Situasi Masih Genting, Pemerintah Minta Pemimpin Agama Persingkat Khotbah Saat Ibadah

Situasi Masih Genting, Pemerintah Minta Pemimpin Agama Persingkat Khotbah Saat Ibadah

Lori Official Writer
701

Rencana pembukaan rumah ibadah di bulan Juli ini tampaknya masih kurang tepat. Pasalnya, di awal bulan ini jumlah positif corona justru makin meningkat.

Di tengah situasi genting inilah, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta masyarakat tidak berlama-lama di ruang tertutup seperti rumah ibadah. Untuk itulah dia meminta pemimpin agama juga untuk mempersingkat khotbahnya.

"Saya menghimbau agar khotbah salat jumat atau ibadah lain dipersingkat, termasuk bacaan yang biasa panjang diperpendek. Jangan sampai mikro droplet tak segera keluar dari ruangan,’ kata Muhadjir.


Keterangan: Menko PMK Muhadjir Effendy

Menyusul pembukaan rumah-rumah ibadah sejak awal Juli 2020 ini, dia mengingatkan bahwa dalam situasi genting saat ini penting untuk menyadari bahaya penularan virus yang bisa terjadi melalui udara.

“Kita bisa bayangkan berapa juga atau miliar Covid-19 berterbangan, kemudian orang kalau tidak pakai masker bisa mengisap itu, dan itu menjadi sumber mikro droplet," katanya.

Dia menambahkan pentingnya sosialisasi terus menerus kepada umat beragama, seperti yang dihimbau oleh Presiden Jokowi. “Bapak Presiden menggarisbawahi pentingnya sosialisasi edukasi yang lebih intens,” jelasnya.


Baca Juga: 

Tunda Pembukaan Gereja Katolik Sampai Juli, Ini Alasan Keuskupan Agung Jakarta

 

Bangun Kerja Sama Selama Pandemi, Menag Apresiasi Kerja Keras Majelis Agama dan FKUB


Sosialisasi ini bukan hanya pekerjaan pemerintah, tapi juga keterlibatan semua pihak mulai dari para ilmuwan sampai tokoh agama. Penyampaikannya juga diharapkan bisa memakai bahasa yang mudah dimengerti seperti penggunaan bahasa dan simbol yang akrab dengan masyarakat.

“Dengan gunakan bahasa dan simbol-simbol lokal agar mudah ditangkap dan dipahami masyarakat. Karena itu, keterlibatan ilmuwan seperti sosial, antropolog, sosiolog, kependudukan dan perguruan tinggi harus diminta untuk terlibat. Termasuk tokoh pemuka agama agar sosialisasi pesan-pesan tentang penanggulangan Covid betul-betul bisa diterima masyarakat,” lanjutnya.

Himbauan dari Menko PMK Muhadjir ini memang perlu dilakukan. Apalagi menyusul kasus 12 orang dinyatakan positif terpapar setelah menghadiri acara pemberkatan nikah di sebuah klinik di kota Kediri pada 19 Juni 2020 lalu.

Virus Covid-19 itu diduga berasal dari sang pendeta dan 6 orang lainnya yang datang dari Jakarta. Virus itu diduga terpapar karena ruangan acara yang dihadiri 32 orang itu tertutup.

Yang paling penting adalah gereja-gereja yang sudah mulai dibuka sejak awal Juli ini tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti protokol kesehatan. Mari menjadi pemimpin gereja dan umat Tuhan yang saling menjaga dan berhikmat di tengah kondisi yang kita jalani saat ini.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami