Hindari 6 Hal Ini Waktu Kenalkan Tuhan ke Anak

Hindari 6 Hal Ini Waktu Kenalkan Tuhan ke Anak

Lori Official Writer
546

Mengenalkan Tuhan ke anak-anak sama sekali gak mudah. Karena pikiran anak yang begitu polos, membuat mereka mudah sekali percaya dan lebih kritis mempertanyakan tentang siapa itu Tuhan.

Karena itu, baik orangtua maupun guru-guru sekolah minggu mungkin perlu memperhatikan 6 hal ini supaya anak lebih mudah memahami siapa itu Tuhan.

1. Jangan Remehkan Anak

Kesalahan yang banyak kita lakukan waktu mengajarkan soal Tuhan ke anak adalah kita cenderung berpikir kalau anak-anak balita masih kurang cukup umur untuk mendengar cerita tentang kisah kematian Yesus. 

Ya, bagi orang dewasa kita mungkin berpikir hal itu terlalu keras. Atau kita mencoba melewatkannya karena sulit mencari cara sederhana untuk menyampaikannya.

Tapi percayalah, hal seberat apapun itu anak-anak usia balita sudah bisa mencerna apa yang disampaikan kepada mereka, tapi tentunya dengan menggunakan penjelasan dan bahasa yang sederhana.

Beberapa hal ini bahkan sudah bisa dipahami anak-anak balita:

- Menghindari api dan segera membuka jendela saat terjadi bahaya.

- Anak bisa mengerti jika diminta untuk tidak berbicara dengan orang asing.

- Anak tahu bagaimana caranya melindungi dirinya dari tindakan kejahatan jika orangtua atau guru sekolah minggu mengajarkan dan menjelaskan kepada mereka.

- Anak bahkan bisa mengerti kenapa seseorang harus sedih ketika ditinggal meninggal oleh anggota keluarganya.

Gak ada topik yang kelihatan sederhana di sana. Tapi orang dewasa bisa menyampaikannya ke anak dengan cara yang sederhana dan bisa dimengerti. Jadi, jangan meremehkan pemahaman mereka soal hal-hal penting yang harusnya mereka sudah terima sejak dini, termasuk soal keselamatan di dalam Kristus.

2. Jangan Membuat Anak Bingung

Membagikan injil ke anak-anak bisa dibilang susah-susah gampang. Karena itulah perlu menguasai teknik berkomunikasi anak-anak. 

Anak hanya akan bisa memahami sesuatu jika apa yang disampaikan sesuai dengan bahasa yang mereka mengerti. 

Jadi waktu orangtua atau guru sekolah minggu mengajarkan anak tentang pengorbanan Yesus di kayu saliB. Ubahlah kalimat yang hanya bisa dipahami orang dewasa seperti, “Yesus membayar lunas utang kita dengan darah-Nya” dengan kalimat yang sederhana seperti, “Yesus mati di kayu salib supaya kesalahan kita dimaafkan.”

Daripada mengatakan, “Yesus mengalahkan maut dan bangkit pada hari yang ketiga”, lebih baik menggantinya dengan kalimat, “Yesus mati dan kembali hidup di hari ketiga. Dia menunjukkan ke semua orang kalau Tuhan gak lebih kuat dari kematian dan kita semua akan hidup selamanya bersama Dia”.

3. Jangan Membuat Anak Ketakutan 

Kata-kata seperti domba yang berlumuran darah, binatang yang dikorbankan, dibunuh dan sebagainya, tentu akan membuat anak ketakutan.

Orangtua atau guru sekolah minggu bertanggung jawab untuk membuat anak tidak menjadi takut kepada Tuhan. Jangan biarkan kata-kata yang kamu pakai membuat anak tidak mau lagi mendengar cerita tentang Tuhan.

Lalu pertanyaannya, apakah anak perlu diberitahu soal neraka dan hukumannya? Tentu saja harus. Tapi kita harus sangat berhati-hati memakai kata-kata kita dan cara menyampaikannya supaya anak menanggapinya bukan dengan ketakutan, tapi dengan sukacita.

 

Baca Juga: Anak Mengenal Tuhan

 

4. Jangan Mengajar Tanpa Persiapan

Petrus menulis pesan injil kepada umat Tuhan dan memberi mereka nasihat ini:

“Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu…” (1 Petrus 3: 15)

Sebelum kita menyampaikan kisah hidup, kematian dan kebangkitan Yesus, sebaiknya kita mencari tahu dengan tepat bagaimana kita harus menjelaskan kenapa kita punya pengharapan di dalam Dia.

Jadi bersikaplah lembut dengan setiap kata-kata yang kita gunakan. Perhatikan gambaran yang kita sampaikan di pikiran imajinatif anak. Lalu persiapkanah jawaban untuk setiap pertanyaan anak. Dari sekian banyak pertanyaan, anak pasti akan menanyakan kata ‘Kenapa’ berulang kali. Jadi, bersabarlah untuk menjawabnya.

5. Jangan Menuntut Anak Untuk Mudah Mengerti 

Kalau orang dewasa sendiri juga butuh proses untuk memahami sesuatu sampai bisa benar-benar mengerti. Hal yang sama juga berlaku ke anak-anak. 

Anak akan memahami soal kebenaran firman Tuhan seara bertahap. Jadi bersabarlah untuk terus mengulang-ulang pelajaran ke anak. Karena anak hanya bisa mencerna saat sesuatu disampaikan lebih dari sekali.

 

Baca Juga: Bertumbuh Dalam Kristus Bersama, Inilah 3 Cara Untuk Terkoneksi Dengan Generasi Z!

 

6. Jangan Coba-coba Cari Tahu Kapan Anak Paham Soal Tuhan

Kita gak akan pernah tahu kapan anak bisa memahami soal Tuhan dengan baik. Bisa jadi mereka baru paham waktu sedang nonton film Paskah atau menyanyikan lagu rohani.

Kapanpun momen itu tiba, selalu siap sedia untuk menjawab pertanyaan anak. Bisa jadi dia datang dan bertanya bagaimana dia bisa mengenal Tuhan lebih baik lagi. Dengarkanlah apa yang dia rasakan tentang Tuhan.

Mengenalkan Tuhan ke anak memang bukan hal yang mudah. Tapi kalau kita mau memberi waktu terus menerus untuk mendampingi mereka, lihatlah bagaimana cinta anak kepada Tuhan akan tumbuh dengan sendirinya.

Jadi, buat orangtua dan guru sekolah minggu tetap semangat ya. Apa yang kalian tabur dalam hidup anak-anak akan tumbuh di hati mereka dengan bantuan Roh Kudus.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami