Salib Ditaruh Dalam Tempayan, Keunikan Tersendiri Dari GKI Ararat Papua

Salib Ditaruh Dalam Tempayan, Keunikan Tersendiri Dari GKI Ararat Papua

Lori Official Writer
184

GKI Ararat adalah salah satu gereja yang terletak Kampung Abar, dekat Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Bagi yang belum tahu, rumah ibadah umat Kristiani yang satu ini dikenal luas oleh masyarakat karena desainnya yang unik. 

Salah satu keunikannya adalah gereja ini dibuat dengan memadukan desain Eropa dan lokal. Gereja ini memiliki tugu salib yang ditaruh di dalam sebuah tempayan kayu berukuran besar.

Salib dalam tempayan ini ditaruh di depan gereja GKI Ararat. Sementara di bagian dalam, gereja ini juga memiliki mimbar yang dibuat dari sebuah tempayan kayu yang sangat bernilai. Karena tempayan tersebut rupanya merupakan benda bersejarah yang dulunya dipakai oleh masyarakat setempat sebagai tempat penyimpanan tepung sagu.

 

Baca Juga: Kondisi 3 Gereja Tertua di Kota-kota Besar Indonesia Ini Bikin Takjub Loh!

 

Adapun alasan mengapa gereja ini identik dengan tempayan adalah karena Kampung Abar ini memang sangat identik dengan tradisi membuat gerabah atau tepung sagu sebagai bahan pokok pembuatan papeda. Jadi saat tepung sagu sudah jadi, biasanya mereka akan menyimpan sagu di dalam tempayan tersebut. Dan jika tepung sagu habis, mereka biasanya akan menaruh bulu burung di dalamnya. 

Namun seiring waktu, masyarakat mulai mengenal Tuhan. Sehingga tradisi lama tersebut berubah dan tempayan tersebut akhirnya diisi dengan salib.

Menurut filosofinya, simbol tenpayan dan salib tersebut mencerminkan kehidupan masyarakat Kampung Abar yang religius dan setia dengan identitas mereka sebagai pembuat gerabah.

Menariknya, jemaat gereja masih memakai tempayan salib sebagai tempat sagu. Kemudian sagu akan dibawa ke gereja dan diolah menjadi papeda di gerabah mimbar. Papeda kemudian dibagi rata kepada jemaat sebagai lambang firman Tuhan yang dibagikan kepada jemaat.

Untuk melestarikan tradisi ini, Kampung Abar sendiri selalu menggelar Festival Makan Papeda setiap bulan September. 

Sumber : Berbagai Sumber

Ikuti Kami