Karena Alasan Ini, TD Jakes Sebut Gereja Sudah Mulai Tuli

Karena Alasan Ini, TD Jakes Sebut Gereja Sudah Mulai Tuli

Lori Official Writer
230

Di tengah masyarakat yang semakin terpecah, Uskup TD Jakes dengan tegas memperingatkan bahayanya jika gereja menjadi tuli terhadap amanat agung.

“Saya pikir hal pertama yang perlu kita lakukan adalah melakukan ekspedisi dan melampaui batas aman dari rumah ibadah kita dan sampai pada memenuhi amanat agung di Matius 28: 19 untuk pergi ke ujung dunia,” kata Jakes.

Namun dia menegaskan jika tindakan ini tidak bisa dilakukan tanpa pembekalan yang mumpuni. Karena itu, penting sekali untuk membimbing gereja-gereja lokal menghidupi Amanat Agung.

Jakes juga menekankan bahwa pengaruh tribalisme atau paham kesukuan, kepentingan golongan atau kelompok sendiri sudah merasuki gereja. Karena itulah tembok-tembok tersebut perlu dirobohkan dari tubuh Kristus.

“Anda harus merobohkan tembok itu dan tidak membangun tembok di antara kita. Tapi membangun lingkaran di antara kita dan mulai berdialog…Saya bicara tentang membangun pertemanan yang sungguh-sungguh dengan orang lain. Tentu akan sulit untuk membenci seseorang yang sudah kamu mengerti,” katanya.

Mengutip dari teladan Yesus dan tokoh-tokoh di Alkitab, Jakes menekankan pentingnya berempati dan mendengarkan orang lain. Menurutnya, dengan berkomunikasi lancar tapi kehilangan pendengaran, maka kemampuan berkomunikasi akan turun.

“Aku pikir gereja sudah tuli. Dan dengan melakukan itu, kami sangat sibuk mengajar dan berbicara. Dan kami membangun dialog yang tepat dan poin pembicaraan kami datar, kami tidak mendengarkan,” jelasnya.

Karena itulah, Jakes mendorong gereja untuk mendengarkan. “Kita harus mendengarkan. Kita menderita sebagai sebuah negara karena kita punya kementerian dan kepemimpinan dan masyarakat yang tampaknya tidak mau mendengar. Mereka sibuk berkelahi antara pihak kiri dan kanan, akibatnya mereka tidak bisa mendengar orang yang mereka wakili. Seolah apa yang orang pikirkan sama sekali bukan persoalan,” ungkapnya.

 

Baca Juga: Pernah Lalui Proses Sulit, Pendeta Ini Yakinkan Kalau Tekanan Mendatangkan Pertumbuhan

 

Dia pun menegaskan jika sebuah perubahan terjadi bukan saja karena pengaruh dari orang-orang yang tampil di depan layar televisi. Tetapi perubahan bisa dilakukan oleh orang-orang biasa yang mau belajar untuk memahami satu sama lain.

“Ini negara kita, bukan negara para pejabat terpilih, bukan snegara orang terkenal, bukan negara orang kaya. Ini adalah negara kita. Dan jika kita menginginkan perubahan, itu harus dimulai dari dalam hidup kita bukan menjadi marah dengan apa yang orang lain lakukan. Kita punya hak untuk membuat dunia ini jauh lebih baik. Mikrofon ada di tanganmu. Biarkan suaramu didengar. Tapi dengarkan juga orang lain,” kata Jakes, seperti dilansir Christianpost.com.

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA -->

Tribalisme Dalam Gereja

T.D Jakes bukanlah satu-satunya pemimpin evangelis yang memperingatkan bahaya tribalisme bagi gereja. 

Pada bulan Januari 2021 lalu, Russell Moore dari Gereja Southern Baptist juga memperingatkan bahwa kejahatan yang dilakukan terhadap kaum minoritas di China dan tempat-tempat lain muncul karena paham kesukuan dan dunia bahkan tidak menyadarinya.

“Yesus berkata supaya kita memperhatikan sesama kita yang dianiaya, yang dipukuli di pinggir jalan. Jadi mari berdoa untuk orang-orang yang teraniaya. Mari berdoa bukan hanya secara individu, tapi bersama dan menyebut nama mereka. Mari menjadi pembela orang-orang yang tidak dianggap, terintimidasi dan dianiaya di sekitar kita dan di komunitas kita sendiri karena kita adalah umat Allah,” pungkas Moore.

 

Baca Juga: T.D Jakes : Wanita, Percayalah Pada Tuhan dan Diri Sendiri

 

Allah menghendaki gereja-Nya menjadi gereja yang am. Dalam artian, menjadi satu dan fokus hanya untuk mengejar Amanat Agung-Nya. Tentu saja gereja tidak dibangun untuk mencapai tujuan pemimpin atau suku tertentu saja. Lebih dari itu, gereja harus membuka diri untuk pergi menyebarkan kasih kepada semua orang. Jadi sebagai gereja, mari belajar untuk memiliki belas kasih dan rasa sepenanggungan seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang murah hati dalam Lukas 10: 33-34, “Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.”

Sumber : Christianpost.com | Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami