Red Sea Miracle II, Film Pembangun Iman tentang Kitab Keluaran

Red Sea Miracle II, Film Pembangun Iman tentang Kitab Keluaran

Claudia Jessica Official Writer
680

Penyebrangan Laut Merah adalah salah satu kisah Alkitab yang terkenal sekaligus kisah yang paling diejek oleh banyak sarjana modern yang tidak hanya menyangkal mujizat terbelahnya laut, tetapi juga kisah Alkitab tentang ratusan ribu orang Ibrani diperbudak.

Red Sea Miracle II adalah sekuel film Red Sea Miracle I. Red Sea Miracle II yang dibuat oleh Tim Mahoney ini memeriksa bukti arkeologis untuk penyebrangan Laut Merah dan juga berbagai situs di mana hal itu mungkin terjadi. Red Sea Miracle II akan disiarkan secara online mulai 17 Juli.

Inilah 3 alasan kenapa kamu harus menonton Red Sea Miracle II:

1. Cenderung kepada Alkitab

Mahoney mewawancarai banyak cendekiawan dari berbagai kamp, namun ia kembali kepada Alktitab secara teratur. Ia bertanya kepada berbagai para ahli bagaimana sudut pandang mereka sesuai dengan Kitab Suci.

“Jika cerita Alkitab memberitahu kita sesuatu yang terjadi, dan jika Alkitab menggambarkan dirinya sebagai dokumen sejarah, maka harus ada pola bukti yang bisa kamu temukan,” katanya kepada crosswalk.

Para cendekiawan kamp ‘Mesir’ percaya bahwa orang-orang Ibrani menempuh perjalanan pendek di sepanjang rute dari Mesir ke perairan di utara Teluk Suez. Mereka berpendapat bahwa Allah membelah laut dengan cara hukum alam yaitu dengan angin besar.

Sedangkan pada cendekiawan di kamp ‘Ibrani’ menyatakan bahwa orang Ibrani menempuh jarak yang lebih jauh dengan menempuh rute melalui padang pasir semenanjung Sinai ke Teluk Aqaba (yang terletak di sebelah timur Teluk Suez). Mereka berpendapat bahwa Allah membelah laut melalui cara-cara supernatural.

"Saya pribadi condong ke arah pendapat kamp Ibrani dan pandangannya tentang Keluaran dalam skala besar, karena saya pikir itu cocok dengan apa yang dijelaskan Alkitab," kata Mahoney dalam film itu.

Mahoney mengaku bahwa dia senang mewawancarai orang-orang dari berbagai sudut pandang.

"Ketika kamu berbicara dengan orang-orang dari berbagai sudut pandang, audiensi menjadi bebas untuk membuat keputusan," katanya. "Dan yang saya temukan adalah bahwa film saya lebih kuat ketika ada lebih banyak pilihan."

Sumber : crosswalk.com

Ikuti Kami