Tiadakan Ibadah Sampai Awal 2021, Pendeta Ini Fokuskan Gerejanya Bangun Komunitas Online

Tiadakan Ibadah Sampai Awal 2021, Pendeta Ini Fokuskan Gerejanya Bangun Komunitas Online

Lori Official Writer
734

Megachurch North Point Ministries mengumumkan bahwa gerejanya tidak akan menggelar ibadah tatap muka sampai akhir tahun 2020 ini. Kabar inipun menjadi perbincangan luas di antara pemimpin gereja di Amerika Serikat.

Untuk menjawab beragam tanggapan, Pendeta Senior Andy Stanley pun memaparkan alasannya dalam sebuah wawancara khusus.

"Sebagai gereja lokal, kami punya waktu terbatas, staf terbatas, dan sumber daya terbatas; tidak masuk akal untuk memfokuskan waktu dan sumber daya staf kami untuk menciptakan lingkungan di bawah standar pada hari Minggu pagi untuk layanan jam 9 dan 11 yang hanya dihadiri oleh 20% orang," kata Stanley.

Selain memikirkan tentang ketidakefektifan waktu untuk mengadakan ibadah tatap muka, rencana penangguhan ibadah ini juga didasarkan pada hasil survei yang didapat baru-baru ini.

“Dua minggu lalu, kami melakukan survei. Inilah hal yang menarik: sekitar 15% lebih sedikit orang dalam survei kedua mengatakan mereka siap untuk kembali (ke gereja). Tapi kecenderungan untuk kembali itu kurang. Itu membantu kami membuat keputusan untuk memfokuskan 100% waktu dan energi kami untuk menciptakan komunitas online. Kami akan mengadakan beberapa pertemuan di kampus, tapi pertemuan itu dalam ukuran yang kecil,”jelasnya.

Langkah ini, kata Stanley, juga membantu gereja untuk menjamin keamanan semua jemaat dari penularan virus. Dalam sebuah video pengumuman, dia menyampaikan kepada jemaatnya bahwa jika North Point membuka kembali ibadah, hanya sebagian kecil dari gereja yang bisa hadir dan gereja sama sekali tidak bisa menjamin keamanan para jemaat. Selain itu, membuka ibadah gereja juga akan menempatkan para pemimpin di posisi yang sulit secara logistik jika jemaat ternyata positif.

“Kami tidak ingin secara tidak sengaja melakukan sesuatu yang berbahaya bagi komunitas kami dalam perkumpulan banyak orang. Dalam keadaan ini, Anda benar-benar berisiko melakukan sesuatu yang negatif kepada komunitas dan mengumpulkan 20% yang hadir tidak akan berdampak apa-apa bagi komunitas,” jelasnya.

Karena itulah, di masa-masa pandemi ini gerejanya akan mengalihkan fokus untuk melayani keluar gereja yaitu masyarakat. Dengan terlibat bersama badan amal yang sudah bermitra dengan gereja dan mengumpulkan donasi untuk bantuan.

“Ini adalah kesempatan luar biasa bagi gereja untuk terlihat berbuat baik. Ini penting. Tidak cukup bagi gereja untuk berbuat baik. Gereja harus terlihat berbuat baik…Mari kita fokus melakukan banyak hal untuk masyarakat. Tapi pada saat yang sama kita tidak hanya menghadiri pertemuan zoom,” jelasnya.


Baca Juga: 

Positif Corona, Presiden Brazil Dikritik Karena Buka Masker Saat Ucapkan Terima Kasih

 

Dilarang Bernyanyi di Gereja, Pendeta Megachurch Ini Ajak Umat Kristen California Bersatu


Stanley meyakini bahwa di tengah masa-masa ini Tuhan akan terus membangun gerejanya menjadi semakin kuat saat kembali dibuka di tahun 2021 mendatang.

“Saya benar-benar yakin bahwa gereja-gereja lokal kita tidak hanya akan bertahan dari pandemi ini, tapi saya pikir pada akhirnya kita akan berkembang,” ungkapnya.

Tentu saja North Point Ministries tidak sendiri. Karena hasil survei yang dilakukan oleh lembaga riset Barna Group baru-baru ini menemukan bahwa terdapat 5% dari pendeta yang memilih untuk tidak membuka kembali gerejanya tahun ini.

Walaupun ada banyak orang yang berpikir bahwa langkah ini sebagai bentuk ketakutan. Tapi Stanley menegaskan keputusan menahan diri untuk tidak membuka gereja semata-mata didasarkan pada data, analisa dan juga untuk menjaga gereja sebagai tetangga yang baik bagi masyarakat.

“Saya tidak percaya pada teori konspirasi sama sekali. Saya pikir kita harus menjadi tetangga yang baik dan pemimpin masyarakat yang baik dan menjadi tangan dan kaki Yesus di masa-masa sulit,” pungkasnya.

Sumber : Berbagai Sumber | Jawaban.com

Ikuti Kami