3 Hal yang Perlu Dipersiapkan Orang Kristen Menyambut Kehadiran Gereja Metaverse

3 Hal yang Perlu Dipersiapkan Orang Kristen Menyambut Kehadiran Gereja Metaverse

Lori Official Writer
432

Gereja metaverse tampaknya bukan lagi sekadar hayalan belaka. Jika Anda menjelajah internet dengan kata kunci metaverse church, maka sebuah situs bernama VR Church akan muncul. 

Tampaknya ini adalah salah satu gereja yang hadir dengan menggunakan teknologi virtual reality di dalam menjalankan komunitasnya. Di halaman utama Anda akan menemukan deskripsi lengkap seputar pelayanan VR Church, mulai dari Sunday Church (ibadah minggu), Weekly Groups (kelompok sel mingguan) dan sejumlah sukarelawan gereja. 

VR Church ini diketahui digembalakan oleh pasangan muda Pendeta Bismik dan Pendeta Alina. 

Meskipun gereja metaverse masih terbilang belum nyata, namun kehadiran VR Church menjadi pertanda dimulainya era disrupsi teknologi di tengah gereja. Kehadiran VR Church seakan menjadi jawaban dari janji petinggi perusahaan Meta Mark Zuckerberg bahwa di masa depan semua orang bisa melakukan hampir semua hal yang tak terbayangkan.

Untuk memahami apa itu metaverse, silahkan baca artikel: Arti dan Tujuan Metaverse

 

Apa yang bisa dilakukan gereja di tengah kehadiran dunia metaverse ini?

Cheryl Contee, seorang innovator teknologi dan petinggi dari Do Big Things melihat ada secercah harapan bagi umat beragama di metaverse. 

“Kita hidup di dunia dimana Anda bisa terhubung dengan ribuan atau bahkan jutaan orang dalam satu ide atau minat namun merasa putus asa, terasing dan sendirian. Berinteraksi dalam dunia metaverse tentang iman dan kerohanian kemungkinan akan menjadi balsam Gilead bagi beragam komunitas agama dalam hal menciptakan keterhubungan yang kuat, lebih terkoneksi dan kontak fisik dengan orang lain,” ungkap Cheryl.

Dia menilai gereja metaverse bisa menjadi tempat bagi kaum religius untuk berkumpul dan belajar bersama seputar agama atau melakukan penginjilan yang jauh lebih luas.

Tampaknya ada banyak sisi positif yang ditawarkan oleh gereja virtual reality ini. Namun tidak dipungkiri bahwa gereja ini juga nantinya bisa menyebabkan dampak yang buruk. Salah satunya semakin malasnya jemaat gereja berinteraksi secara fisik dan kemungkinan yang paling berbahaya adalah munculnya beragam kejahatan berkedok gereja, seperti kehadiran pelayanan palsu yang mengatasnamakan Tuhan.

 

Baca Juga: Ibadah Dengan VR & Lakukan Babtisan Virtual, Gereja Dekade Baru Dengan Teknologi Canggih

 

Apa yang harus dipersiapkan gereja untuk era gereja metaverse?

Meskipun prediksi kehadiran virtual reality masih menunggu 5 hingga 10 tahun ke depan, namun gereja sudah harus mulai bersiap. 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Ada 3 hal yang harus dipersiapkan gereja sejak saat ini untuk menyambut gereja metaverse:

1. Menanamkan Identitas yang Benar Kepada Orang Percaya

Konsep dari virtual reality adalah pengguna bisa tampil dengan avatar sendiri sesuai dengan apa yang mereka sukai. Tentu saja para pengguna diberikan kebebasan untuk menjadi versi diri mereka sendiri, tentunya yang lebih baik dari yang ada di dunia nyata.

Lalu apa yang akan terjadi jika kita lebih menyukai tampilan diri kita yang versi virtual reality? Kemungkinan banyak orang akan mulai menggabungkan identitas pemberian Tuhan mereka dengan identitas ciptaan mereka sendiri di metaverse. Tahukah Anda kemungkinan akan muncul perdebatan antara imago dei dengan meta imago.

Adalah tugas gereja untuk menggembalakan murid Kristus sejak saat ini. Menanamkan identitas yang benar tentang penciptaan. Pemuridan generasi harus digenjot oleh gereja sejak sekarang. Karena itu tidak ada waktu bagi gereja untuk sibuk dengan urusannya masing-masing.

 

Baca Juga: 5 Alasan Banyak Orang Nyaman Dengan Hubungan Virtual, Yuk Kenali Risikonya

 

2. Menanamkan Nilai Bahwa Kehadiran Secara Fisik Lebih Penting

Sebagaimana manusia diciptakan dalam bentuk fisik, Tuhan mau memakai kita untuk terkoneksi secara langsung dengan manusia yang nyata, bukan virtual.

Jadi sebelum era disrupsi gereja metaverse, pastikan supaya gereja menanamkan nilai-nilai kerajaan surga kepada pengikutnya. Yesus memanggil orang percaya untuk berfungsi secara nyata, seperti merawat orang sakit, mengunjungi orang-orang yang kesepian, membela orang-orang yang tertindas dan melestarikan lingkungan.

Nilai tentang terkoneksi secara fisik jauh lebih dibutuhkan oleh manusia fisik, dimana setiap orang bisa saling menatap mata, berpelukan dan tinggal bersama. 

 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

3. Mengingat bahwa menusia terbatas

Virtual reality mungkin akan menawarkan pengalaman dimana penggunanya bisa melakukan semua hal yang mereka inginkan, persis seperti Tuhan.

Tapi apakah Tuhan memang menciptakan manusia secara adikodrati? Hanya Tuhan yang mampu melakukannya.

Tuhan menempatkan kita di dunia dimana kita diinginkan untuk bertumbuh lewat sebuah proses. Kita memiliki komunitas kecil di sebuah kota kecil, mengikuti sistem yang ada dan ikut menjadi bagian dari sebuah lingkungan. 

 

Baca Juga: ‘Melek’ Peluang Teknologi, Inilah Angka Keuntungan Di tahun 2025 Yang Perlu Kita Tahu

 

Tentunya Tuhan tidak menciptakan kita untuk bisa menjadi apapun yang kita mau. Tapi dia mau menjadikan kita sesuai dengan rancangan-Nya.

Walaupun kita tidak tahu persis apa yang akan terjadi di masa depan, namun ketika gereja mulai memperlengkapi jemaatnya dengan tiga hal di atas maka gereja yang am, yang diinginkan Tuhan untuk hadir di dunia ini akan terus bertumbuh. 

Sekalipun gereja akan beradaptasi dengan teknologi, namun setidaknya gereja tetap mempertahankan identitasnya sebagai tubuh Kristus yang siap di akhir zaman.

“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” – Matius 7: 25

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami