Sejak Ayah Dibunuh, Aku Hidup Dalam Dendam – Unedo Hutasoit

Sejak Ayah Dibunuh, Aku Hidup Dalam Dendam – Unedo Hutasoit

Lori Official Writer
5011

Di usia 14 tahun, saya kehilangan ayah saya akibat sebuah keributan. Jadi ada rasa dendam yang timbul di dalam hati saya saat itu.

Mereka harus merasakan bagaimana orangtua saya ditembak dan dipotong-potong.

Meskipun ibu dan saudara sepupu saya selalu mengingatkan untuk melepaskan pengampunan kepada pelaku yang membunuh ayah saya, tapi saya tetap bersikeras. Mereka harus merasakan apa yang saya rasakan.

Dendam itulah yang membuat saya jadi seseorang yang suka melakukan kekerasan. Saya senang jadi perampok. Saya senang menjadikan orang lain korban dari kepahitan saya. Saya gak peduli apa-apa, bahkan sekolah saya tinggalkan.  

Keluar masuk penjara bahkan tidak membuat saya jera. Malahan saya semakin terjerumus ke dalam dunia obat-obatan terlarang. Saya mengkonsumsi putau.

Jadi untuk memenuhi kebutuhan ini, setiap hari saya mencuri, menodong antar kota dan provinsi. 

Di masa-masa kelam itu, saya tidak punya harapan hidup selain bergantung kepada jarum suntik setiap hari.

Jadi dendam yang dulu saya rasakan menjadi awal kehancuran hidup saya. 

 

Baca Juga: Istri Bos Gangster yang Alami Sakit Aneh dan Kehilangan Segalanya - Yayuk Retnowati

 

Jadi Buron Polisi

Di suatu kali, kami tertangkap polisi. Kurir saya ditembak mati. 

Saya bisa saja ditembak juga saat itu meski tidak ada barang bukti. Tapi saat itu saya berhasil lolos dan kabur ke Cengkareng. 

Saya jadi buron polisi dan berkat saran keluarga, saya memutuskan untuk menjalani rehabilitasi di Bandung.

Di tempat rehabilitasi, selama dua minggu saya tidak bisa makan dan tidur. Sementara mereka berdoa buat saya. Tetapi saya sama sekali tidak tahu cara berdoa dan bahkan Alkitab yang saya baca tidak bisa saya pahami. Butuh waktu lama buat saya untuk terima Tuhan.

Seiring berjalannya waktu, saya sering baca bawa Alkitab. Tapi biasanya saja hanya pakai Alkitab itu untuk alat linting saya. Tapi berjalannya waktu, saya mulai bisa menerima. 

Suatu kali ada worship, semua orang meminta saya untuk melepaskan pengampunan. Di situ hati saya perang, entah kenapa saya hanya bisa nangis.

 

Baca Juga: Disakiti Bapak Buatku Pengen Habisi Nyawanya – Parningotan Manullang

 

Melepaskan Pengampunan

Sampai akhirnya saya dipertemukan dengan pelaku pembunuh ayah saya. Saat itu ada perang yang terjadi di dalam diri saya. Di telinga saya saat itu saya mendengar bisikan ‘bantai gak ada lagi kesempatan’. Saya nyaris lepas kontrol. 

Tapi saat itu saya memilih untuk melepaskan pengampunan. Saat saya melepaskan pengampunan, saya baru tahu kalau Tuhan itu besar. 

Meskipun tidak gampang melupakan kejadian ketika ayah saya meninggal, tetapi saya melihat Tuhan bekerja melalui hal itu. 

Tuhan itu dahsyat. Ketika saya melepaskan pengampunan, saya tidak lagi kepahitan. Saya kasih hati saya sama Tuhan. Walaupun iblis masih terus korek hati saya, tapi Tuhan saya jauh lebih besar. Saya datang dan saya peluk mereka. Saya yang mencium bahkan saya yang sujud di bawah kaki mereka.

 

Baca Juga: Akhirnya Kutemukan Jodoh Dari Tuhan di Usia 43 Tahun - Samuel Dima

 

Sampai akhirnya saya mengambil keputusan untuk mengikut Tuhan.

Kitab Amsal 3: 5-6 berkata, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Itulah yang menjadi kekuatan saya dan saat ini saya bersyukur bisa jadi orang yang berguna bagi orang lain.

 

 

Apakah kamu butuh dukungan doa? Hubungi SAHABAT 24 kami melalui kontak Whatsapp 0822 1500 2424 atau klik link doa ini: https://bit.ly/InginDidoakan

 

 

Sumber : Solusi TV | Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami