Mengapa Kita Sering Kali Lupa Mengucap Syukur? Sudahkah Kita Mengucap Syukur Hari Ini?

Mengapa Kita Sering Kali Lupa Mengucap Syukur? Sudahkah Kita Mengucap Syukur Hari Ini?

Claudia Jessica Official Writer
      488

Lukas 17:17-18

Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 148; Wahyu 4; Ester 1-2

Dalam Lukas 17, kita membaca kisah tentang 10 orang kusta. Mereka mengidap penyakit yang menakutkan dan membuat seseorang menjadi najis. Mereka tidak layak untuk masyarakat dan mereka hampir tidak manusiawi. Kerugian fisik yang luar biasa ini ditimbulkan oleh penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Mereka mengalami kerugian emosional yang besar karena merasa tidak berharga, keji, dan tidak dapat dicintai.

Ketika mereka melihat Yesus, mereka berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” (Lukas 17: 13). Yesus menanggapi mereka dengan belas kasihan dan tantangan. Dia menyuruh mereka untuk menunjukkan diri mereka kepada para imam, referensi yang jelas tentang pembersihan penderita kusta: Imamat 14.

Lukas 17:14 mengatakan, “Ketika mereka pergi, mereka menjadi tahir” Anda melihatnya bukan? Ketika mereka pergi, mereka menjadi sembuh. Begitulah cara kerja iman. Anda harus cukup percaya Firman Tuhan untuk menaatinya. Ketika Anda mengambil langkah iman, maka Anda melihat Tuhan melakukan mujizat.

Apakah Anda bisa merasakan kegembiraan yang mereka alami? Kusta mereka telah dibersihkan! Penyakit keji yang telah merampas segala kehidupan mereka kini telah hilang! Mereka bisa kembali ke keluarga mereka. Mereka bisa kembali ke masyarakat. Mereka benar-benar bisa hidup kembali

Sembilan dari sepuluh orang itu bergegas pergi untuk menikmati berkat besar yang mereka alami. Tapi satu orang kembali kepada Yesus, dia adalah orang Samaria yang dibenci. Orang Samaria ini juga diliputi kegembiraan atas kesembuhannya. Dia ingin bersyukur dan memuji Tuhan. Dia tidak bisa bermimpi mengambil langkah lain tanpa memuliakan Tuhan dan mengungkapkan rasa terima kasihnya yang tulus. Dan Tuhan menanggapi ucapan syukurnya dengan menganugerahkan karunia yang jauh lebih besar, yaitu karunia keselamatan.

Menariknya, Yesus bertanya-tanya tentang kesembilan orang lainnya. Dimana mereka, dan mengapa hanya “orang asing” ini yang kembali mengucapkan terima kasihnya?

Pertanyaan yang relevan untuk zaman sekarang, masa kita tinggal saat ini: mengapa begitu banyak orang yang mengalami kebaikan Tuhan dan hanya sedikit yang kembali dengan ucapan syukur?

Biarkan saya menantang Anda saat saya menantang diri saya untuk meniru orang Samaria dalam cerita ini untuk bersyukur. Hidup bisa menjadi kejam dan keras. Keadaan dapat menjatuhkan kita dan membuat kita hancur. Jika kita tidak hati-hati, kita dapat dengan mudah menjadi kecewa, depresi, kritis, sinis, dan pahit. Ucapan syukur bisa menjadi pengorbanan.

Inilah kunci untuk mengatasi keadaan: fokuslah pada apa yang Anda miliki, bukan apa yang tidak Anda miliki. Bersukacitalah di dalam Tuhan! Bersyukurlah untuk salib dan kubur yang kosong! Bersyukurlah atas kasih-Nya yang tak berkesudahan!

Saya benar-benar percaya bahwa saksi terbesar bagi Kristus adalah mereka yang telah mengalami kehidupan terburuk namun memiliki sikap terbaik, terus memuji Tuhan apa pun yang terjadi.

 

Hak cipta oleh Pastor Jeff Schreve, disadurkan dari crosswalk.com.

Ikuti Kami