Alami KDRT, Bolehkah Orang Kristen Bercerai?

Alami KDRT, Bolehkah Orang Kristen Bercerai?

Puji Astuti Official Writer
677

Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan pada Maret 2019, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan paling tinggi adalah  karena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) atau ranah personal yang mencapai 79% atau berjumlah 3.927 kasus. Yang menarik adalah, berdasarkan artikel yang dirilis oleh VOAIndonesia.com pada Oktober 2019 lalu, korban KDRT lebih memilih untuk bercerai daripada melakukan tuntutan hukum atau jalur pidana.

Pada masa pandemi ini, jumlah kasus KDRT pun dikabarkan meningkat, penyebab ini menjadi salah satu penyumbang meningkatnya jumlah kasus perceraian di masa pandemi. Alasan para korban memilih bercerai, karena mereka menganggap bahwa untuk proses mendapatkan keadilan tidaklah mudah, seperti mengumpulkan bukti dan saksi. 

KDRT dalam rumah tangga baik secara verbal ataupun fisik tidak bisa dianggap enteng. Bahkan kekerasan verbal bisa berdampak parah sama seperti kekerasan fisik, seperti mengalami rasa takut, cemas, letih, stress post traumatic dan juga ganggungan makan dan tidur. 

Tetapi seringkali korban malah mengisolasi diri dan berusaha menyembunyikan bukti penganiayaan yang mereka alami. Atau bahkan pelaku yang berusaha memanipulasi dan mengisolasi korban sehingga apa yang ia lakukan tidak pernah terungkap selama bertahun-tahun. 

Perceraian dan kekerasan, adalah dua hal yang dibenci Tuhan

Lalu bagaimana dengan pandangan Kristen terhadap perceraian karena kasus KDRT ini?

Dalam Maleakhi 2:16 dituliskan : Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel--juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!

Tuhan memang membenci perceraian, tapi Tuhan juga sama bencinya kepada mereka yanga melakukan kekerasan kepada pasangannya. Tuhan tidak kompromi terhadap mereka yang menindas orang yang lemah, karena Dia yang menjadi tempat perlindungan mereka. Hal ini juga berlaku dalam rumah tangga. 

Jadi, jika Tuhan membenci tindakan kekerasan dan penindasan, apakah Dia akan membiarkan salah seorang anak-Nya terus menerus mengalaminya? Tentu tidak! 

Tuhan saja mendengar dan menjawab seruan umat Israel yang ditindas selama ratusan tahun oleh Firaun, dan mengutus Musa untuk membawa mereka keluar dari Mesir, tentu Dia akan memberikan keadilan dan kelepasan kepada mereka yang juga mengalami KDRT, baik korbannya adalah istri, suami atau anak-anak. 

Seorang teolog dari kalangan Injili, Wayne Grudem menyatakan bahwa dirinya mengubah pandangannya tentang masalah perceraian yang hanya bisa dilakukan hanya karena dua sebab, yaitu : perzinahan (Matius 19:9) dan orang yang tidak seiman yang ingin bercerai dari pasangannya, ia menambahkan bahwa KDRT bisa menjadi alasan yang diijinkan Alkitab untuk bercerai, hal ini ia paparkan dala presentasinya yang berjudul, “Grounds for Divorce: Why I Now Believe The Are More than Two.”

“Istri saya Margaret dan saya menjadi sadar karena beberapa contoh menyedihkan seperti pelecehan dan hinaan seksual kejam yang terjadi selama beberapa dekade, dan kasus lain penganiayaan fisik yang juuga terjadi selama beberapa dekade,” demikian ungkapnya kepada ChristianityToday.com.

“Dalam semua kasus ini pasangan yang mengalami penindasan tetap diam, karena percaya bahwa tugas orang Kristen adalah mempertahankan pernikahan kecuali karena perzinahan dan ditinggalkan,  yang memang tidak terjadi,” demikian tambahnya.

Baca juga :

Viral Istri Pukuli Suami Sakit Stroke, Ini 5 Alasan KDRT Terjadi

Biar Pernikahan Jauh Dari KDRT, Yuk Bangun Hubungan di Rumah Dengan 4 Kebiasaan Ini…

Walau demikian ia memperjelas bahwa tujuan utamanya tetap pemulihan hubungan ketika pertanyaan tentang perceraian muncul. Jika ada orang yang melakukan tindakan kekerasan pada pasangannya, konseling dan disiplin dari gereja harus dilakukan, tetapi jika kekerasan tidak berhenti maka pemimpin gereja harus mempertimbangkan untuk memberi dukungan  jika korban ingin bercerai. 

Fokus dahulu untuk menyelamatkan korban dari KDRT

Dalam Yeremia 3:8, Tuhan berfirman melalui Yeremia bahwa “Dilihatnya, bahwa oleh karena zinahnya Aku telah menceraikan Israel, perempuan murtad itu, dan memberikan kepadanya surat cerai..” 

Apa perzinahan yang membuat Tuhan menceraikan umat pilihan-Nya itu? Dalam Yeremia 2:34 dituliskan salah satunya adalah karena “pada bajumu terdapat darah orang-orang miskin yang tidak bersalah;” 

Tindakan menindas orang lemah seperti penganiayaan, perbudakan, dan ketidakadilan adalah hal yang jahat di mata Tuhan. Jika karena semua itu Tuhan saja menceraikan umat pernjanjian-Nya itu, bukankah Tuhan yang menjadi pelindung bagi orang teraniaya juga akan berjuang untuk melindungi mereka yang mengalami KDRT, termasuk jika harus bercerai?

Pernikahan adalah hal yang sakral dan seharusnya menjadi gambaran antara Kristus dan jemaat. Namun jika yang muncul adalah gambaran Firaun yang memperbudah bangsa Israel, maka ada sesuatu yang salah. 

Perceraian adalah kenyataan yang menyedihkan dan tidak diinginkan siapapun ketika mereka memasuki sebuah pernikahan, namun jika KDRT terjadi, maka korban harus dilindungi dan diselamatkan.  Kekerasan dalam rumah tangga bukanlah ranah pribadi lagi, karena hal itu sudah merupakan tindakan kriminal, dan di Indonesia ini pelaku bisa dituntut pidana karena tindakannya. 

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa kasih Kristus bisa mengubah kehidupan, termasuk pernikahan, dimana banyak kesaksian orang yang bercerai namun akhirnya mereka rujuk kembali. Namun saat KDRT terjadi, kita sebagai orang Kristen harus fokus untuk menyelamatkan korban terlebih dahulu, lebih dari bagaimana menyelamatkan pernikahannya. 



Kamu sedang dalam pergumulan dan butuh dukungan doa? Klik link dibawah ini untuk terhubung dengan tim doa kami https://bit.ly/InginDidoakan

Kamu butuh teman curhat dan membutuhkan pertolongan Tuhan? Klik link dibawah ini untuk konseling dengan konselor kami http://bit.ly/inginKonseling

Sumber : Berbagai Sumber | Jawaban.com

Ikuti Kami