Ini 4 Mitos Soal Vaksin yang Banyak Dipercaya Masyarakat

Ini 4 Mitos Soal Vaksin yang Banyak Dipercaya Masyarakat

Lori Official Writer
200

Waktu kita mencari informasi tentang vaksin di internet, kita akan menemukan banyak informasi. Tapi tidak semua informasi sesuai dengan kebenaran.

Ada 4 mitos seputar vaksin yang sudah banyak dipercaya masyarakat. Karena itu, kita perlu ungkap faktanya.

Mitos 1: Vaksin bisa menyebabkan autisme

Pada tahun 1998, dokter asal Inggris Andrew Wakefield menerbitkan sebuah penelitian di The Lancet yang mengklaim bahwa vaksin campak, gondok dan rubella (MMR) bisa menyebabkan autisme.

Namun klaim itu mulai diuji pada tahun 2004 setelah jurnalis Brian Deer melaporkan konflik kepentingan yang dirahasiakan oleh Wakefield. Bahwa dia ternyata telah mengajukan hak paten atas vaksin campak buatannya dan telah menerima uang dari seorang pengacara yang mencoba menuntut perusahaan pembuat vaksin MMR.

Terkait hal ini, jurnal The Lancet pun dicabut secara resmi pada tahun 2010 dan tak lama dari itu Dewan Medis Umum Inggris secara permanen mencabut lisensi medis Wakefield.

Sayangnya, isu ini kembali mencuat pada tahun 2016 setelah Wakefield merilis film Vaxxed dan menuduh CDC menutup-nutupi fakta bahwa vaksin MMR bisa menyebabkan autisme.

Namun faktanya, CDC menulis dalam jurnalnya bahwa tingkat vaksinasi pada kelompok usia tua sedikit lebih tinggi daripada anak-anak yang menderita autisme. CDC menyampaikan bahwa penyebabnya kemungkinan karena persyaratan imunisasi dari pihak sekolah anak-anak autis.

Kontroversi inipun membuat banyak peneliti melakukan pembuktian. Sehingga pada tahun 2014 Journal of American Medical Association pun menemukan melalui penelitiannya bahwa dari ribuan anak normal yang mendapatkan vaksinasi tidak ada yang mengalami autisme.

Mitos 2: Vaksin menyebabkan flu

Sebagian besar jenis vaksin flu dibuat dengan kandungan virus flu yang dimatikan. Tapi dengan menyuntikkan vaksin ini ke dalam tubuh, bukan berarti virus flu akan hidup dan membuat seseorang flu.

Faktanya adalah vaksin flu yang disuntikkan ke dalam tubuh berfungsi untuk melemahkan virus flu yang ada di dalam tubuh. Dengan itulah setiap orang yang sudah mendapatkan vaksin flu di masa kecil hanya akan mengalami kondisi flu yang tidak membahayakan nyawa. Gejala seperti pilek, sakit kepala, sakit tenggorokan dan batuk hanya akan berlangsung maksimal seminggu dan akan sembuh dengan penanganan obat dan istirahat.


Baca Juga:

Vaksin Dalam Proses Pengujian, Sudah Sejauh Mana?

Optimis Uji Klinis Fase III Berhasil, Ini 5 Fakta Vaksin Sinovac yang Wajib Kamu Tahu!


Mitos 3: Vaksin mengandung racun yang berbahaya

Pada tahun 2005 majalah Rolling Stone dan Salon menerbitkan ulang konspirasi yang dibuat oleh pengacara lingkungan Robert F. Kennedy Jr. (keponakan mantan Presiden John F Kennedy) yang menuduh adanya konspirasi pemerintah karena menutupi fakta bahwa thimerosal atau pengawet yang mengandung merkuri dalam vaksin bisa menyebabkan masalah di otak termasuk autisme.

Meski getol dengan pandangannya, CDC di Atlanta dan WHO mengungkapkan bahwa thimerosal yang digunakan tidak menyebabkan masalah kesehatan pada anak-anak.

Faktanya, vaksin tidak memiliki kandungan lain selain antigen. Sementara formaldehyde dan thimerosal (pengawet yang mengandung merkuri) biasanya digunakan dalam jumlah sangat sedikit untuk membunuh virus saat proses pembuatannya.

Ada juga bahan aluminium yang digunakan untuk membantu vaksin bekerja lebih baik. Sepanjang sejarah pemberian vaksin, belum pernah ditemukan kasus keracunan akibat vaksin.

Mitos 4: Mendapatkan vaksin lebih banyak bisa membahayakan anak usia 2 tahun ke bawah

Kelompok penentang vaksin berpendapat bahwa pemberian vaksin kepada anak di bawah 2 tahun hanya akan merusak sistem kekebalan tubuh anak di awal kehidupannya. Mereka menilai pemberian vaksin kepada anak hanya akan menyebabkan keterlambatan perkembangan saraf dan peningkatan risiko diabetes.

Namun para ahli menolak klaim tersebut. Mereka justru menyampaikan bahwa sistem kekebalan tubuh anak bekerja melawan antigen asing setiap hari. Ada 11 vaksin yang diberikan kepada bayi secara bersamaan hanya mengatasi 0.1% dari sistem kekebalan tubuh anak. Karena itulah, CDC memberikan jadwal vaksinasi sebanyak 19 kali kunjungan dokter selama 6 tahun pertama anak. 12 vaksinasi diantaranya harus dilakukan saat anak berusia dua tahun ke bawah.

Sampai hari ini, khususnya sejak kehadiran virus covid-19, banyak para ahli yang mulai meneliti vaksin yang mampu mengatasi serangan virus tersebut. Walaupun masih dalam proses penelitian, namun ada banyak pihak yang kontra dan menjadikan vaksin sebagai topik yang terus hangat dibicarakan sampai saat ini.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami