Butuh Dukungan Doa, Kristen Afghanistan Gencar Diburu Kelompok Taliban

Butuh Dukungan Doa, Kristen Afghanistan Gencar Diburu Kelompok Taliban

Lori Official Writer
2786

Di sebuah rumah persembunyian di Kabul, Jailuddin (nama samaran) bersembunyi bersama 12 warga Afghanistan lainnya sejak Taliban menguasai kota tersebut hampir tiga minggu yang lalu.

Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama CBN News, Jailuddin dan teman-teman lainnya, yang merupakan bagian dari komunitas Kristen Afghanistan, menyampaikan bahwa mereka tidak memiliki paspor maupun surat izin pindah yang dikeluarkan oleh pemerintah AS. Karena itu harapan mereka untuk melarikan diri dari Negara tersebut sangat tipis. 

“Salah satu dari kami selalu terjaga di malam hari, selalu berjaga dan berdoa, jadi jika Taliban datang dan mengetuk pintu kami, kami harus memperingatkan semua orang,” kata Jailuddin kepada CBN News.

Dia melanjutkan, mereka memiliki keinginan untuk memberitakan injil kepada saudara-saudaranya yang lain. Namun kedatangan kelompok Taliban membuat mereka mengurungkan niat tersebut. 

“Kami punya banyak rencana untuk memberitakan injil kepada saudara saudari yang lainnya tetapi kemudian Taliban mengambil kendali sangat cepat sekali,” kata Sarah seorang pemimpin Kristen di Afghanistan.

 

Baca Juga: 65.000 Pengungsi Afghanistan Tiba di Amerika, Bagaimana Nasib yang Tinggal?

 

Saat ini kelompok Kristen ini sedang diincar oleh Taliban. Bahkan mereka terancam akan dihukum mati dengan cara dipenggal jika berhasil ditemukan. 

“Setiap hari saya menerima telepon, memperingatkan saya bahwa jika dia melihat saya lagi, dia akan memenggal kepala saya,” ungkap Jailuddin.

 

Taliban Serang Bandara Kabul

Pada Senin, 23 Agustus 2021 kelompok Taliban meluncurkan lima roket di bandara Kabul. Untungnya, serangan tersebut berhasil digagalkan oleh pasukan militer Amerika.

Pada hari Minggu, 30 Agustus 2021, Amerika meluncurkan serangan pesawat tak berawak yang menargetkan seorang pembom bunuh diri. Namun serangan tersebut menewaskan satu keluarga dari warga sipil yang terdiri dari 10 anggota keluarga.

“Saat kami tahu bahwa kami sudah menyebabkan nyawa tak berdosa tewas saat operasi kami, kami menyampaikannyasecara terang. Kami sedang menyelidiki hal ini,” kata John Kirby, juru bicara Departemen Pertahanan Amerika.

 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Sumber : CBN News
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami