Pendeta Ini Diancam Dibunuh Karena Minta Maaf Nubutannya Trump Menang Pilres Meleset

Pendeta Ini Diancam Dibunuh Karena Minta Maaf Nubutannya Trump Menang Pilres Meleset

Puji Astuti Official Writer
393

Pendeta Jeremiah Johnson pada Jumat lalu meminta maaf karena nubuatannya tentang Presiden Donald Trump akan  memenangkan pemilu ternyata meleset. Namun permintaan maafnya itu malah berujung teror dan ancaman pembunuhan dari para pendukung Presiden Trump. 

"Saya mau bertobat untuk nubutan saya yang tidak akuran bahwa Donald Trump akan memenangkan periode kedua sebagai Presiden Amerika Serikat. Saya menolak menyalahkan orang-orang kudus dan berkata, 'Hal ini tidak terjadi karena mereka kurang berdoa.'Saya juga tidak mengklaim, 'Donald Trump sebenarnya menang, jadi saya benar, tetapi kemenangan itu dicuri darinya,'" demikian ungkap Pdt. Johnson pada Jumat (8/1/2021) lalu. 

"Saya secara spesifik mau meminta maaf kepada setiap orang percaya yang sekarang saya buat menjadi ragu tentang suara Tuhan dan kemampuan-Nya untuk berbicara kepada umat-Nya. Sebagai manusia, saya gagal mendengarkan suara Tuhan; tetapi, percayalah, Tuhan sendiri BUKAN pembohong dan Firman-Nya yang tertulis harus selalu menjadi dasar dan sumber kehidupan kita sebagai orang Kristen," demikian tegasnya. 

Tetapi pada hari Minggu (10/1/2021) lalu, Pdt. Johnson merasa kaget karena hanya dalam 72 jam ia menerima beberapa ancaman pembunuhan, ribuan kutukan dari orang-orang Kristen pendukung Trump, dan bahkan kehilangan rekan pelayanan. 

"Hanya dalam 72 jam, saya menerima banyak ancaman pembunuhan, ribuan email dari orang Kristen yang mengatakan hal-hal menjijikkan dan paling vulgar yang pernah saya, keluarga saya dan pelayanan saya dengar. Saya dilabeli pengecut, pengkhianat, pengkhianat kepada Roh Kudus, dan berbagai kutukan setidaknya 500 kali. Kami kehilangan rekan pelayanan setiap jamnya dan terus bertambah," demikian ia mengungkapkan pada hari Minggu lalu. 

Ia melihat apa yang dilakukan orang Kristen yang jadi pendukung Trump tersebut sebagai penyembahan berhala, "Ini menakutkan! Ini penuh dengan penyembahan berhala! Jika saya menolong untuk mendukung ideologi berkaitan dengannya, saya perlu bertobat lagi dan menggoncang neraka lebih lagi."

Sebelumnya empat orang demonstran dan seorang petugas polisi tewas akibat kerusuhan di Capitol Hill, saat Kongres Amerika Serikat dan Wakil Presiden Mike Pence akan mengesahkan kemenangan Joe Biden di Pilpres AS.  

Menjelang pelantikan Presiden terpilih Joe Biden pada 20 Januari 2021 nanti, Amerika masih dibayangi  dengan ketakutan akan kemungkinan terjadinya protes anarkis kembali. Berita terbaru menyatakan bahwa FBI mendapatkan informasi adanya rencana “protes bersenjata” yang ditujukan kepada 50  gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) negara bagian dan juga Capitol Hill. 

Mari berdoa bagi Amerika ditengah multi krisis dan peralihan kekuasaan kepada presiden yang baru, agar semua berjalan dengan aman. 


Baca juga : 

Demi Trump Tetap Presiden, Pendukung Fanatik Lakukan Pawai, Doa dan Puasa

Trump Gugat Hasil Pilpres, Ini Respon Beberapa Pendeta Amerika Tentang Pemilu 2020


 

Sumber : Christianpost.com

Ikuti Kami