Ethiopia & Eritrea Bantah Tuduhan Bantai Ratusan Warga Sipil di Tigray, Faktanya?

Ethiopia & Eritrea Bantah Tuduhan Bantai Ratusan Warga Sipil di Tigray, Faktanya?

Puji Astuti Official Writer
571

Amnesty International menyatakan bahwa apa yang yang terjadi di wilayah Tigray adalah "Pembantaian Masal" dan pemerintah Amerika menyatakan bahwa wilayah Tigray menghadapi "krisis kemanusiaan yang memburuk." 

"Amerika Serikat sangat prihatin dengan kekejaman yang dilaporkan dan situasi yang memburuk secara keseluruhan di wilayah Tigray di Ethiopia," demikian pernyataan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada Sabtu (27/2/2021) lalu yang dikutip oleh Antara News. 

"Kami meminta mitra-mitra international, terutama Uni Afrika dan mitra regional, untuk bekerja sama kami mengatasi krisis di Tigray, termasuk melalui tindakan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan badan-badan terkait lainnya," demikian tambahnya. 

Mona Lisa Abraha, Seorang anak perempuan korban selamat pembantaian masal di Tigray (Sumber gambar : Aljazeera)

Laporan Amnesty International Tentang Kondisi Tigray

Menurut laporan Amnesty International yang dirilis pada Jumat (26/2/2021) lalu, tentara Eritrea membunuh ratusan orang sipil tak bersenjata secara sistematis di kota Axum pada 28-29 November 2020 lalu. Mereka memberondong peluru di jalanan, menggeledah rumah demi rumah, dan melakukan pembunuhan masal bahkan di gereja yang sedang melakukan ibadah. Laporan Amnesty International tersebut dibuat berdasarkan kesaksian dari 41 orang saksi mata dan korban selamat kejadian mengerikan tersebut. 

Pembantaian masal tersebut terjadi di tengah upaya pasukan Ethiopia dan Eritrea untuk mengambil kendali kota dalam konflik dengan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) pada pertengahan November 2020 lalu. Bukti lain adalah berupa analisis gambar satelit oleh Crisis Evidence Lab yang menunjukkan adanya penembakan membabi buta, penjarahan masal dan adanya kuburan masal di dekat dua gereja di kota tersebut. 

Wilayah konflik di Tigray (Image source : AFP)

Bantahan Ethiopia & Eritrea

Saat ini pemerintah Ethiopia dan Eritrea membantah semua tuduhan pembantaian tersebut. Selain menghalangi upaya penyelidikan oleh pihak internasional di wilayah konflik, Ethiopia juga menolak permintaan Menlu AS Anthony Blinken agar negaranya menarik pasukan dari wilayah itu. 

"Ini sangat jelas bahwa masalah seperti itu adalah tanggung jawab penuh pemerintah Ethiopia," demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Ethiopia yang dikutip oleh kantor berita Deutsche Welle (DW).

"Pemerintah berkomitmen kuat untuk melakukan penyelidikan yang diperlukan dan memastikan akuntabilitas penuh dari semua pelaku." Namun, "jenis laporan yang didasarkan pada sumber-sumber tersebut tidak akan memenuhi tujuan keadilan tetapi memiliki risiko semakin memperkuat informasi yang salah dan propaganda oleh TPLF dan kelompoknya."

Pemerintah Eritrea juga memberikan pernyataan serupa dan menyebut laporan Amnesti Internasional sebagai "kebohongan yang keterlaluan." Menteri Informasi Eritrea Yemane Gebremeskel menyatakan pada Jumat lalu bahwa negaranya "marah dan dengan tegas menolak tuduhan tidak masuk akal" tersebut. 

Wartawan Mengalami Persekusi Dari Tentara Ethiopia

Walau dengan semua bantahan tersebut, akses untuk mendapatkan informasi ke daerah konflik ditutup oleh pemerintah Ethiopia. Bahkan menurut DW.com, para wartawan mengalami tekanan dari pihak militer. 

"Beberapa(wartawan-red) ditangkap, beberapa lainnya dipukuli. Seorang jurnalis di Addis Ababa mendapati dirinya ditangkap, dua penterjemah untuk jurnalis asing di Tigray dipukuli dan ditangkap oleh prajurit Ethiopia," demikian ungkap Abiy Ahmed, salah seorang kontributor DW. 

Mari berdoa untuk masyarakat di Tigray dan juga upaya internasional untuk bisa menyalurkan bantuan ke wilayah konflik dapat berhasil, karena hingga saat ini Ethiopia masih membatasi akses bantuan internasional untuk masuk. Dan semoga konflik di wilayah Ethiopia ini dapat segera selesai sehingga korban jiwa tidak terus bertambah.


BACA JUGA : 
Karena Letaknya yang Unik, Gereja Tua Ethiopia Ini Jadi Perhatian Dunia

Satu Dekade Dipenjara Karena Iman, Pendeta di Eritrea Ini Dibebaskan Dalam Kondisi Sakit


 

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami