Jangan Takut, Percaya Saja

Jangan Takut, Percaya Saja

Claudia Jessica Official Writer
      1382

Amsal 3:5

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

 

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 22; Efesus 5; Pengkhotbah 10-12

Suatu hari, saya pergi untuk bermain bersama suami saya David. Saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa permainan ini akan terasa menyenangkan, terlebih lagi saya akan bermain jetski ini bersama dengan suami saya. Saya suka berpetualang dengan suami saya. Ketika kami hendak keluar dari dermaga, David menoleh ke arahku dan menyeringai. Dia menyuruhku untuk bertahan, kemudian dia menarik gas nya.

Melompat dari jetski tampaknya lebih mudah ketika saya yang mengemudi, karena saya dapat memutuskan kapan waktu terbaik untuk melompat ke laut.  Tapi, duduk di kursi belakang sebagai penumpang membuatku lebih sulit untuk memutuskan kapan saya akan melompat.

Berada di belakang orang lain, sekalipun saya sangat mempercayai orang yang ada di depan saya, melompat dari jetski membutuhkan keyakinan. Satu-satunya hal yangharus saya pegang adalah jaket pelampungnya, dan pria yang ada di depan saya ini adalah orang yang akan membuat keputusan kapan kami melompat ke laut, sementara saya hanya mengintip dari balik bahunya. Sangat sulit untuk menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan kecepatan 50 mil per jam, angin akhirnya menghempaskan kamu ke dalam lautan.

Di perairan terbuka, angin yang menyengat mataku meyakinkanku bahwa aku akan terbang dari tempat dudukku, aku didorong keluar dari zona nyamanku dan menuju sesuatu yang lebih menggembirakan daripada yang kujalani sendiri.

Seluruh pengalaman itu berasal dari membiarkan orang lain duduk di kursi pengemudi, bahkan tanpa menggunakan sabuk pengaman bagiku.

Meskipun David tahu bahwa aku tidak ingin jatuh ke laut, dia tidak akan membiarkanku merasa benar-benar nyaman dengan apa yang kupilih. Karena jika benar seperti itu, kami tidak akan menyewa jetski dan hanya akan menggunakan perahu dayung. Dia memastikan agar kami mendapatkan pengalaman, kesenangan, dan pemandangan yang luar biasa.

Jika saya dapat mempercayai suami saya yang mengasihi saya, terlebih lagi saya harus memercayai Bapa Surgawi saya, yang mengetahui ketakutan, kebutuhan, dan kelemahan saya jauh lebih baik. Tuhan ingin membawa kita pada sebuah petualangan yang memungkinkan kita mengalami Dia dan ciptaan-Nya lebih lengkap dan menyenangkan daripada yang dapat kita bayangkan.

Fokus pada kekuatan kita membuat kita tidak terbuka terhadap petualangan yang terbentang di depan mata kita setiap hari.

Kita cenderung melupakan janji Allah yang luar biasa, bahwa, “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati” (Ulangan 31: 8).

Ketakutan dan kekhawatiran menunjukkan bahwa kita tidak benar-benar mempercayai janji itu, dan kita pikir bahwa kita akan melakukan pekerjaan yang lebih baik.

Sebaliknya, ketika kita membuat keputusan untuk mempercayai Tuhan, bahkan ketika hidup terlalu sibuk, kita menemukan kedamaian untuk mengambil napas dalam-dalam, mencium udara segar, dan menikmati ke mana Dia membawa kita.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu – 1 Petrus 5: 7

 

Hak cipta oleh Katherine Britton. Disadurkan dari crosswalk.com

Ikuti Kami