi kekekalan yang terus dikerjakan.

 

 

Hak cipta Pauline Hylton, digunakan dengan izin

Ikuti Kami