Marah Bisa Menimbulkan Trauma Pada Anak Lho.. Gimana ya Cara Marah yang Aman?

Marah Bisa Menimbulkan Trauma Pada Anak Lho.. Gimana ya Cara Marah yang Aman?

Claudia Jessica Official Writer
437

Biasanya, apa sih yang kamu lakukan pertama kali ketika marah terhadap anak? Berteriak? Menghela nafas? Atau memukul?

Seiring dengan pertumbuhan anak, tentu saja ada banyak tingkahnya yang membuat orang tua merasa lelah ketika mengurus anak hingga membuat orang tua menjadi marah.

Tapi tahukah kamu, marah kepada anak dapat menyebabkan trauma pada anak? Apa saja sih, dampak psikologis terhadap ibu dan anak ketika orang tua marah?

Ibu

Pertama, ibu dapat merasakan penyesalan ketika sudah membentak anak. Terutama, jika anak menangis setelahnya.

Kedua, ibu menjadi merasa putus asa dan ada rasa tidak mampu melakukan yang rerbaik. Biasanya, ibu akan melakukan afirmasi negatif terhadap dirinya sendiri.

Ketiga, muncul rasa frustasi yang kika dibiarkan, dapat berujung menjadi depresi dan melampiaskan kemarahan kepada anak.

Anak

Pertama, anak bertumbuh menjadi privadi yang negatif dan bisa menjadi anak yang abusive terutama bagi orang tua yang melampiaskan emosi secara verbal. Kedepannya, anakcakan dengan mudah dapat melakukan bullying dalam pergaulannya.

Kedua, menurunkan rasa percaya diri sehingga membuat anak merasa tidak dicintai serta merasa hampa ketik dirinya dicintai.

Ketiga, anak cenderung merasa cemas dan tidak mampu mengelola emosi dengan sehat

Keempat, anak bisa mengalami trust issue karena ia merasa tidak memiliki berlabuh mengekspresikan emosinya serta tempat untuk berlindung.

Lantas jika demikian, bagaimana caranya supaya anak tidak trauma karena dimarahi oleh orang tua?

1. Lakukan 3P

Ketika kamu merasa amarah tengah memuncak, ingat 3 step berikut ini:

- Pause: berhenti dan amati diri sendiri serta tindakan anak yang membuat kamu kesal.

- Process: sadari apa yang dirasakan oleh tubuh. Misalnya, badan menjadi berkeringat, jantung berdebar lebih cepat atau hal-hal lainnya. Saat kamu merasa marah, kenakan kasih.

- Proceed: lakukan bagaimana cara kamu meresponi kemarahanmu.

2. Metode SWITCH

Metode ini dapat dilakukan ketika keadaan sudah tenang dan terkendali.

- Stop; berhenti sejenak, lalu posisikan diri sejajar dengan anak. Kemudian lakukan kontak mata yang penuh kasih dan ketegasan.

- Wait; tunggu hingga anak membalas kontak mata dan mengerti bahwa orang tuanya hendak berbicara.

- Instruction; berikan instruksi jelas, padat serta singkat mengenai apa keinginan atau harapanmu untuk anak lakukan. Misalnya: "Mama mau, kamu membereskan mainan kamu setelah selesai bermain ya," lakukan ini sekali saja.

- Time to talk; tanyakan kembali pada anak tentang instruksi yang tadi kamu berikan sebagai penegasan bahwa dia mendengarkanmu dengan baik, misalnya "Kak, tadi mama bilang apa? Coba diulangi deh."

- Checking; lihat bagaimana respon anak terhadap perkataanmu.

- Honor; berikan anak pujian ketika dia telah melakukan tugasnya sebagaimana yang telah kamu bicarakan sebelumnya. Hal ini sering kali disepelekan. Namun sikap menghormati dan menghargai keberadaan anak serta perasaannya, dapat meningkatkan kepercayaan diri anak.


Baca juga:

Sebagai Berkat Dari Tuhan, Orangtua Patut Perlakukan Anak Dengan 3 Tindakan Ini

Demi Selamatkan Adiknya, Anak 9 Tahun Ini Rela Diserang Anjing dan Dapatkan 90 Jahitan


Tonjolkan satu nilai yang ingin diterapkan. Misalnya: "Wah, kakak hebat ya sudah bisa bertanggungjawab membereskan mainannya sendiri."

Selain itu, orang tua juga bersedia meminta maaf setelah memarahi anak. Lakukan sekali dengan tegas agar lebih efektif dan meyakinkan dibanding minta maaf berulang kali.

Sumber : id.asianparent

Ikuti Kami