Ketika Penderita Virus HIV Seperti Saya Bertobat – Iwan Harto

Ketika Penderita Virus HIV Seperti Saya Bertobat – Iwan Harto

Lori Official Writer
2033

Nama saya Iwan Harto. Saya mulai terjerumus kedalam pergaulan bebas karena saya putus sekolah. Saat itu saya mulai bergaul dengan orang-orang yang senasib dengan saya. Karena saya berpikir bahwa mereka akan menghargai saya.

Kadang saya disuruh beli minuman, saya dapat upah. Di situ juga saya ikut minum. Saya ditawari aqua jenis sabu dan di sana saya juga memakai barang haram itu.

Tiap hari disuruh, tiap hari saya pun memakai (narkoba). Sampai saya mulai kecanduan. Seiring waktu, teman-teman sudah tak lagi ada yang mau kasih saya barang itu, uang pun gak ada. Sampai akhirnya saya ajak teman saya mencuri rumah kosong. 

Sayangnya, saat saya mulai mengeluarkan barang ada orang yang mengenali saya. Di hari berikutnya, orang-orang mendatangi saya dan menangkap saya. Di situ saya dipukuli dan dibawa ke pos RT. Di sana saya dihajar babak belur.

Saat itu papa saya dipanggil sama RT dan ditanya-tanya dan dibentak-bentak. Melihat papa saya diperlakukan seperti itu, saya jadi sedih. Papa saya disuruh milih; mau tanggung jawab atau anaknya masuk penjara.

Papa memilih untuk bertanggung jawab. Saya lalu dibawa pulang. 

Tapi kejadian itu bukannya membuat saya bertobat dan menyesal. Sebaliknya, saya malah semakin menjadi-jadi. Saya mencari cara bagaimana supaya orangtua saya tidak tahu apa yang saya lakukan. 

 

Baca Juga: Gavrilla Setiawan, Masih Muda Tapi Divonis Kanker Stadium 4

 

Saat itu terbersit dalam pikiran untuk keluar dari rumah. 

Sejak keluar dari rumah, setiap hari saya melakoni kejahatan jadi perampok dan maling. Hasilnya saya pakai untuk minum-minuman ke diskotik dan sewa PSK. Sampai dia jadi pacar saya dan tinggal bareng sama saya.

Saya jalani kehidupan seperti itu selama tiga tahun. 

Walau begitu, ada perasaan takut yang muncul dalam hati saya. Di satu sisi, saya melihat teman saya sendiri ditembak mati saat tertangkap polisi. Saat itu dia melawan dan polisi tembak mati dia ditempat. 

Kejadian itu yang membuat saya menjadi paranoid. Saya berpikir saya tidak mau hidup saya seperti ini terus. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk pergi jauh. Saya juga mau berhenti sebagai pecandu. Walaupun ada keinginan untuk mau memakai narkoba, saya coba tahan dengan mencari kesibukan. Sampai akhirnya saya bisa melewati masa-masa itu.

Selama hampir 2 tahun di Surabaya, saya menjalani hidup dengan baik tanpa narkoba. Saya juga bergaul dengan orang-orang baik.

 

Baca Juga: Cita-cita Kuliah Tak Tercapai, Gracella Fidelia Kecewa Sama Tuhan

 

Tapi suatu hari, saya jatuh sakit. Badan saya mulai demam, pusing dan mual. Sampai akhirnya saya dirawat di rumah sakit. Setelah beberapa waktu sembuh, saya kembali sakit lagi.

Saat diperiksa, dokter menemukan kejanggalan. Dia meminta saya untuk cek darah. Setelah hasilnya keluar, dokter mendiagnosa saya menderita virus HIV. 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Pada saat saya divonis HIV, saya merasa hancur. Saya merasa diri saya kotor dan tidak berguna. Apalagi itu adalah penyakit yang mematikan. Saya merasa hidup saya sudah tak lagi punya harapan.

Setelah mempertimbangkan keadaan saya, saya memutuskan pulang ke Jakarta. Di situ saya minta maaf ke orangtua saya. Saya bilang saya sakit. Mereka merawat saya.

Rekam medis saya dibawa ke Jakarta. Lalu dicek dan ternyata tubuh saya sudah banyak mengalami komplikasi akibat virus HIV tersebut. Saya mengalami infeksi paru-paru, TB paru, TB kelenjar, fungsi hati yang gak normal, sama Hepatitis C. Jadi penyakit saya sudah susah diobati.

Di momen saya sudah tak berdaya, saya melihat papa dan mama saya merawat saya dengan kasih. Bagaimana cinta mereka ke anaknya. Di situlah saya yakin gak ada papa di dunia dan papa di surga mau anaknya mati dengan sia-sia.

 

Baca Juga: Abdul Gofur, Anak Laki-laki Satu-satunya yang Pilih Bunuh Diri Karena Ditolak Keluarga

 

Saya sadar waktu itu bahwa Tuhan kasih saya kesempatan kedua untuk hidup. Ada satu momen yang saya gak akan pernah bisa lupain. Di saat saya sekarat, saya dikasih hadiah Alkitab. Seumur-umur saya gak pernah dapat kado.

Saya juga mendapat ayat tentang wanita pendarahan yang hanya menjamah jubah Yesus saja dia sembuh. Dari situlah saya meyakini bahwa Tuhan itu baik. Sebelum tidur saya sempatkan untuk berdoa. Saya peluk Alkitab itu. Pada dasarnya saya mau percaya. Saya tahu bahwa untuk sembuh dari virus ini mustahil bagi saya, tetapi tidak mustahil bagi Tuhan.

Setelah saya berdoa, mohon ampun, saya merasakan ada kekuatan di dalam diri saya. Yang sebelumnya tidak bisa berdiri dan berjalan, sekarang saya mampu sendiri. Bisa makan sendiri dan berangsur-angsur pulih.

Setelah sebulan, kondisi saya membaik. Tahap pengecekan terakhir saya dinyatakan sembuh. Infeksi paru-paru saya sembuh, TBC sembuh dan fungsi hati normal. Walaupun virus HIV masih ada. Tapi saya tidak pernah takut hidup berdampingan dengan HIV karena saya percaya Tuhan itu ada dan selalu menjaga saya. Saya yakin Tuhan kasih kekuatan buat saya.

 

Bahan Renungan

Masalah yang dialami Iwan Harto diawali dari pergaulannya yang buruk. Sejak putus sekolah, Iwan memilih untuk bergaul dengan orang-orang yang tidak baik. Lama kelamaan, dia tertular oleh kebiasaan buruk dari teman-temannya. 

 

Baca Juga: Tommy Wong: Anak Yatim yang Sukses Setelah Gagal Berulang Kali

 

Lewat kisah kesaksian Iwan, kita diingatkan beberapa hal. Pertama, bahwa ‘Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik’ (1 Korintus 15: 33). Firman Tuhan adalah pelita hidup. Karena itu kita harus menjaga hidup kita sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Kedua, keinginan untuk mau berubah akan menggerakkan Tuhan untuk bekerja. Jika Anda sungguh-sungguh ingin berubah, segeralah melakukannya. Minta Tuhan menolong Anda untuk mematikan setiap kebiasaan yang bisa membunuh Anda.

 

 

Jika Anda sedang mengalami pergumulan dalam hidup Anda, jangan putus harapan. Tuhan setia menolong Anda. Hubungi SAHABAT 24 kami melalui kontak Whatsapp 0822 1500 2424 atau klik link doa ini: https://bit.ly/ButuhDukunganDoa

 

Sumber : Solusi TV | Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami