7 Prinsip Pengelolaan Keuangan yang Tuhan Mau Orang Kristen Lakukan

7 Prinsip Pengelolaan Keuangan yang Tuhan Mau Orang Kristen Lakukan

Lori Official Writer
1076

Kehadiran iklan di berbagai platform digital menjadi salah satu alasan munculnya kebiasaan konsumerisme. 

Para pengiklan membuat kehidupan yang ditampilkan dalam iklan mereka tampak menarik. Sehingga setiap orang yang menyaksikannya mulai digugah, lalu mulai merasa tidak lengkap hingga akhirnya terjebak untuk membeli kebahagiaan yang ditawarkan pengiklan.

Tentu saja sulit bagi kita untuk menjaga keinginan untuk memiliki semua hal menarik yang ditawarkan dunia. Karena itulah penting sekali untuk memahami apa yang Tuhan sebenarnya inginkan melalui keuangan kita.

Menyenangkan diri sendiri dengan uang yang kita punya memang tidak salah, asal dilakukan dengan penganggaran yang baik dan tidak menjerat kita ke dalam hutang.

Ada 3 perbedaan pandangan penggunaan uang menurut dunia dan Tuhan.

Dunia: Habiskan semua uang yang ada untuk dirimu sendiri. Jangan biarkan ada yang tersisa!  

Tuhan: Berikan 10% dari uangmu dan hasilkan lebih banyak supaya bisa memberi lebih dari itu.

Tidak ada tindakan memberi tanpa sengaja. Anda harus punya niat untuk hal itu. Karena itu, kita perlu menganggarkan 10% setiap bulannya untuk disisihkan sebagai pemberian. 

 

Baca Juga: 5 Kebiasaan Keuangan Yang Baik

 

Sementara banyak orang enggan memberi karena tidak punya cukup uang. Padahal masalahnya adalah bahwa mereka tidak menjadikan pemberian tersebut sebagai prioritas. Jika kita tidak punya niat untuk memberi, maka kita tidak akan terdorong untuk menghasilkan uang supaya bisa memberi. 

“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” (Amsal 3: 9-10)

 

“Memberi bukanlah prioritas dunia, tetapi prioritas bagi Tuhan.”

 

Dunia: Hutang bisa jadi alat untuk membeli hal-hal yang tidak bisa Anda miliki.

Tuhan: Semua hutang itu buruk. Tidak ada hutang baik.

Sebagian besar masyarakat kita memilih berhutang karena beragam alasan. Namun tak sedikit dari risiko hutang berdampak pada kebangkrutan, perceraian, tindakan kejahatan, depresi dan sebagainya.

Alkitab tidak mengatakan bahwa hutang adalah dosa. Tetapi hutang dianggap buruk karena risikonya yang sangat fatal. 

“Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.” (Amsal 22: 7)

“Dunia memperbudak manusia dengan hutang, Tuhan membebaskan manusia dari hutang.”

Dunia: Kamu hanya hidup satu kali! You only live once. Manjakan dirimu lebih dulu soal urusan menabung itu bisa belakangan. 

Tuhan: Tahanlah keinginanmu dengan menabung. Nanti kamu akan menikmati hasilnya.

“Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya.” (Amsal 21: 20)

“Dunia hanya mengejar kesenangan sesaat, Tuhan menawarkan kesenangan kekal.” 

Dari tiga hal di atas, kita bisa menyimpulkan jauhnya perbedaan antara memakai uang tanpa anggaran dengan memakainya sesuai perencanaan.

Supaya kita semakin mengerti dengan bagaimana seharusnya mengelola keuangan, pahami lebih dulu 7 prinsip ini:

Prinsip 1: Uang kita adalah milik Tuhan

“Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.” (Hagai 2: 8)

Ini adalah dasar yang terutama yang harus kita pahami soal uang. Sebagai Tuhan, Dia adalah pemilik dari segala sesuatunya, termasuk uang kita.

 

Baca Juga: 3 Pengeluaran Ekstra Akibat Emosionalitas

 

Prinsip 2: Belajar untuk merasa puas

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4: 19)

Mudah sekali bagi kita untuk tergoda dengan keinginan kita sendiri. Iklan dan media sosial membuat kita menjadi konsumerisme dan merasa tidak pernah puas dengan apa yang kita punya saat ini.

Ingatlah ayat di atas bahwa hanya dari Tuhan saja kita bisa merasakan kepuasan sejati.

Prinsip 3: Sisihkan uangmu untuk memberi

“Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.” (1 Timotius 6: 18)

Sekalipun kita berhak menghabiskan uang yang kita punya. Tetapi ingatlah bahwa dibandingkan menghabiskannya untuk kepentingan sendiri, memberi atau membagikan uang yang kita hasilkan bagi orang lain akan jauh lebih membahagiakan.

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami