#FaktaAlkitab: Afghanistan Keturunan Dari Sepuluh Suku Israel yang Terhilang?

#FaktaAlkitab: Afghanistan Keturunan Dari Sepuluh Suku Israel yang Terhilang?

Lori Official Writer
1187

Tak banyak yang tahu bahwa ternyata ada orang Yahudi di Afghanistan lho!

Ialah Zabulon Simintov, seorang pria yang diyakini sebagai Yahudi terakhir di Afghanistan. 

Selama 2500 tahun, komunitas Yahudi pernah tinggal di Afghanistan, di mana puluhan ribu di antaranya bermukim di Herat. Namun sejak abad ke-19, mereka berangsur-angsur meninggalkan negara itu dan memutuskan untuk menetap di Israel.

 

Sejarah Orang Yahudi di Afghanistan

Afghanistan adalah sebuah negara yang terkurung daratan dan diapit di antara Asia Selatan dan Asia Tengah. Di tahun 2019 penduduk Afghanistan berjumlah sekitar 38 juta. Negara ini berbatasan dengan Pakistan, Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Tiongkok jauh di timur laut.  

Wilayah Afghanistan sudah ditinggali manusia sejak zaman batu tua. Lokasinya yang strategis menjadikannya sebagai bagian dari jalur sutra. Beberapa abad ke belakang, Afganistan telah menjadi tempat tinggal untuk banyak orang dan telah menjadikannya  sebagai objek dari banyak kampanye militer, seperti Aleksander Agung, Kekaisaran Maurya, Arab Muslim, Mongolia, Inggris, Rusia hingga dunia barat.

 

Manuskrip Eksistensi Yahudi di Afghanistan

Pada tahun 2013, Perpustakaan Nasional Israel mengungkap sejumlah besar dokumen dan manuskrip berbahasa Hebrew (Ibrani) yang ditemukan di gua-gua bekas wilayah yang dikuasai Taliban di Afghanistan.

Manuskrip ini menjadi bukti fisik pertama komunitas Yahudi di wilayah yang berusia ribuan tahun tersebut. Oleh para peneliti, dokumen atau manuskrip tersebut dinamakan Afghan Geniza atau Genizah Afghanistan. 

 

Baca Juga: #FaktaAlkitab: Kemenangan Tercerdik Bangssa Israel Melawan Kota Ai dalam Alkitab

 

"Afghan Genizah" menandai arsip terbesar yang ditemukan sejak "Cairo Genizah" yang ditemukan di sebuah sinagoga Mesir lebih dari 100 tahun sebelumnya.

Genizah adalah istilah Ibrani yang diterjemahkan menjadi "penyimpanan" dan digunakan untuk merujuk ke gudang di sinagoge atau kuburan tempat buku dan kertas Ibrani disimpan. Di bawah hukum Yahudi, sangat dilarang untuk membuang tulisan-tulisan yang berisi nama Tuhan, sehingga lebih baik dikubur atau disimpan.

Haggai Ben-Shammai, selaku direktur akademik perpustakaan menyatakan bahwa, “Kami memiliki banyak sumber sejarah tentang pemukiman Yahudi di daerah itu (Afghanistan).” 

Ben-Shamma melanjutkan bahwa, “Ini adalah pertama kalinya kami memiliki banyak koleksi manuskrip yang mewakili budaya orang Yahudi yang hidup [di Afghanistan].”

Pada November 2016, lebih dari 250 teks kuno tambahan dari koleksi yang sama diperoleh dan dipajang di Perpustakaan Nasional Israel. Naskah-naskah ini berasal dari abad 11, 12, dan 13, yang berisi doa-doa serta catatan perdagangan yang ditulis dalam bahasa Ibrani, Persia, dan Arab. 

 

Sejarah Yahudi di Khorasan 

Afghanistan yang juga disebut Khorasan, memiliki sejarah Yahudi yang mungkin berasal dari 2.700 tahun yang lalu sejak penghancuran Bait Suci dan pengasingan Babilonia.  

“Sejarah orang Yahudi di wilayah ini dimulai sebelum kelahiran negara bangsa Afghanistan, sejarah orang-orang Yahudi yang tinggal di wilayah ini (terjadi) selama periode Cyrus Agung, kaisar Persia dan penaklukan Babel pada tahun 538,” kata Omar Sadr, seorang akademisi Afghanistan.

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

10 Suku Israel yang Hilang

Komentator alkitabiah awal menganggap Khorasan sebagai lokasi Sepuluh Suku yang Hilang. Saat ini, beberapa suku Afghanistan termasuk Durrani, Yussafzai, Afridi dan Pashtun percaya bahwa mereka adalah keturunan Raja Saul. 

Mereka menyebut diri mereka Bani-Israel, seperti bahasa Ibrani, B'nai Israel, yang berarti anak-anak Israel. Bahkan beberapa cendekiawan dan penulis di luar Yahudi pun menerima hal ini. 

Pashtun, salah satu kelompok etnis di Afghanistan juga percaya bahwa mereka adalah keturunan dari Sepuluh Suku Israel yang Hilang, yang kemudian memeluk kepercayaan lain. Lusinan nama dan adat Pashtun terdengar Yahudi, dari nama suku Pashtun Asheri dan Naftali hingga adat Pashtun tentang chuppah pernikahan dan penyunatan anak laki-laki pada hari kedelapan setelah kelahiran. Pashtun mengklaim bahwa kota Kabul adalah singkatan dari "Cain and Abel" dan Afghanistan berasal dari "Afghana," cucu Raja Saul dari suku Benyamin. 

Laporan lain menceritakan tentang orang-orang Yahudi Persia yang menolak Islam dan melarikan diri dari penaklukan Muslim pada abad ke-7 dan 8 dan menetap di wilayah Afghanistan. 

Pada tahun 1080, Musa bin Ezra menyebutkan lebih dari 40.000 orang Yahudi membayar upeti di Ghazni, sebuah kota besar di Sungai Gozan.

 

Baca Juga: #FaktaAlkitab: Nyaris Punah! Kaum Yahudi Selamat dari Pembunuhan Massal Karena Tokoh Ini

 

Sumber-sumber abad pertengahan menyebutkan beberapa pusat Yahudi di Afghanistan, di mana Balkh adalah yang paling penting. Sebuah komunitas Yahudi di Ghazni tercatat dalam sumber-sumber Muslim, yang menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi tinggal di sana pada abad kesepuluh dan kesebelas. 

Tablet batu dengan prasasti Ibrani yang berasal dari tahun 1115 hingga 1215 mengkonfirmasi keberadaan komunitas Yahudi di Firoz Koh, yang terletak di antara Herat dan Kabul. Namun, invasi Mongol tahun 1222 menghancurkan Afghanistan, dan komunitas Yahudinya. 

Sedikit yang diketahui tentang komunitas Yahudi kecil dan terisolasi di Afghanistan yang bertahan hingga abad ke-19. Pada tahun 1839, ribuan orang Yahudi kembali melarikan diri dari Persia, di mana otoritas Muslim mulai secara paksa mengubah mereka, menjadikan populasi Yahudi Afghanistan hingga 40.000. Mereka menetap di Herat, dan sebagian besar adalah pedagang dan pencelup yang berurusan dengan kulit, karpet, dan barang antik. Herat menjadi pusat populasi Yahudi di Afghanistan selama abad ke-19 dan awal abad ke-20, tetapi aktivitas dan partisipasi berkurang dan saat ini tidak ada kehidupan Yahudi yang terorganisir di sana. 

Menurut Omar Sadr, Raja Persia Nadir Afshar mendorong orang-orang Yahudi untuk menetap di wilayah tersebut pada tahun 1736 dengan alasan bahwa orang-orang Yahudi memiliki hubungan yang baik dalam jalur perdagangan di anak benua antara Asia Tengah, dan Arab.” 

Penurunan populasi Yahudi terjadi pada tahun 1870 setelah otoritas keagamaan di sana memberlakukan tindakan anti-Yahudi, yang memicu eksodus massal orang Yahudi ke Asia Tengah, Persia dan Palestina. Pembunuhan Raja Nadir Shah tahun 1933 memicu kampanye anti-Yahudi lainnya. Orang-orang Yahudi diusir dari sebagian besar kota Afghanistan, membatasi mereka di Kabul, Balkh atau Herat. Selain itu, orang Yahudi dilarang meninggalkan kota tanpa izin dan dipaksa membayar pajak khusus. 

 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Komunitas Yahudi Modern

Jewish Virtual Library atau Perpustakaan Virtual Yahudi, menyatakan bahwa sekitar 3.300 orang Yahudi tinggal di Afghanistan pada tahun 1936. Pada saat Israel didirikan tahun 1948, jumlah Yahudi di Afghanistan sekitar 5000 orang, namun mereka tidak dapat berimigrasi secara legal. Setelah pembatasan dicabut di tahun 1951, maka sebagian besar komunitas Yahudi Afghanistan pergi ke Israel.

Pada tahun 1969, hanya 300 orang Yahudi yang tinggal di Afghanistan, kebanyakan dari mereka pergi pada tahun 1979 setelah invasi Soviet. Pada tahun 1996, 10 orang Yahudi tetap berada di Afghanistan, yang hampir semuanya di Kabul. 

Zablon Simintov dan Isaac Levy adalah dua orang Yahudi terakhir di Afghanistan. Keduanya tinggal di sinagoga yang adalah satu-satunya di Kabul. Menurut Simintov, periode terbaik bagi orang Yahudi adalah selama era monarki negara itu, yang berakhir pada tahun 1973.  

 

Baca Juga: Fakta Alkitab Sejarah Kejatuhan Israel: Perang Salin dan Islam vs Kristen (Part 5)

 

Lebih dari 10.000 orang Yahudi keturunan Afghanistan sekarang tinggal di Israel. Populasi Yahudi Afghanistan terbesar kedua adalah di New York, dengan 200 keluarga. 

Tahun 2005, Isaac Levy meninggal yang menyisakan Zablon Simintov sebagai satu-satunya Yahudi yang ada di Afghanistan hingga saat ini. Dari berbagai sumber didapatkan bahwa di tahun 2021, Simintov berencana akan meninggalkan Afghanistan. Dan jika hal itu terjadi maka sinagoga akan ditutup, dan Yudaisme akan berakhir di Afghanistan.

 

 

Anda diberkati dengan konten-konten kami? Mari dukung kami untuk terus memberkati lebih banyak orang melalui konten-konten terbaik di website ini.

Yuk bergabung jadi mitra Jawaban.com hari ini. 

 

DAFTAR

Sumber : Jawaban
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami