Harapan Romo Magnis, Tokoh Agama Berhenti Bicara Buruk Tentang Agama Lain

Harapan Romo Magnis, Tokoh Agama Berhenti Bicara Buruk Tentang Agama Lain

Puji Astuti Official Writer
400

Budayawan dan tokoh agama Katolik, Romo Magnis Suseno menyampaikan harapannya dalam Colloquium Tokoh Agama bertajuk "Kerukunan dan Moderasi Beragama dalam Konteks Kemajemukan Indonesia" yang diselenggarakan Kementerian Agama, Rabu (25/11/2020), salah satunya adalah agar masyarakat dan tokoh agama berhenti bicara buruk tentang agama lain, sebaliknya memiliki kerendahan hati dan menghormati kepercayaan agama lain. 

"Kita tidak boleh juga bicara jelek tentang tokoh agama, begitu juga tidak omong jelek tentang agama lain. Penting itu," demikian ungkap Romo Magnis. 

Menurutnya untuk memajukan kerukunan dan moderasi agama, ada tiga hal yang harus diperhatikan di Indonesia ini, yaitu masyarakat, tokoh agama dan negara. 

"Saya merasa kalau moderasi agama itu mau kita majukan, maka kita harus memperhatikan tiga dataran. Satu itu masyarakat, yang kedua itu tokoh agama, yang ketiga itu negara. Tiga-tiganya harus belajar sesuatu," demikian pernyataannya yang dirilis oleh Kompas.com.

Menurutnya masyarakat harus belajar mengenal bahwa setiap agama memiliki perbedaan. Masyarakat juga seharusnya memiliki kemampuan meyakini agamanya sendiri tanpa meremehkan agama lain, dengan demikian memberikan penghormatan kepada mereka yang memiliki agama dan kepercayaan berbeda. Menurutnya, nilai-nilai ini sudah ada dalam masyarakat Indonesia. 

Yang kedua, para tokoh agama berperan dalam membangun kerukunan dan moderasi agama, untuk itulah ia mengajak para tokoh agama untuk semakin meyakini ajaran agamanya sendiri dan menghormati perbedaan, serta tidak menjelekkan tokoh agama atau ajaran agama lain. Dengan demikian, diharapkan para tokoh agama tidak membuat sekat-sekat bagi umatnya dengan umat agama lainnya. 

Meski dia beda agama, tapi kalau dibikin sekat-sekat, misalnya di sekolah anak belajar jangan bergaul dengan orang beragama lain, itu bisa jadi gawat, sulit disembuhkan," demikian tegasnya. 

Dan yang ketiga ia berharap negara bisa membangun kepastian hukum termasuk dalam hal penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).Ia berharap bahwa pemerintah Indonesia tidak toleran terhadap kelompok-kelompok yang memakai kekerasan dalam masyarakat ataupun mereka yang membuat ancaman. Menurutnya, jika negara tunduk kepada kelompok ekstrim maka negara telah bankrut. 

Menurutnya Indonesia harus kembali kepada ideologi Pancasila, dimana negara tidak hanya memberikan perlindungan hukum dan HAM bagi masyarakat, dan mereka yang menganut enam agama yang diakui, namun kepada semua kepercayaan.

"Dengan segala hormat, saya mau mengatakan bahwa di Indonesia itu diakui enam agama. Itu secara etis adalah tidak memadai. Di Pancasila tidak ada pengakuan enam agama, lalu yang lain tidak diakui. Semua orang berhak percaya apa yang mereka yakini di hadapan Tuhan," demikian jelasnya. 

Ia menyimpulkan bahwa jika Indonesia mau membangun sebuah negara yang adil, sejahtera dan maju, maka harus kembali kepada konsensus dasar yang terungkap dalam Pancasila. Kerukunan bisa hadir dengan saling menerima perbedaan dan saling menghormati.


Baca juga : 

3 Suasana Kerukunan Beragama di Tengah Pandemi Virus Corona, Buktikan Berbeda Itu Indah!

Kemenag Janjikan Harmony Award Bagi Pemda yang Jaga Kerukunan. Begini Aturannya!


 

Sumber : Kompas.com

Ikuti Kami