Tiga Kali Bertanding, Tiga Kali Kantongi Medali! Profil dan Perjuangan Leani Ratri Oktila

Tiga Kali Bertanding, Tiga Kali Kantongi Medali! Profil dan Perjuangan Leani Ratri Oktila

Claudia Jessica Official Writer
610

“Ratu parabadminton” adalah sebuah julukan yang diberikan kepada Leani Ratri Oktila, seorang atlet difabel. Rasanya julukan ini memang tidak berlebihan bagi Leani yang menorehkan prestasi gemilang di ajak Paralimpiade Tokyo 2020.

Bagaimana tidak, dalam ajang Paralimpiade Tokyo 2020, Leani berlaga dalam tiga pertandingan dan berhasil mendapatkan medali dari seluruhnya.

Bersama dengan Khalimatus Sadiyah, Leani Ratri Oktila sukses meraih medali emas pada cabang olahraga parabadminton, dalam nomor ganda putri kelas SL3-SU5, Sabtu (04/09/2021). Leani/Khalimatus berhasil menaklukkan perwakilan China, Cheng Hefang/Ma Huihui dengan 2 gim langsung 21-18, 21-12 pada laga final yang digelar di Yoyogi National Stadium.

Prestasi yang mereka raih ini merupakan medali emas pertama bagi Indonesia pada Paralimpiade Tokyo 2020 sekaligus menjadi sejarah bagi Indonesia setelah penantian selama 41 tahun lamanya untuk merasakan medali emas Paralimpiade.

Selang satu hari, Leani Ratri Oktila bersama rekannya Hary Susanto berhasil meraih medali emas kedua bagi Indonesia pada cabang olahraga badminton nomor ganda campuran SL3-SU5.

Pada hari Minggu, 5 September 2021, Leani/Hary berhadapan dengan wakil Prancin, Lucas Mazur/Faustine Noel di Yoyogi National Stadium dan berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 23-22, 21-17.

Prestasi yang diraih Leani tak berhenti sampai di sini. Ia juga berhasil mendapatkan medali perak pada nomor tunggal putri pada pagi hari ini (06/09/2021). Berhadapan dengan perwakilan China, Heng Hefang, Leani kalah dengan pertandingan rubber game, skor 19-21, 21-17, 16-21.

Meski kalah di pertandingan terakhir, Leani berhasil mengantongi tiga medali adalah fakta.

Leani Ratri Oktila yang lahir pada 6 Mei 1991, merupakan anak dari pasangan F Mujiran (65) dan Gina Oktila (53). Anak sulung dari empat bersaudara ini menempuh perjalanan yang amat panjang hingga berhasil memperoleh dua medali emas dan satu medali perak pada pentas dunia Paralimpiade Tokyo 2020.

Ketika berusia 20 tahun, Leani mengalami kecelakaan dan menyebabkan patah tulang pada bagian kaki dan tangan kirinya. Kecelakaan ini menyebabkan kaki kirinya lebih pendek 7 cm dari kaki kanannya. Leani harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengalami gangguan permanen.

Kenyataan ini tentu pernah membuatnya patah semangat dan putus ada. Namun, alih-alih terpuruk terus-menerus, Leani yang telah menekuni olahraga badminton sedari kecil mulai bangkit dengan menekuni parabadminton, cabang olahraga badminton untuk atlet difabel.

Menurut pengakuannya, Leani merasa termotivasi ketika dirinya melihat semangat atlet difabel dari luar negeri.

BACA JUGA: 3 Kunci yang Bisa Dipelajari Pengusaha dari Olahragawan Soal Jadi Juara

“Melihat atlet kursi roda di sana luar biasa. Yang pasti saya lihat, sebelumnya kan saya pemain normal, saya melihat pemain-pemain difabel ini jauh luar biasa semangatnya dibanding yang normal,” pungkas Leani sebagaimana dikutip dari kompas.com.

Prestasi pertamanya diraih pada cabang olahraga badminton pada ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Riau tahun 2012. Pada ajang tersebut, Leani berhasil meraih satu medali emas dan satu medali perak.

Prestasi tersebut mengantarkannya untuk bergabung dengan Komite Paralimpiade Nasional (NPC) pada tahun 2013. Sejak bergabung dengan NPC, Leani semakin terpacu untuk meraih prestasi.

Leani diketahui sangat gigih dalam setiap latihannya. Hal ini terbukti dari kerja kerasnya yang seringkali datang lebih awal hingga menambah porsi latihannya.

Usaha keras yang dilakukan Leani tidak mengkhianatinya. Prestasi demi prestasi diraih oleh Leani Ratri di pentas internasional, termasuk enam medali emas ASEAN Para Games, tiga Asian Para Games, dan tiga Kejuaraan Dunia BWF.

Bahkan pada tahun 2018 dan 2019, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) menobatkan Leani Ratri Oktila sebagai atlet parabadminton putri terbaik.

Prestasinya dalam meraih banyak gelar juara pada turnamen baik perorangan maupun beregu membuatnya mendapatkan julukan Ratu Parabadminton.

Kegigihan Leani menjadi teladan bagi kita bahwa kekurangan bukanlah hambatan untuk bergerak maju. Tentu kita tidak akan pernah bergerak maju apabila terus-terusan fokus pada kemalangan. Namun sebaliknya, jika kita memiliki tujuan dan pengharapan, kita bisa membuktikan bahwa kita bisa bangkit, kita berharga, bahkan berprestasi, hingga mampu memuliakan nama Tuhan.

Sampai berita ini diterbitkan, Indonesia telah mendapatkan total sembilan medali dengan rincian dua emas, tiga perak dan empat perunggu. Pencapaian ini jauh melampaui target untuk mengumpulkan lima medali dalam ajang Paralimpiade Tokyo 2020.

BACA JUGA: Raih Medali Pertama Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020, Presiden Jokowi Sampaikan Ini

Sumber : berbagai sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami