#KataAlkitab: Orang Kaya Susah Masuk Surga, Lalu Bagaimana Dengan Ayub dan Abraham?

#KataAlkitab: Orang Kaya Susah Masuk Surga, Lalu Bagaimana Dengan Ayub dan Abraham?

Claudia Jessica Official Writer
365

Orang Kristen sering kali memiliki pandangan yang salah tentang kekayaan dan uang karena mengingat perkataan Yesus bahwa, “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Matius 19:24) dan juga karena Paulus berkata, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.” (1 Timotius 6:10).

Jika orang kaya memang tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah, di jaman ini orang-orang seperti Jeff Bezos, Bill Gates, Warren Buffet atau Mark Zuckerberg tidak bisa masuk sorga dong.

Demikian juga orang-orang yang di catat di Alkitab seperti Abraham, Ishak, Yakub, Ayub dan Raja Salomo, sebab mereka adalah orang-orang yang sangat kaya.

Jadi, boleh atau tidak orang Kristen menjadi kaya?

Di kalangan orang Kristen ada dua pandangan yang ekstrim mengenai kekayaan.

Pertama adalah Prosperity Gospel, mereka yang percaya bahwa kekayaan adalah tanda diberkati Tuhan, bahkan kita bisa memerintahkan Tuhan untuk memberikan kemakmuran finansial yang bisa digunakan sekehendak hatinya. Pandangan yang salah ini bisa menjerat seseorang jatuh dalam ketamakan, keegoisan, iri hati, penyembahan berhala dan cinta akan uang.

Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (1 Timotius 6:9-10).

Ekstrem yang kedua adalah Poverty Gospel atau mereka yang memandang bahwa uang dan kekayaan adalah sesuatu yang jahat. Orang kaya adalah orang yang tamak dan berdosa, dan menjadi miskin membuat seseorang merasa lebih benar di hadapan Allah, dan ketika mereka memakai uang atau harta untuk kepentingannya sendiri ia dihantui oleh rasa bersalah dan tertuduh.

Hal ini pun pandangan yang salah, karena Tuhan tidak ingin membuat umatnya hidup dalam rasa bersalah saat menikmati berkat-berkat-Nya.

Jadi, problem utamanya bukanlah memiliki kekayaan atau tidak, tapi kepada sikap hati kita. Alkitab sendiri tidak pernah mengutuk kekayaan, atau menganjurkan untuk hidup dalam kemiskinan.

Namun Alkitab selalu mengingatkan untuk memiliki sikap hati yang benar, yaitu dalam keadaan apapun tetap mengucap syukur kepada Tuhan, hidup dalam kebenaran dan memuliakan Tuhan.


Baca juga: 6 Konten Positif Ini Bisa Orang Kristen Bagikan Lewat TikTok Loh!


Kita melayani Tuhan dengan harta yang kita miliki, bukan sebaliknya, menjadi hamba uang sehingga hidup kita hanya fokus dalam mencari uang saja (Matius 6:19-24).

“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24)

Jika uang kita jadikan hamba, dia akan menjadi hamba yang baik yang dapat digunakan untuk melayani tujuan Kerajaan Sorga.

Namun jika kamu menjadikan uang itu tuanmu, maka dia adalah tuan yang kejam yang akan membuatmu bekerja keras dan bahkan menghancurkan kehidupanmu dan keluarga.

Inilah yang diperingatkan Paulus kepada Timotius dalam 1 Timotius 6:9-10. “Keinginan menjadi kaya akan membawa orang kepada hawa nafsu yang hampa hingga pada akhirnya ia jatuh dalam jeratan untuk memburu uang dengan segala cara sehingga hidupnya menyimpang dari imannya dan menyiksa diri dengan berbagai duka atau masalah yang sebenarnya tidak perlu ia alami.”

Di ayat 11, Paulus meminta agar orang percaya lebih fokus kepada mengasihi Tuhan dan membangun karakter yang baik, sehingga hidupnya menjadi kesaksian bagi dunia ini.

Bahkan dengan tegas di ayat 17, Paulus memerintahkan kepada Timotius untuk memperingatkan orang-orang kaya untuk tidak sombong dan menaruh pengharapan kepada kekayaannya, sebaliknya harus berfokus kepada Tuhan yang memberikan kekayaan itu untuk dinikmati dan menjadi saluran  berkat bagi orang lain.


Baca juga: #KataAlkitab: Rajin Ke Gereja Tapi Kok Jahat, Kenapa Ya?


Yesus ingin agar anak-anak Tuhan tidak disiksa oleh kekuatiran akan hari esok dan tentang kebutuhan hidupnya, tetapi fokus menjalani hari dengan pandangan kepada Kerajaan Allah dan kebenarannya.

Janji-Nya, jika kamu mengerjakan semua itu, maka semua yang dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah itu, akan ditambahkan kepadamu. Artinya, kamu mendapatkan berkat utamanya, yaitu hidup dalam Kerajaan Allah dan kebenarannya, serta bonusnya, yaitu hidup dalam penyediaan Tuhan.

Raja Salomo berkata, “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Amsal 10:22)

Jadi ingat ya, kekayaan itu tidak perlu di kejar, sebab ketika kita hidup dalam kebenaran, fokus pada Kerajaan Allah dan memuliakan Tuhan, harta benda atau kekayaan itu hanyalah bonus yang pasti akan kitaterima.

Berkat utama yang dari Tuhan bagi kita adalah kehidupan kekal, damai sejahtera, sukacita dan juga hubungan yang harmonis dengan orang-orang yang kamu kasihi.

Anda butuh didoakan langsung? Klik link dibawah ini untuk terbubung dengan Tim doa kami http://bit.ly/InginDidoakan

Anda butuh konseling? Klik link dibawah ini untuk konseling. http://bit.ly/inginKonseling

 

Sumber : jawaban.com

Ikuti Kami