Augustine Dhirgahayoe, Penyandang Kanker Stadium 4 yang Percayakan Hidupnya Dalam Tuhan

Augustine Dhirgahayoe, Penyandang Kanker Stadium 4 yang Percayakan Hidupnya Dalam Tuhan

Lori Official Writer
581

Augustine Dhirgahayoe adalah seorang wanita berusia 38 tahun yang berjuang sembuh dari kanker. Untuk sembuh dari penyakit mematikan ini, dia pun sampai harus terbang ke Singapura pada tahun 2017 silam.

Bahkan di hari-hari terakhir hidupnya, dia tetap menginspirasi para perawat rumah sakit dan sesama pasien dengan pikiran positif, senyuman dan imannya yang teguh.

Dhirgahayoe akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada 13 November 2017 silam. Tapi sebelum meninggal, dia sudah mendokumentasikan kisah hidupnya dalam sebuah buku berjudul When Fear Knocks, Let Faith Answer.

Lewat buku ini, dia berharap bisa menginspirasi orang-orang yang berjuang menghadapi penyakit seperti dirinya. Dia juga mendorong semua orang untuk tetap tersenyum dan teguh dalam iman, sebagaimana yang dia lakukan.

Berikut kisah Dhirgahayoe mengutip dari perkataannya:

Nama saya Augustine Dhirgahayoe dan saya berusia 38 tahun. Pada Maret 2017, saya diberi tahu saya hanya punya waktu empat bulan bertahan hidup. Saya bingung, Saya tidak mau menyerah, saya ma uterus berjuang. Ada banyak hal yang belum saya berikan, begitu banyak hal yang harus saya lakukan.

Awal Kehidupan yang Baru

Saya menikah dengan pendamping hidup saya, Andreas Supriyatna (Andre) 13 tahun yang lalu di Bogor.

Sepuluh tahun berkarir di dunia marketing, dia memutuskan untuk berhenti. Saya pun meninggalkan bisnis wedding planning saya untuk memulai hidup yang baru bersama Andre di Yogyakarta.

Bersama-sama, kami menginvestasikan semua sumber daya kami untuk membuka restoran di sana.

Tahun 2012 adalah awal baru dalam hidup kami. Itu adalah saat yang menyenangkan, kami bisa bekerja bersama untuk membangun kehidupan baru bersama.

Andre juga merasa terdorong untuk memperkuat imannya sebagai seorang Protestan. Jadi kami mulai menghadiri ibadah gereja secara teratur.

Sekitar lima bulan setelah membuka restoran, saya melihat ada benjolan di sisi kiri punggung saya. Benjolan itu tampak sangat berbeda dari benjolan yang saya temukan pada tahun 2010.

Saya pun merasa perlu bantuan medis. Tapi kami tidak punya cukup uang karena uang tabungan kami alokasikan untuk menjalankan restoran.

Sampai akhirnya seorang teman dari komunitas gereja kami menyadari masalah keuangan kami. Lalu dia menarik Andre dan bertanya apa yang bisa dia bantu untuk mendanai biaya medis saya.

Andre sendiri tidak terbiasa menerima bantuan. Tapi dia merasa harus mengesampingkan egonya demi saya. Andre pun menyampaikan kepada saya: "Ini cara Tuhan membimbing saya menuju kerendahan hati." Andre juga merasa tidak nyaman jika dia menolak kesempatan itu.

Dengan bantuan mereka, kami pun mendapatkan biaya yang cukup untuk pemeriksaan ke Rumah Sakit Umum Dr Sardjito. Dalam beberapa minggu, saya didiagnosa dengan kanker punggung kiri atau sarkoma.

Dalam Sakit dan Sehat

Saya ingat hari ketika saya divonis penyakit itu. Saya tidak merasa takut sama sekali. Malah, saya merasa yakin bahwa saya bisa mengatasi kanker itu.

Saya secara pribadi mengenal orang lain yang sudah berjuang melawan kanker dan menang, dan saya yakin bisa seperti mereka.

Di sisi lain, penyakit saya justru menjadi pukula besar bagi Andre. Dia diliputi oleh keraguan dan rasa bersalah serta bertanya-tanya apakah dia membuat keputusan yang salah dengan meninggalkan pekerjaannya yang bergaji baik sebelumnya.

Dengan berani dia mengesampingkan perasaannya dan saya menyaksikan bagaimana dia merawat saya, memberi saya dukungan yang terbaik.

Kanker sangat menguji pernikahan kami.

Awalnya, saya berasumsi bahwa karena saya mengidap kanker dan mengalami rasa sakit fisik, aku berpikir Andre akan mendengarkan semua keinginan saya.

Tapi kami bertengkar karena tugas-tugas sederhana, mulai dari menggerakkan kursi roda, hingga menangani luka di punggung saya, yang tidak bisa saya lihat kecuali memakai cermin.

Andre pun menyadari bahwa saya kehilangan kemampuan fisik saya. Kami perlahan-lahan belajar untuk mempercayai satu sama lain. Saya sangat bersyukur karena Andre memilih untuk menjaga janji pernikahannya untuk tetap setia dalam sakit dan sehat.


Baca Juga: 

Sakit Puluhan Tahun, Linda Hess Alami Mujizat Kesembuhan Lewat Doa

Kisah Pendeta Said Deeb, Mujizat Tuhan Bekerja Selamatkan Jemaatnya Dari Ledakan di Beirut


Sumber Kekuatan

Kanker saya sembuh setelah pengobatan pada tahun 2012. Tapi kemudian benjolan lain muncul di bahu kiri saya pada tahun 2015. Saya pun menjalani kemoterapi untuk mengobati kankernya.

Lalu kami diperkenalkan dengan satu komunitas missionaris di Singapura bernama Sahabat Orang Sakit (SOS) yang dipimpin oleh Pendeta Indonesia Stephanus Wijaya.

Melalui SOS, pasien Indonesia yang dirawat di rumah sakit Singapura pun mendapat dukungan dan doa. Sebagai seorang pasien, saya bisa memberikan dukungan empati yang tulus dan menjadi sumber kekuatan yang bisa dibagikan kepada sesama pasien.

Mengalami Mujizat Demi Muzizat

Di pertengahan tahun 2016, saya menjalani tinjauan konsultasi setelah proses kemoterapi terakhir saya dan tampaknya dokter yang menangani saya hanya punya sedikit pilihan.

Peluang untuk aku sembuh tampaknya tidak ada, terutama karena kanker sarcoma secara statistik merupakan kanker dengan presentase kesembuhan yang sangat kecil dan penelitian soal kanker ini pun masih belum intensif.

Yang bisa kami lakukan adalah berdoa supaya mujizat terjadi.

Dr. Tony Setiobudi, seorang spesialis ortopedi di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura dan salah satu anggota komunitas SOS. Dia punya jadwal seminar di Yogyakarta dan setuju untuk memberi saya konsultasi medis singkat di sana.

Namun setelah bertemu, dia mendesak saya untuk pergi ke Singapura untuk konsultasi yang lebih tepat. Kami sangat senang dengan kesempatan itu, terutama karena kami sebelumnya mengunjungi Singapura bersama SOS dan melihat infrastruktur canggih dan sumber daya medis yang besar di sana.

Tapi kenyataannya, secara logistik sulit dan mahal untuk pindah ke negara lain dan biaya perawatan medisnya pun sangat mahal.

Namun dengan bantuan yang kami pasang di media sosial, kami akhirnya mendapat dana bantuan dalam dua setengah hari sebesar 10.000 dolar.

Kami merasa sangat diberkati dan iman kami terus diperkuat.

Andre dan saya tiba di Singapura pada 13 Oktober 2016, dan langsung ke rumah sakit untuk pemindaian Positron Emission Tomography (PET).

Hasilnya menunjukkan kalau sel kanker sudah menyebar sampai ke paru-paru saya. Dokter pun tidak bisa melakukan penanganan yang lebih besar.

Kemarahan dan keputusasaan pun menghampiri kami. Saya berpikir bahwa perjalanan kami ke Singapura hanyalah kesia-siaan. Andre bahkan malu pulang ke kampung halaman kami setelah mendapatkan bantuan dari mereka.

Meskipun dalam kepahitan dan kemarahan, saya mau tetap percaya kepada Tuhan dan rencana-Nya. Saat kami berencana untuk pulang, kami justru menerima bantuan keuangan dari Dokter Setiobudi untuk mendanai perawatan medis saya.

Perawatan pun berlanjut. Di titik ini Andre mengingatkan saya pada kisah Daud dan Goliat. Satu-satunya senjata Daud melawan raksasa itu adalah ketapelnya dan batu kecil. Karena doa Daud kepada Tuhan, batu kecil itu diberi kemampuan yang sangat besar untuk membunuh Goliat.

Andre berharap dosis kemoterapi saya seperti batu kecil itu, biar kecil tapi berkuasa mendatangkan pertolongan Tuhan.

Hanya setelah satu kali kemoterapi, ukuran tumornya mengecil. Kami pun begitu gembira. Doa kami terkabul! Sampai saya berhasil melewati tiga kemoterapi lainnya.

Sisa Hidup Hanya Empat Bulan

Pada Maret 2017, saya kembali melanjutkan kemoterapi dan dokter memprediksi sisa hidup saya hanya tinggal empat bulan lagi.

Saya ingin terus berjuang. Akan lebih mudah untuk menerima kematian saya di tingkat spiritual. Kehidupan yang saya jalani bukanlah milik saya, tapi milik Tuhan.

Begitu banyak bantuan yang kami dapatkan dan semua ini hanya karena Tuhan. Dengan itu, saya berusaha untuk tetap teguh dan kuat. Saya menantang diri saya untuk tidak merasa sakit dan menghargai momen-momen positif. Saya memutuskan untuk fokus pada apa yang bisa saya lakukan saat ini, seperti menghabiskan waktu bersama Andre dan menjadi sukarelawan SOS.

Saya mencoba untuk tetap bersyukur dan menemukan maknanya, ini yang membuat saya terus maju. Jika saya pulang kepada sang pencipta, itu berarti bahwa pekerjaan saya di dunia ini sudah selesai.

Saya tidak akan membuat rencana untuk jangka panjang. Saya bersyukur setiap hari.

Augustine Dhirgahayoe Meninggal Dalam Damai

Augustine Dhirgahayoe pun meninggal dengan damai pada 13 November 2017. Perjuangannya melawan kanker yang ditulis lewat sebuah buku Ketika Ketakutan Mengetuk, Biarkan Iman Menjawab sudah banyak menginspirasi hidup orang lain. Andre pun saat ini menjadi sukarelawan bersama SOS dan melakukan perjalanan ke seluruh dunia untuk membagikan kesaksian mereka dan membagikan karab injil.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami