Fakta Alkitab: Iman 3 Pemuda Ibrani Menyelamatkan Raja Babel dari Berhala & Mengakui Tuhan

Fakta Alkitab: Iman 3 Pemuda Ibrani Menyelamatkan Raja Babel dari Berhala & Mengakui Tuhan

Claudia Jessica Official Writer
466

Sumpah Pemuda yang diadakan tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta adalah salah satu peristiwa tonggak sejarah menuju kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dihadiri dan diputuskan oleh pemuda-pemuda yang gagah berani membela tanah air.

Alkitab juga mencatat peristiwa bagaimana beberapa pemuda yang berusaha untuk setia kepada bangsa dan Allahnya meski menjadi tawanan.

Menyembah patung, atau mati! Adalah sebuah pilihan sulit yang harus dihadapi pemuda-pemuda tersebut. Seperti apa kisahnya?

 

Usaha mencuci otak pemuda Ibrani

Misael, Hananya dan Azarya bersama dengan Daniel adalah empat anak muda Ibrani yang dibawa sebagai tawanan ke Babel setelah Nebukadnezar mengalahkan bangsa Israel dan menghancurkan kota Yerusalem pada abad ke-6 SM. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang saleh yang kepadanya Allah telah mengaruniakan “pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat” (Daniel 1:17)

Nebukadnezar tahu bahwa banyak orang Israel yang memiliki potensi. Sehingga ia ingin memanfaatkan mereka dalam ambisinya memperluas kerajaan. Disatu sisi Nebukadnezar tidak ingin nasionalisme Israel tetap melekat dalam diri para tawanan yang di kemudian hari bisa membahayakan Babel. Oleh karena itu raja berusaha ‘mencuci otak’ para pemuda tersebut agar memiliki pola pikir Kasdim.

Hal pertama yang Nebukadnezar lakukan adalah menanamkan budaya dan nilai-nilai Kasdim, yang dimulai dengan mengajarkan bahasa dan tulisan Kasdim (Dan. 1:4).

Pengenalan aksara Kasdim akan mempercepat penyesuaikan diri mereka dengan budaya Kasdim. Kemudian Nebukadnezar mengubah identitas mereka, dengan mengubah nama-nama Yahudi mereka menjadi nama-nama kasdim.

Hananya yang berarti “Tuhan menunjukkan kasih Karunia” dinamai Sadrakh, Misael yang berarti “Siapa yang setara dengan Allah” dinamainya Mesakh, dan Azarya yang berarti “Tuhan Menolong” dinamai Abednego. Kemudian hal terakhir yang dilakukan oleh Nebukadnezar adalah mengubah gaya hidup para tawanan dengan memberikan santapan dan minuman raja (Dan. 1:5).

 

Pemuda yang berani mengambil resiko

Sungguh menarik memperhatikan bahwa Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak menolak pola pendidikan baru yang diberikan. Mereka juga tidak keberatan mengubah nama mereka. Namun ketika harus mengubah gaya hidup dengan menikmati santapan dan anggur yang biasa diminum raja, mereka menolaknya dengan keras.

Makanan dan anggur yang ditawarkan pada mereka adalah sama dengan yang disajikan kepada raja, yakni makanan dan anggur yang mungkin telah dipersembahkan kepada berhala. Memakan makanan demikian bertentangan dengan iman mereka dan ini berarti melanggar hukum Allah (Imamat 10:10, Ef. 5:18). Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak mau kompromi sedikitpun pada sesuatu yang melanggar perintah Tuhan.

Kemudian pemuda-pemuda itu hanya makan sayur dan minum air putih. Hasilnya pun sangat kelihatan bahwa mereka tampak jauh lebih sehat dibandingkan mereka yang makan makanan raja. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berani mengambil risiko, kemudian Allah menunjukkan kuasa-Nya dan memelihara kekudusan mereka sebagai umat Allah.

 

BACA JUGA: Wow Keren, 2 Pemuda Kristen Ini Turut Jadi Pelopor Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928!

 

Perintah menyembah patung

Berbeda dengan Daniel yang dipekerjakan Nebukadnezar di istana raja, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diangkat raja kepada kedudukan yang bertanggung jawab di dalam pemerintahan Babel (Dan 2:49). Kedudukan mereka yang tinggi, memungkinkan mereka dapat menikmati banyak hal yang tidak didapat oleh orang Yahudi lainnya tetapi juga oleh kebanyakan orang pribumi atau orang Kasdim itu sendiri.

Suatu ketika Nebukadnezar membuat patung emas yang tingginya enam puluh hasta (27 meter) dan lebarnya enam hasta (2,7 meter). Ia kemudian memberikan perintah agar semua orang, baik rakyat maupun seluruh pejabat yang ada di Babel untuk menyembah patung berhala itu. Orang yang melanggar perintah tersebut akan dibakar dalam dapur perapian.

Dalam buku “Catatan Ayat Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan” menerangkan bahwa ada dugaan pada saat itu Daniel sedang mengadakan perjalanan keliling negeri untuk kegiatan kerajaan, sehingga tidak ada dalam penyembahan patung berhala.

 

Pilihan Sulit: Hidup atau Mati

 

Baca halaman selanjutnya -->

Pilihan Sulit: Hidup atau Mati

Ketika hari dimana semua orang harus menyembah patung berhala tiba, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego didapati tidak mengindahkan perintah raja. Mereka pun terancam dihukum mati (Dan. 3:6).

Karena hal tersebut raja kemudian memanggil Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dan menyuruh ulang ketiganya untuk menyembah berhala. Mereka pun dihadapi pada pilihan sulit: mematuhi perintah raja dengan menyembah berhala yang dapat menjamin kehidupan dan kedudukan mereka, atau tetap tunduk kepada Allah Israel yang memelihara bangsanya.

Ketiganya berkata bahwa mereka hanya akan menyembah Allah dan percaya bahwa hanya Allah yang dapat melindungi mereka. Bahkan seandainya Allah tidak menyelamatkan mereka, maka mereka akan tetap percaya kepada Allah Israel (Dan. 3:15-18). Raja pun makin geram dan memerintahkan mereka dilemparkan ke dalam tungku perapian yang menyala-nyala.

Namun, apa yang terjadi sangatlah mengherankan raja dan para penasihatnya. Bukannya hangus terbakar, para pemuda itu justru berjalan-jalan dengan bebas di dalam dapur perapian, dan bukan hanya mereka bertiga tetapi ada seseorang bersama mereka yang “rupanya” seperti anak dewa. (Daniel 3:25)

Dengan segera, raja memanggil Sadrakh, Mesakh, dan Abednego untuk keluar dari perapian yang menyala-nyala. Dan tampaklah bahwa mereka tidak terbakar sedikit pun. Karena hal tersebut, Daniel 3:28 mencatat bahwa raja Nebukadnezar menaikan pujiannya kepada Allah.

Iman dan kepercayaan ketiga pemuda tersebut membuat Allah menyelamatkan mereka. Bahkan raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel (Dan. 3:30).

 

Itulah semangat beberapa pemuda Yehuda dalam masa pembuangannya. Meskipun nama mereka telah diubah, tetapi ketiga pemuda Ibrani ini tetap memelihara komitmen dan iman mereka kepada Allah bangsanya, Israel.

Apapun tantangan dan kondisinya, semangat mendekatkan diri kepada Tuhan selalu dipegang oleh pemuda-pemuda ini. Mereka tetap beriman tanpa kompromi.

Hal ini mengingatkan kita bahwa “lingkungan dan keadaan” tidak dapat mengusik komitmen rohani kita kepada Allah.

 

Sumber : jawaban channel
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami