The Streets Were My Father, Kisah Anak Jalanan Tanpa Figur Ayah yang Bikin Menyayat Hati

The Streets Were My Father, Kisah Anak Jalanan Tanpa Figur Ayah yang Bikin Menyayat Hati

Lori Official Writer
344

Lee Habeeb memproduksi The Streets Were My Father: A Story of Hopelessness and Redemption sebagai pesan bagi semua anak yang tumbuh tanpa figur ayah tahu bahwa dalam hidup masih ada harapan. Harapan itu ada di dalam Tuhan.

Berdasarkan kisahnya, The Streets Were My Father menceritakan tentang kesaksian hidup tiga pria asal Chicago yang tumbuh tanpa figur ayah, menjadi anak jalanan dan keluar masuk penjara. Tapi kisah mereka tidak berakhir di sana. Karena pada akhirnya ketiganya mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Tentu saja film yang dibuat dengan konsep dokumenter ini dianggap penting dan menginspirasi bagi semua anak, yang bahkan  memiliki ayah dalam hidup mereka. Karena melalui perjalanan ketiga karakter dalam film ini yaitu Carlos Colon, Louis Dooley dan Leslie Williams bisa dilihat bagaimana kuasa Tuhan nyata mengubah hidup seseorang.

Kehidupan jalanan menghantar ketiganya masuk penjara. Tapi siapa sangka penjara justru menjadi tempat dimana Tuhan mengubah hidup mereka menjadi sosok yang baru di dalam Tuhan.

Sebagaimana dipaparkan dalam film, menurut statistic, sebanyak 2.3 juta narapidana di negara bagian adalah anak yang tumbuh tanpa figur ayah. National center for Fathering melaporkan bahwa secara mengejutkan 43% dari semua anak di Amerika hidup tanpa ayah, 85% anak muda di penjara berasal dari rumah tanpa ayah dan 90% anak tunawisma dan yang minggat dari rumah juga tumbuh tanpa ayah.

 

Baca Juga: Apa Sih yang Anak Laki-laki Butuhkan Dari Sosok Ayah?

 

Dengan data ini, Habeeb terdorong untuk membantu anak-anak yang hidup tanpa ayah dan yang terjebak dalam pergaulan buruk seperti kelompok geng, kejahatan dan kekerasan tahu bahwa mereka masih punya harapan. Habeeb ingin menyampaikan bahwa Tuhan bisa mengubah hidup semua orang, termasuk ketiga pria yang disampaikan dalam film dokumenter ini.

“Ada harapan. Kehidupan ketiga pria ini adalah bukti positif bahwa siapapun dapat memutuskan siklus hidup tanpa ayah ini dengan kuasa Tuhan. Memang, itu adalah motivasi pendorong salah satu karakter dalam film. Carlos Colo, dia tidak memiliki ayah dan dia tahu bahwa ayahnya juga tidak punya ayah. Carlos sangat ingin memutussiklus itu kepada putranya,” ungkap Habeeb.

Siapapun, kata Habeeb, pasti marah saat mengetahui bahwa dia tidak tumbuh dengan figur seorang ayah. Tapi Tuhan hadir dengan berbagai cara untuk memperkenalkan diri-Nya sebagai Bapa yang penuh kasih. 

“Begitu Louis memahami sifat kasih Tuhan, segalanya berubah baginya,” terangnya.

Lewat film ini, Habeeb berusaha menerjemahkan karakter Tuhan YANG sabar dan lembut. Dia ingin menyampaikan bahwa Tuhan selalu menunggu anak-anak-Nya untuk kembali. Sekalipun Dia memberikan kehendak bebas kepada semua orang. 

“Tidak ada unsur pemaksaan dari Tuhan dan kekuatan bukanlah bagian dari kasih Tuhan. Teladan kasih ke-Bapa-an Allah tidak ada duanya,” jelasnya.

 

Baca Juga: Teruntuk Ayah, Jangan Katakan ‘Tidak’ Saat Anak Minta 5 Hal Ini…

 

Sebagai pesan terakhir, Habeeb mendorong semua orang yang membutuhkan pertolongan untuk datang ke gereja lokal dan mencari tahu apa yang bisa gereja lakukan untuk membantu setiap persoalan yang dihadapi oleh siapapun yang membutuhkan bantuan.

Yang tak kalah penting untuk diperhatikan adaah, ada banyak anak muda yang membutuhka bantuan di luar sana. Mereka perlu dibimbing dan dimuridkan untuk menjadi lebih dewasa. Jadi gereja lokal bisa membantu memfasilitasi apa yang anak-anak muda saat ini perlukan, khususnya bagi mereka yang tumbuh di tengah keluarga tanpa  figur ayah.

Sumber : Christianpost.com
Halaman :
1

Ikuti Kami