It's Okay To Not Be Okay

It's Okay To Not Be Okay

Claudia Jessica Official Writer
2032

Apakah kamu pernah berusaha menutupi perasaanmu  atau emosi di depan orang lain atau mungkin di depan orang yang kamu kasihi? Atau justru kamu adalah tipe orang yang tidak bisa menutupi perasaanmu?

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi kesedihannya. Sebagian orang memilih diam, sebagian memilih menyembunyikannya, sebagian memilih mengekspresikannya, dan sebagian lagi memilih untuk menutupinya.

Ada berbagai alasan mengapa seseorang sulit mengekspresikan emosinya dan cenderung memilih untuk menutupi perasaannya.

Pertama, kamu sangat sensitif. Tidak menunjukkan emosimu bukan berarti kamu tidak memilikinya. Terkadang kamu merasa lelah untuk terlibat dengan emosi sepanjang hari sehinga kamu memilih untuk dia. Terlebih lagi, kamu juga mungkin merasa takut ditolak jika membuka diri tentang emosimu.

Kedua, kamu takut menimbulkan kekacauan. Terkadang ketika seseorang mengekspresikan emosinya dan mengakibat sebuah kekacauan, orang tersebut cenderung memilih untuk tidak ekspresif.

Ketiga, menjadi rentan. Upaya untuk menghindari kerentanan emosional sering dikaitkan dengan kesulitan mengekspresikan emosi. Rasa takut akan kerentanan ini akhirnya menjadi rasa takut akan penolakan atau pengabaian.

Apa akibatnya jika kita memendam emosi?

Ketika emosi tidak dikeluarkan, energi negatif hasil dari emosi tidak pergi dari tubuh dan akan tertahan dalam tubuh. Energi negatif yang seharusnya dikeluarkan menjadi tersimpan dalam tubuh dan dapat mengganggu fungsi organ tubuh, termasuk otak.

 

BACA HALAMAN SELANJUTNYA -->

Energi dari emosi yang ditekan ini bisa menjadi penyebab berbagai penyakit seperti, tumor, pengerasan arteri, kaku sendi, hingga melemahkan tulang yang dapat berkembang menjadi kanker, melemahkan system kekebalan tubuh, dan membuat tubuh rentan terhadap penyakit.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Psychosomatic Research ini menemukan bahwa memendam emosi dapat meningkatkan risiko kematian karena penyakit jantung dan juga kanker (Chapman, et al., 2013). Penelitian ini juga turut membuktikan penelitian sebelumnya yang menghubungkan antara emosi negatif, seperti marah, cemas, dan depresi, dengan pengembangan dari penyakit jantung (Kubzansky dan Kawachi, 2000).

Peneliti Finlandia melaporkan bahwa orang-orang dengan diagnosis ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi, juga dikenal sebagai Alexythymia, memiliki kadar zat kimia inflamasi, seperti protein C-reaktif sensitivitas tinggi (hs-CRP) dan interleukin (IL-6), yang lebih tinggi dalam tubuh. CRP merupakan penanda inflamasi untuk jantung coroner.

Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa memendam emosi dapat memicu penyakit dalam tubuh.

Lalu bagaimana agar kita berhenti memendam emosi?

Jujur pada diri sendiri. Kamu tidak perlu mengekspresikan semua perasaanmu setiap waktu. Kamu bisa mengatakan apa yang kamu rasakan sejujurnya kepada dirimu tentang apa yang kamu rasakan. Jangan sembunyikan dan mengelakkan perasaanmu.

Pahami yang kamu rasakan. Terkadang kita merasa tidak tahu dan bingung tentang apa yang kita rasakan. Kenali perasaanmu dan renungkan apa yang menjadi penyebabnya.

Bicarakan dengan orang lain. Tuhan menciptakan orang lain sebagai penolong. Kamu bisa mencari orang yang hormati seperti, kakak rohani, pendeta atau bahkan orang lain dan membicarakan pada mereka tentang apa yang kamu rasakan. Orang tersebut bisa saja sudah melalui apa yang saat ini kamu hadapi sehingga dia dapat membantumu lebih tenang.

 

Jadi JCers, merasakan senang, sedih, marah, bingung, kecewa adalah perasaan dan emosi yang wajar kita hadapi. Tidak apa-apa untuk mengungkapkan apa yang sedang kamu rasakan. Ingatlah bahwa Tuhan mengasihi kamu apapun yang terjadi. Tuhan memberkati.

Sumber : berbagai sumber
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami