Orang Tua Perfeksionis Bikin Frederika Nicoline Takut Capai Prestasi

Orang Tua Perfeksionis Bikin Frederika Nicoline Takut Capai Prestasi

Claudia Jessica Official Writer
579

Setiap orang tua pasti memiliki pola asuh yang berbeda, termasuk orang tua Frederika Nicoline. Menurut cerita yang disampaikan Nicoline, orang tuanya adalah tipe yang perfeksionis. Bahkan, Nicoline selalu dituntut untuk mempertahankan prestasinya.

“Kalau dulu itu memang cukup sering dapat ranking. Aku tuh selalu masuk 3 besar biasanya. Ga pernah di bawah itu.”

“Tapi ketika aku turun ke ranking 6, papaku langsung ngomong ‘Itu apa? Itu bukan ranking. Ngga, ngga. Ngga bisa.’”

Perkataan ayahnya membuat Nicoline merasa tidak dihargai meskipun dirinya telah berusaha untuk mempertahankan prestasinya. Sedangkan melalui sudut pandang Nicoline sendiri ia berpendapat bahwa seseorang tidak bisa selalu berada di atas, akan ada masa dimana kita akan berada di bawah.

“Papa mamaku tipikal yang kalau aku udah dapet itu, pokoknya pertahanin terus, mati-matian terus. Jangan sampai jatuh,” cerita Nicoline.

Tuntutan orang tuanya bahkan membuat Nicoline takut untuk mencapai suatu prestasi karena khawatir tidak bisa mempertahankan apa yang telah diraihnya.

“Waktu itu, aku masuk lagi 10 besar. Terus kayak yaudah gitu, aku ke bawah lagi, mama papaku seperti itu lagi. Mereka nuntut aku ‘Ayo dong, kok nilainya turun lagi sih?’”

Akibat tuntutan yang ditujukan padanya, Nicoline merasa stress dan membuatnya jadi mudah jatuh sakit. Sekolahnya pun mulai berantakan karena Nicoline sering kali tidak hadir.

“Sekolahku tuh mulai berantakan. Aku sering izin, bolos-bolosan. Itu aku sering banget izinnya sakit. Itu juga salah satu dampaknya. Jadi aku sering sakit, udah stress banget. Aku sering sakit terus aku bolos, kayak ‘Ah udah deh, besok gausah masuk.’ Sampai aku juga jadi susah bersosialisasi sama temen-temen aku di sekolah,” katanya.

Diam-diam Nicoline juga sering menangis pada saat tengah malam. Hal ini dialaminya selama satu minggu penuh. Ketakutan mengecewakan orangtuanya membuat Nicoline kehilangan mimpinya. Setiap malam Nicoline bertanya pada Tuhan kenapa hal ini terjadi, dan jalan apa yang harus dilaluinya.

Perubahan mulai terjadi ketika Nicoline bertemu dengan teman-teman dan mentor yang membantunya semakin dekat dengan Tuhan.

Suatu hari, mentornya mengatakan suatu kalimat yang membuat Nicoline introspeksi.

“Mentor aku bilang gini, ‘Ketika kamu takut sama orang tua kamu, berarti ada yang salah.’ Aku jadi introspeksi diri aku, apa ya yang salah,” pungkasnya.

Setelah melakukan introspeksi diri, Nicoline menemukan bahwa dirinya memiliki luka yang terpendam. Namun, Nicoline diajarkan untuk mengampuni. Hingga suatu saat ada satu momen ketika mentornya menantangnya untuk menelpon atau mengirim pesan kepada orang tuanya.

“Aku sebenernya takut. Takuuttt banget. Aku cuma bilang (ke diri aku sendiri) ‘Ayo Lin, lu bisa’” katanya.

Karena hari sudah terlalu malam, Nicoline memutuskan untuk mengirim pesan kepada orang tuanya. Begini isi pesannya:

“Bunda sorry ya, kakak belum bisa ngebanggain ayah sama bunda. Maaf yah, masih banyak ngecewain ayah sama bunda. Masih susah diatur. Masih suka ngga dengerin omongan ayah sama bunda. Intinya, kakak minta maaf sama ayah sama bunda dan kakak akan berusaha terus kasih yang terbaik buat bikin ayah sama bunda bahagia.”

Tidak berekspektasi banyak karena hari sudah cukup malam. Namun siapa sangka jika ibu Nicoline membalas pesannya malam itu.

“Mamaku ngomong gini, ‘Iya, maafin bunda juga ya kak. Bunda belum bisa jadi ibu yang baik, yang selalu ada buat kakak, bunda juga akan selalu belajar kok buat jadi ibu yang baik untuk kakak, untuk adik-adik juga,” ucapnya.

Setelah membaca pesan tersebut, Federika menangis sejadi-jadinya. Pesan ibunya membuat dirinya tersentuh dan berniat Nicoline untuk lebih terbuka dengan kedua orang tuanya.

Semula Nicoline yang takut untuk mengungkapkan pendapat kepada orang tuanya, kini mulai berani untuk mengungkapkan pendapatnya bahkan sekarang ia juga sering menceritakan hal-hal kecil.

Sejak saat itu, hubungan Nicoline dan orang tuanya menjadi lebih dekat.


Baca juga: Tahukah Kamu Kalau Menjadi Sempurna Beda Dengan Sikap Perfeksionis? Ini Kata Firman Tuhan


“Sejak saat itu, wahh… Aku gatau ngejelasinnya pake kata apa, karena udah hebat banget pertolongan Tuhan dalam hidup aku,” katanya.

“Tuhan tuh sesayang ini sama aku, Tuhan tuh ibaratnya kayak pengen anaknya ini bangkit lagi gitu, happy lagi, tau lagi mimpinya apa. Tuhan buat aku jadi ibaratnya jadi orang yang lebih baik. Versi aku yang lebih baik,” tutupnya.

Apakah JCers merasa termotivasi dengan cerita Nicoline? Yuk jadi bagian dari kami untuk melayani generasi muda saat ini dan memberitakan Injil kepada mereka dengan bergabung bersama kami sebagi mitra CBN! Caranya, klik DI SINI!

Sumber : superyouth | jawaban.com

Ikuti Kami