Perjuangan Pendeta Ferdy Tulung, Masuk Hutan Demi Kenalkan Tuhan ke Anak-anak Pedalaman

Perjuangan Pendeta Ferdy Tulung, Masuk Hutan Demi Kenalkan Tuhan ke Anak-anak Pedalaman

Lori Official Writer
329

Pendeta Ferdy Tulung adalah seorang pendeta asal kota Batam, Kepulauan Riau yang terbeban melayani anak-anak pedalaman.

Bersama keluarganya, Pendeta Ferdy harus mengarungi hutan rimba dan jalan sempit berlumpur demi mengubah kehidupan banyak anak di pedalaman.

“Sejak 2016, saya dan keluarga melayani di dalam Hutan Lindung Duriangkang, Batam. Kami harus menyusuri jalan rusak dan berlumpur sepanjang kurang lebih tiga kilometer,” ungkap Pendeta Ferdy.

Pertama kali bertemu dengan anak-anak di sana, dia mengaku prihatin dengan perilaku buruk mereka. Mulai dari terbiasa berkata kasar dan berpenampilan kurang baik. Kebiasaan ini menurutnya terbentuk dari pengaruh lingkungan setempat. 

Namun sejak mendirikan sebuah gereja kecil di sana bernama GKBI Duriangkang, dia bersyukur bisa melayani anak-anak pedalaman di sana. Meski secara fasilitas gereja ini benar-benar terbatas, tapi Ferdy bersyukur jumlah anak yang hadir sekolah minggu terus bertambah dari waktu ke waktu. Yang dari awalnya hanya 8 orang saja, sekarang sudah ada puluhan anak yang mau ikut sekolah minggu.

Lewat kurikulum Superbook pun, Ferdy dan rekan-rekannya bisa mengenalkan Tuhan kepada anak-anak.

“Meskipun memiliki banyak keterbatasan, tetapi tidak menghalangi saya dan istri untuk tetap memuridkan anak-anak di tempat ini,” ungkapnya.

Anak-anak Diubahkan

Selama melayani anak-anak di sana, Ferdy menyaksikan betul perubahan yang terjadi terhadap anak-anak yang mereka layani. 

Seperti seorang anak bernama Angga yang sebelumnya tidak mengenal Tuhan, kini hidup di dalam Tuhan. Dengan mantap Angga sendiri mengakui bahwa Yesus adalah juruslamat manusia.

Anak lainnya bernama Immanuel mengakui perubahan besar yang dialaminya setelah mengikuti Sekolah Minggu bersama Pendeta Ferdy. Dia yang dulunya suka berkata kasar dan tidak sopan, kini menjadi pribadi yang lembut.

“Saya tidak mau lagi ngomong kotor. Karena saya ini berdosa kalau ngomong kotor terus,” ungkap Immanuel.

Tanah Gereja Akan Dijual

Di tengah pertumbuhan pelayanan Sekolah Minggu yang dibangun Pendeta Ferdy, justru masalah besar muncul. Tanah tempat gereja kecil itu berdiri rencananya akan dijual oleh pemiliknya.

Saat menerima kabar tersebut, hati Pendeta Ferdy tentu saja mulai gusar. Terlebih kerinduannya untuk melayani anak-anak di sana masih sangat besar. 

“Saya berkata, ‘Tuhan kok sampai sekian lama ini saya harus melayani anak-anak di sini. Kerinduan saya tetap terus melayani di sini. Penjual tanah itu berkata bahwa rumah dan lahan ini akan dijual 6 juta rupiah. Dari situlah saya berpikir, ‘Tuhan dimana saya harus mengambil uang sebanyak ini?’” ungkapnya.

Pergumulan yang dihadapi Pendeta Ferdy akhirnya menemukan jalan keluar. Uang sebesar 6 juta rupiah yang dia butuhkan terkumpul dalam waktu yang sangat cepat. Melalui bantuan fasilitator dan website Superbook, uang itu didapatkan dari orang-orang yang digugah melalui pelayanan yang dikerjakan oleh Pendeta Ferdy selama ini.

Sampai hari ini, gedung gereja masih tetap berdiri. Jumlah anak-anak yang ikut Sekolah Minggu pun terus bertambah. Kondisi inipun semakin menambah sukacita bagi Pendeta Ferdy dan istrinya untuk terus melayani tanpa lelah. 

“Saya percaya dengan semakin banyak anak yang hadir, akan semakin banyak juga anak yang akan diubahkan,” pungkasnya.

 

Apakah kamu tergerak untuk membantu pelayanan anak di berbagai pelosok di Indonesia terus berdiri? Yuk #BeraniBergerak bersama Superbook Indonesia untuk mendukung para pelayan yang memiliki keterbatasan untuk memuridkan generasi ini. Berikan dukunganmu melalui Jawaban DI SINI.

Sumber : Superbook Indonesia | Jawaban.com

Ikuti Kami