Soal Prahara Kaya Karena Babi Ngepet di Depok, Kemenag : Jangan Percaya Mitos

Soal Prahara Kaya Karena Babi Ngepet di Depok, Kemenag : Jangan Percaya Mitos

Lori Official Writer
644

Kementerian Agama (Kemenag) turun tangan dalam meresponi isu kemunculan babi ngepet di Bedahan, Sawangan, Depok. 

Setelah sempat jadi bahan perbincangan warga, Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Kamaruddin Amin meyakinkan warga agar tidak percaya mitos. 

Kamaruddin menyampaikan jika tuduhan seorang warga soal tetangganya yang dianggap kaya karena praktik babi ngepet tidak benar. Karena itu warga diharap bisa berpikir realistis dan rasional. 

“Sebaiknya masyarakat tidak mudah percaya terhadap hal-hal mistis, asumsi terkait babi ngepet tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, bahkan mitos yang sebaiknya dihindari agar tidak meresahkan dan membuat kegaduhan di masyarakat,” katanya.

Dia pun meminta masyarakat untuk bekerja dan mencari uang sesuai dengan ajaran agama masing-masing. 

“Kalau mau sukses atau menjadi orang kaya dan lainnya, jangan menggunakan atau mencari jalan pintas yang bertentangan dengan hukum alam, hukum sosial, karena hasilnya juga pasti gagal dan menimbulkan penyesalan,” katanya.

 

Baca Juga: Pesan Menohok Dari Pendeta Gilbert Lumoindong dan Menag ke Pendeta Jozeph Paul Zhang

 

Awal Mula Isu Babi Ngepet di Depok

Isu kemunculan babi ngepet di Depok berawal dari penangkapan seekor babi. Warga pun menduga jika itu adalah babi ngepet. 

Tak sampai di situ, seorang wanita lalu memberikan pengakuan jika dirinya tahu sosok di balik babi ngepet tersebut. Dia meyakini jika itu adalah tetangganya sendiri karena curiga tetangganya itu tetap punya banyak uang meskipun menganggur di rumah saja.

“Dari kemarin saya sudah pantau Pak orang ini. Ini dia berumah tangga dia nganggur tapi uangnya banyak. Saya sudah lewat rumahnya, udah saya lempari sesuatu di depan rumah biar ketahuan. Dia ini dekat rumah teman saya. Teman sayalah yang ngelaporin sebelum terjadi ini,” ucap wanita bernama Wati itu.

Sayangnya, Wati enggan mengungkapkan identitas tetangga yang dituduhnya sebagai pelaku praktik babi ngepet. Lantaran dianggap mencemarkan nama baik kampung setempat, warga pun mendesak supaya wanita tersebut meminta maaf.

Pada Selasa, 27 April 2021, Wati pun meminta maaf kepada warga setempat. 

 

Pelajaran Penting

Kasus babi ngepet ini mengajarkan kita bahwa asumsi terhadap orang lain itu berbahaya. Apapun motifnya, tuduhan yang tidak berdasar akan sangat merugikan orang lain.

Mari memandang setiap hal di sekitar kita dengan cara pandang yang benar. Supaya kita tidak mudah berasumsi buruk tentang kehidupan orang lain. 

 

Baca Juga: Terimakasih Mitra CBN! Karena Anda, Anak-anak di Nias Punya Sepatu Baru

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami