Walau Tak Bisa Ibadah di Gereja, 3 Hal Ini Tak Boleh Hilang Dari Kehidupan Orang Kristen

Walau Tak Bisa Ibadah di Gereja, 3 Hal Ini Tak Boleh Hilang Dari Kehidupan Orang Kristen

Puji Astuti Official Writer
464

Pada hari Minggu, 13 September 2020 Pemprov DKI Jakarta mengumumkan diberlakukannya PSBB pengetatan karena melonjaknya jumlah orang yang terpapar virus pada pandemi ini. Salah satu yang dibatasi dan ditutup adalah rumah ibadah, ini tentunya membuat gereja-gereja yang sebelumnya sudah boleh melakukan ibadah dengan kapasitas  50 persen harus kembali ditutup.

Dengan kondisi ini, dapat diprediksi bahwa ibadah dan juga persekutuan secara langsung tidak akan dapat dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Bahkan, jika kondisi ini berlanjut, maka orang Kristen akan mengalami masa Natal tanpa ibadah secara langsung di gereja, namun harus melakukannya secara online dan ibadah bersama keluarga  di rumah saja.

Tentu gereja harus beradaptasi dan berinovasi dengan kondisi pandemi ini, dan umat pun tetap harus membangun diri, untuk bertumbuh dalam iman, saling menguatkan dan membangun walau dibatasi oleh jarak. Dengan pemanfaatan teknologi saat ini, ibadah sudah dapat disiarkan secara langsung melalui berbagai platform, demikian juga ibadah rumah tangga atau ibadah kelompok kecil, bisa dilakukan melalui berbagai aplikasi video conference. 

Untuk itu, penting sekali bagi pemimpin gereja dan sesama jemaat untuk tidak kehilangan keterhubungan satu sama lain, di masa-masa pandemi yang belum pernah kita hadapi sebelumnya ini. Dalam Roma 10:24-25 jemaat diingatkan :

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Untuk sebuah persekutuan terus bertumbuh, ada beberapa elemen yang tidak boleh hilang,yaitu : 

  1. Saling memperhatikan

Sebagai sesama umat Tuhan dalam sebuah jemaat, mungkin satu kelompok sel atau satu persekutuan, harus terus dibangun semangat untuk saling memperhatikan satu sama lain. Tujuannya apa? Penulis kitab Roma mengatakan supaya kita bisa saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik (ayat 24). Dalam terjemahan lain dikatakan agar kita bisa saling menolong untuk menunjukkan kasih. 

Kondisi pandemi ini, banyak keluarga yang terdampak. Terlebih karena PSBB, banyak orang yang menjadi tulang punggung keluarga yang tidak bisa mencari nafkah. Dengan saling memperhatikan, menanyakan kabar dan kebutuhan mereka, maka kita bisa saling menolong, walau tidak banyak hal itu bisa sangat berarti untuk mereka yang membutuhkan. 

Pertolongan bukan hanya dalam bentuk materi, seperti uang atau bahan makanan, Anda juga bisa berdiskusi dengan kelompok sel untuk membantu mereka yang membutuhkan pekerjaan untuk memulai usaha, membantunya untuk belajar marketing online, atau keahlian praktis lainnya yang bisa menjadi solusi kebutuhan mereka. Saat kelebihan Anda bisa menjadi pelengkap untuk kebutuhan orang lain, itulah sebuah pekerjaan baik yang berkenan di hadapan Tuhan. 

  1. Lindungi dan tolonglah mereka yang paling rentan 

TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. (Mazmur 146:9)

Alkitab banyak bicara tentang melindungi orang-orang yang dalam posisi rentan, di Perjanjian Lama mereka adalah orang asing, janda dan anak yatim dan para budak. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki perlindungan, tidak ada yang menopang dan seringkali menjadi yang paling terdampak ketika masa sukar terjadi. 

Saat ini, mereka yang rentan ada banyak kelompok. Seperti mereka yang sudah berusia lanjut, mereka adalah kelompok yang sangat rentan dalam masa pandemi ini, sehingga tidak disarankan untuk melakukan interaksi di luar rumah. Sebagai jemaat, secara kolektif bisa memperhatikan kebutuhan kehidupan mereka, sehingga mereka tetap aman selama berada di rumah dan tidak kekurangan apapun. 

Tidak hanya itu, para orangtua ini pun butuh teman bicara, dikuatkan dan dihibur. Hubungi mereka secara bergantian, sehingga mereka merasa sukacita karena ada yang memperhatikannya. 

Tentunya perhatikan juga mereka yang rentan secara ekonomi dan fisik, juga para janda dan anak yatim. Terlebih anak-anak sekarang harus sekolah secara online, tidak ada salahnya menanyakan apakah mereka memiliki peralatan atau jaringan internet yang dibutuhkan untuk melakukannya. Hal-hal praktis seperti ini akan sangat berarti untuk mereka. 

  1. Saling mengingatkan dan mengajak untuk tetap beribadah 

Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. (1Timotius 4:8)

Beberapa waktu lalu, seorang teman begitu tertegun ketika hari minggu ia merasa tidak ada lagi rasa terdesak untuk ibadah karena menganggapnya bisa melakukannya nanti dengan banyaknya pilihan ibadah online. 

Apakah Anda juga mengalaminya? Percayalah, ada banyak orang yang mengalaminya. Kondisi pandemi ini, membuat ibadah hari minggu yang biasanya jemaat mempersiapkan diri untuk mengikutinya, menjadi sesuatu yang sedikit terabaikan karena bisa dilakukan kapan saja. 

Untuk itu penting bagi jemaat untuk saling mengingatkan untuk tetap membangun rasa haus dan lapar akan firman Tuhan dan juga mengajaknya untuk tetap beribadah walau dilakukan secara online. 

Pandemi ini memaksa semua orang untuk merubah banyak hal dalam kehidupannya, namun sebagai orang percaya jangan pernah kehilangan kasih dan kepedulian kepada sesama. Terlebih, jangan sampai kita meninggalkan ibadah dan persekutuan dengan sesama jemaat sebab walau terpisah jarak kita masih bisa tetap saling menguatkan, memperhatikan dan saling menolong. Mari jadikan masa pandemi ini menjadi masa terbaik untuk mendemonstrasikan kasih Tuhan, sehingga semakin banyak orang yang merasakan dan mengenal kasih Tuhan kita, Yesus Kristus. 

 

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami