5 Pelajaran Iman Dari Wanita Berpengaruh di Dunia

5 Pelajaran Iman Dari Wanita Berpengaruh di Dunia

Lori Official Writer
6459
Orang Kristen tentu tak lagi asing dengan kisah iman dari sederet tokoh laki-laki di Alkitab seperti Abraham, Daud, Daniel, Salomo hingga Yusuf. Sedang tokoh perempuan dituliskan tentang kisah Rut, Naomi, Ester dan Maria sebagai perempuan-perempuan pilihan Tuhan oleh karena imannya.

Kisah iman perempuan berpengaruh di zamannya ini ternyata masih sangat relevan dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Kita berbagi pertempuran, kesedihan, keraguan dan sukacita yang sama. Begitu pula dengan perempuan-perempuan berpengaruh di dunia, seperti Bunda Teresa, Catherine Booth William dan Galdys Aylward, lewat perjalanan hidupnya mengajarkan tentang iman, ketaatan, pelayanan dan panggilan.

Berikut 5 pelajaran yang patut kita contoh dari perempuan-perempuan tersebut.

1. Jadi taat itu tidak nyaman

Saat suami Chaterine Booth William tiba-tiba jatuh sakit, ia tetap taat menjalankan tugas khotbah kelilingnya. Meski kondisi pribadinya tidak benar-benar baik, Cahterine tetap setia menerima proses yang Tuhan berikan. Selama tiga dekade menjalankan perannya baik sebagai istri, ibu dari empat anak dan pengkhotbah, pada akhirnya ia dan suami sukses mendirikan The Salvation Army. “Bukan saya yang melakukannya, tetapi Roh Kudus. Dengan empat anak kecil, kelihatannya sangat mustahil untuk berkhotbah. Yang saya lakukan adalah mengambil langkah pertama,” tutur Chaterine.

 

Baca Juga: Ini 4 Tokoh Perempuan Penting Dalam Alkitab, Punya Pengaruh dan Beriman Besar

 

2. Ada peluang dibalik jalan terbuka

Direktur China Inland Mission, Gladys Aylward awalnya mengaku tidak cukup pintar dan masih sangat muda untuk menjalankan misi penginjilan. Sehingga ia mencoba startegi dengan bekerja sebagai pembantu dan berlatih penginjilan di jalan-jalan London. Sembari mengumpulkan uang, ia membeli tiket perjalanan panjang melintasi Rusia dan Cina sendiri.

Di sebuah desa di Yangchen, Aylward mendirikan Inn of Eight Happiness, tempat pertama yang menawarkan makanan dan tempat tinggal bagi para pelancong dan kemudian berubah menjadi rumah bagi anak-anak yatim China. Aylward mengaku, perjalanan itu dipakainya sebagai kesempatan untuk memulai jalan yang ditetapkan Tuhan atas hidupnya.

 

3. Melayani dimana Tuhan tempatkan

Ruth Bell, istri penginjil terkemuka Billy Graham adalah salah satu perempuan yang bekerja sebagai missionaris di Tibet. Hingga pada akhirnya ia meninggalkan pelayanan itu setelah menikah dengan Billy Graham. Sebagai istri, Ruth berperan membesarkan lima anak dan mendukung Graham dalam pelayanannya.

Meski kerap menghadapi tantangan dari ruang publik sebagai istri seorang penginjil terkemuka di dunia, dia tak pernah menyesal dengan keputusannya meninggalkan pekerjaan misionaris di Tibet dan menikahi Graham.

Ruth percaya bahwa melayani Tuhan tidak selalu memerlukan pengorbanan yang radikal, tetapi sebaliknya dalam hal yang sederhana seperti memenuhi setiap tanggung jawab sehari-hari.

 

Baca Juga: 4 Tokoh Alkitab yang Paling Taat Sama Tuhan, Belajar dari Mereka Yuk!

 

4. Tetap fokus pada panggilan

Mary McLeod Bethune adalah perempuan kulit hitam lulusan Moody Bible Institute di Chicago. Ia rindu suatu saat akan melayani ke Afrika. Sayangnya, panggilan itu harus pupus ditengah jalan. Hal itu tak menghilangkan niatnya untuk kembali membuka misi pelayanan baru yaitu mendirikan sekolah bagi anak-anak kulit hitam di Amerika.

Dengan tetap berfokus pada panggilan itu, Bethune berhasil mendirikan Daytona Literary and Industrial School for Training Negro Girls pada tahun 1904. Hari ini, sekolah yang pertama kali hanya memiliki enam siswa perempuan itu sudah memiliki sebanyak 3500 anak. “Orang-orang Afrika di Amerika membutuhkan Kristus dan sekolah sebanyak yang dibutuhkan di Afrika. Pekerjaan saya tidak di Afrika, tapi di negara saya sendiri,” tandasnya.

 

5. Keraguan dan iman selalu beriringan

Bunda Teresa adalah perempuan yang memberi pengaruh besar terhadap dunia lewat pelayanan kasihnya di India. Meski begitu, perjalanan Bunda Teresa tidaklah gampang, ia harus bergumul dengan keraguan dan imannya sebelum memutuskan untuk menjalani apa yang Tuhan ingin ia lakukan lewat hidupnya. Di tengah-tengah keputusasaan itu, Bunda Teresa memberi diri sepenuhnya kepada Allah. Alih-alih menghilangkan semangat missionarisnya, keputusasaan itu menghantarkan Bunda Teresa untuk menyebarkan kasih dan mendedikasikan diri bagi rakyat miskin di India. Lewat doa-doanya, ia dimampukan untuk menghalau keputusasaan itu dan diganti dengan kesanggupan yang luar biasa.

Bunda Teresa akhirnya mengerti bahwa keraguan kadang kala menjadi alat untuk semakin menajamkan iman seseorang agar semakin peka kepada kehendak Tuhan.

 

Baca Juga: Makna Sebuah Ketaatan Meninggalkan Jejak Yang Tak Pernah Disesali! Akhiri Dengan Baik.

 

Dari kisah-kisah di atas, kita diajarkan bahwa Tuhan memperhitungkan perempuan dan imannya di dalam melakukan pelayanan di dunia. Meskipun harus rela menjalani proses yang sakit, rumit dan penuh tantangan. Mari belajar meneladani iman mereka.

 

Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia. - Ulangan 8: 6

Sumber : Relevantmagazine.com | Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami