Mengasihi Musuh Memang Sulit, Tapi Harus…

Mengasihi Musuh Memang Sulit, Tapi Harus…

Lori Official Writer
      1107

Matius 5: 44-45

Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga…

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 48; Kisah Para Rasul 20; Imamat 6-7

Saya tahu itu salah, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak marah kepada ibu dari salah satu teman anak-anak saya. 

Guru anak saya menghubungi untuk mengingatkan saya soal beberapa hal yang dia lakukan untuk mencoba menyabotase putri saya. Saya ingin sekali segera bertindak dan memberinya pemahaman. 

Tanpa sadar saya membiarkan benih kepahitan tinggal di dalam hati saya. Saya memutuskan untuk menganggap dia sebagai musuh. Saya memilih untuk tidak menggubrisnya, meskipun saya masih menahan kepahitan di dalam diri saya.

Saya mulai mengabaikan hal tersebut selama beberapa waktu.

Hingga Tuhan berbicara kepada saya. Awalnya, Dia menyindir saya secara halus. Misalnya, kemanapun saya pergi, saya pasti akan selalu bertemu dengan dia. Setiap kali saya pergi belanja, dia ada di sana. Bahkan saat sata mencoba menghindari wanita itu di dalam supermarket, pada akhirnya saya bahkan hampir menabrak dia.

Saat saya tidak menghiraukan peringatan Tuhan, Dia berbicara langsung ke dalam hati saya. Tapi saya kembali menghindarinya. Hingga di suatu acara sekolah, saya mendengar Tuhan berbicara dengan jelas. Dia mengingatkan saya akan kata-kata dalam Matius 5: 44-46.

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?”

Lalu saya mencoba membuat pembelaan, “Tapi Tuhan aku mengasihi banyak orang kok! Aku hanya tidak suka dengan satu orang itu.”

Tuhan jelas menegaskan kembali kalimat ini: Kasihilah musuhmu.

Kita semua mungkin pernah bertemu dengan orang-orang menjengkelkan atau yang mengganggu kita. Ada orang yang sengaja atau tidak sengaja menyakiti kita. Kita mungkin percaya bahwa kita berhak kecewa atau terluka atau marah terhadap orang tersebut. Kadang, jika kita jujur, kita bisa merespon secara berlebihan.

 

Baca Juga:

Tuhan Sudah Menyediakan Kemenangan Bagi Kita

Kebencian Hanya Menyakiti Dirimu Sendiri. Lepaskanlah!

 

Seperti saya, saya seharusnya punya hak untuk marah dan memusuhi wanita itu karena sudah melakukan hal yang buruk terhadap anak saya. Tapi apakah saya harus melakukannya?

Kitab Yakobus 2: 10 memberitahukan kita tentang hal ini.

“Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.”

Kita diminta untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan pikiran kita. Tetapi kemudian kita juga disuruh untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Tuhan tidak meminta kita untuk hanya mengasihi orang-orang yang baik kepada kita atau yang pantas kita kasihi. Sebaliknya, kita minta untuk mengasihi musuh kita.

“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” (Ibrani 12: 3)

Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya memutuskan untuk menghubungi wanita itu dan mengundangkan untuk minum kopi. Saya meminta Roh Kudus untuk menolong saya mengesampingkan ego dan memberi saya kasih dan pengampunan. Roh Kudus menuntun saya dan kondisinya segera berubah.

Sembari minum kopi, kami tertawa. Kami berbagi banyak hal. Saya ada di posisi ini karena saya memilih untuk taat. Sehingga pada akhirnya saya dibebaskan dari kepahitan dan saya diberkati.

 

Hak cipta Anne Ferrell, digunakan dari CBN

Ikuti Kami